Konsep Kepemimpinan Siliwangi di Tanah Sunda

Kata, makna, sabda Military Enthusiast
Tulisan dari Bagas Putra R tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto: Wikipedia
Euforia Pemilihan umum Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Barat 2018 mulai menggema. Masing - masing Cagub dan Cawagub telah diumumkan oleh Komisi Pemilihan Umum Propinsi Jabar, Senin (12/2/2018) Kumparan (Kumparan.com).
Dalam acara yang bertajuk Debat Publik Cagub dan Cawagub Jabar yang digelar oleh KPU Propinsi Jawa Barat di Gedung Sabuga, Kota Bandung, Senin (12/3/2018), masing - masing pasang Cagub dan Cawagub Jabar diberikan kesempatan memberikan gagasan dan visi-misi mereka untuk memimpin Jawa Barat selama 5 tahun ke depan.
Pada salah satu sesi, masing-masing kandidat calon saling memberikan pertanyaan dan saling menanggapi jawaban lawan mereka. Latar belakang masing-masing kandidat mempengaruhi gagasan yang mereka sampaikan pula. Salah satunya ketika Dedi Mulyadi, Cawagub nomor urut 4 yang berpasangan dengan Dedi Mizwar.
Dedi Mulyadi menanggapi jawaban paslon nomor urut 3 dengan perspektif budaya Sunda tentang keamanan dan intolerasi umat beragama di Jabar. Dikutip dari akun youtube KompasTV dalam sesi debat Dedi Mulyadi menyampaikan bahwa masyarakat sunda telah memiliki spirit keamanan yang berasal dari prinsip dasar Siliwangi, yaitu silih asah, silih asih, silih asuh. Kasus-kasus intoleransi yang terjadi di Tanah Sunda menurutnya karena penetrasi budaya luar yang tidak dapat dibendung oleh masyarakat, sehingga merusak sistem nilai sosial-budaya yang sudah ada (12/3).
Apakah sesungguhnya makna silih asah, silih asih, silih asuh?
Secara bahasa, kata silih dalam Bahasa Sunda berarti "saling". Kata asih berarti kasih, kata asah berarti menajamkan atau mengasah dan kata asuh berarti mengasuh. Sederhananya konsep silih asah, silih asih, silih asuh mengandung makna sebagai suatu nilai budaya yang mengajarkan manusia untuk hidup saling menyayangi, saling mengasah akal, karsa dan pengetahuan serta saling mengasuh dan merawat.
Banyak kajian historis yang menyebutkan konsep silih asah, silih asih, silih asuh merupakan konsep dalam kebudayaan Sunda Wiwitan pada masa Prabu Siliwangi. Nama Prabu Siliwangi muncul sebagai nama ganti atau nama gelar di beberapa naskah klasik Sunda, seperti Naskah Pamarican, Waruga Jagat, Babad Pajajaran dan Babad Siliwangi.
Kata Siliwangi berasal dari kata asilih dan wewangi atau wawangi. Istilah wawangi dalam Babad Siliwangi digunakan untuk seorang tokoh yang kharismatik dan memiliki nama yang harum. Siliwangi identik dengan nama gelar seorang raja yang bernama Prabu Jayadewata atau Sri Baduga Maharaja yang berkuasa di kerajaan Sunda Pakuan Pajajaran (1482-1521).
Dalam Pantun Bogor Ngahyangan Pajajaran juga diceritakan Raja Prabu Siliwangi yang memimpin Pajajaran dengan jujur dan adil. Kondisi masyarakatnya aman, tentram dan sejahtera. Prabu Siliwangi membangun kerajaan dengan keadaan masyarakat yang silih asah (saling mempertajam pengetahuan), silih asih (saling mengasihi), dan silih asuh (saling menjaga dan melindungi).
Jika dicermati lebih dalam, konsep silih asah, silih asih, silih asuh merupakan manifestasi dari konsep kepemimpinan budaya Sunda. Konsep Kepemimpinan yang mengajarkan bahwa seorang pemimpin harus dapat mewujudkan masyarakat yang majemuk dengan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan terhadap sesama. Tujuannya untuk mencapai keharmonisan dalam hubungan sosial yang saling membutuhkan dan memberdayakan satu sama lain.
Penulis berpendapat bahwa silih asah, silih asih, silih asuh merupakan bentuk kepasrahan diri seorang manusia sebagai makhluk Tuhan yang tidak berdaya tanpa pertolongan Sang Pencipta. Untuk itu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan menjalin hubungan timbal balik kepada sesama. saling mengasah akal dan pengetahuan , saling mengasihi dan menolong, dan saling memelihara silaturahmi untuk membangun kualitas kemanusiaan.
Silih asah, silih asih, silih asuh merupakan kearifan lokal masyarakat Sunda, namun nilai-nilai yang terkandung bersifat universal dalam kehidupan sehari-hari.(BP)
