Konten dari Pengguna

Dari Rasa Bersalah ke Pemulihan: Cerita tentang Siklus Adiksi

Bagus Aditya Nugroho

Bagus Aditya Nugroho

I am a passionate writer, creator, podcaster, and psychology activist. With a strong dedication to raising awareness on mental health and psychological well-being, I create meaningful content that aims to educate, inspire, and empower others.

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Bagus Aditya Nugroho tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Photo by Wojtek Pacześ from Pexels: https://www.pexels.com/photo/grayscale-photo-of-a-man-covering-his-face-6224814/
zoom-in-whitePerbesar
Photo by Wojtek Pacześ from Pexels: https://www.pexels.com/photo/grayscale-photo-of-a-man-covering-his-face-6224814/

Aku pernah berpikir bahwa berhenti hanyalah soal niat. Namun semakin keras mencoba, semakin sering aku kembali mengulanginya.

Aku sudah mencoba banyak cara. Menonton video motivasi, mencari tips mengatasi kecanduan, hingga membuat janji pada diri sendiri bahwa semuanya akan berhenti malam itu juga. Namun hasilnya sering kali tetap sama: aku kembali jatuh pada kebiasaan yang sebenarnya ingin kuhindari.

Entah itu kecanduan konten pornografi, game, rokok, atau bentuk pelarian lainnya, semuanya memiliki pola yang hampir serupa. Awalnya terlihat biasa saja, bahkan terasa menyenangkan. Namun perlahan, kebiasaan itu berubah menjadi tempat pelarian setiap kali rasa bosan, stres, atau tekanan hidup datang.

Sebelum mengenal berbagai bentuk kecanduan itu, hidup terasa lebih ringan. Hal-hal sederhana masih bisa membuatku merasa cukup bahagia. Namun ketika stres mulai datang dan emosi tidak dikelola dengan baik, aku mulai mencari pelarian instan untuk menenangkan diri.

Tanpa sadar, pelarian itu berubah menjadi siklus yang melelahkan: stres, melakukan kebiasaan itu lagi, menyesal, lalu mengulanginya kembali.

Kalimat seperti “satu kali ini saja” menjadi sesuatu yang sangat mudah dipercaya. Padahal justru dari situlah kebiasaan itu tumbuh semakin kuat.

Dampaknya pun perlahan mulai terasa. Fokus menurun, motivasi hilang, hubungan sosial terganggu, bahkan terkadang sulit membedakan mana kebutuhan nyata dan mana sekadar dorongan sesaat.

Namun di tengah semua itu, aku mulai menyadari satu hal penting: ketika seseorang sadar bahwa dirinya sedang terjebak dan ingin berubah, itu sebenarnya sudah menjadi langkah awal untuk pulih.

Karena pemulihan tidak selalu dimulai dari keberhasilan besar, tetapi dari kesadaran bahwa ada sesuatu dalam diri yang perlu diperbaiki.

Sejak saat itu, stres yang tidak bisa dikelola dengan baik akan menjadi penyebab kita lari ke salah satu kecanduan tersebut. Kecanduan tersebut seharusnya kita tidak dekati, tetapi nyatanya kita seperti tidak memiliki kesalahan di balik itu semua.

Hari demi hari ketika sudah mencoba hal a lalu merasakan bahwa kita sadar kita kecanduan. Siklusnya seperti :stres → melakukan → menyesal → mengulang lagi.

Kita pernah mendengar "satu kali ini saja"

Kita sangat mudah menuruti nya dan hal tersebut menjadi kebiasaan kita dan pada akhirnya kita merasa harus pulih dari kecanduan tersebut.

Dampak yang kita rasakan semestinya beragam. Ada yg sulit fokus, tidak memiliki pasangan, sulit untuk bersosialisasi, dan parahnya tidak dapat membedakan realita dan fantasi.

Ketika kita sadar bahwa hal tersebut berpola, dan ingin memutus siklus tersebut, itu merupakan kemajuan. Kenapa? karena kesadaran merupakan kunci untuk kembali ke jalan yang benar.

“Aku mulai sadar bahwa melawan adiksi bukan tentang menang dalam satu malam, tetapi tentang bertahan setiap hari.”

Mendengar kata kata tersebut, kita semestinya langsung sadar bahwa untuk melawan adiksi atau kecanduan perlu tekad yang kuat dan tahan banting. Jika tidak memiliki hal hal tersebut cara memunculkannya bagaimana?

Caranya yang paling simpel yaitu sadari dulu dan catat apa saja yang dapat memicu kamu. Lalu cari role model untuk dapat inspirasi kamu untuk bertekad kuat.

Cara Mulai Mengatasi

Aku mulai sadar bahwa melawan adiksi tidak bisa hanya mengandalkan niat sesaat. Berkali-kali aku berkata “ini terakhir,” tetapi akhirnya kembali jatuh pada pola yang sama. Dari situ aku belajar bahwa yang perlu diubah bukan hanya kemauan, tetapi juga lingkungan dan kebiasaan sehari-hari.

Aku mulai mencoba hal-hal kecil. Mengurangi hal-hal yang menjadi pemicu, membatasi waktu bermain media sosial, dan mengisi waktu kosong dengan aktivitas lain agar pikiranku tidak terus kembali ke kebiasaan lama. Kadang aku memilih berjalan keluar rumah, olahraga ringan, menulis isi kepala di jurnal, atau sekadar memaksa diri tetap sibuk dengan hal yang lebih sehat.

Di beberapa malam yang terasa berat, aku juga belajar untuk berhenti memusuhi diriku sendiri. Selama ini aku terlalu fokus menekan dorongan, tetapi tidak pernah benar-benar memahami apa yang sebenarnya sedang kurasakan. Ternyata ada rasa lelah, kesepian, cemas, bahkan kecewa pada diri sendiri yang selama ini hanya kututup dengan pelarian sesaat.

Aku belum menemukan cara yang sempurna. Namun setidaknya sekarang aku mulai mengerti bahwa proses pemulihan bukan tentang menjadi manusia tanpa gagal, melainkan tentang terus mencoba kembali meski berkali-kali ingin menyerah.

Pemulihan Tidak Selalu Lurus

Ada hari-hari ketika semuanya terasa membaik. Aku merasa lebih tenang, lebih fokus, dan mulai percaya bahwa diriku bisa berubah. Namun di hari lain, aku kembali jatuh pada kebiasaan yang sama dan merasa sangat kecewa pada diri sendiri.

Dulu setiap kegagalan selalu membuatku berpikir bahwa semua usahaku sia-sia. Aku merasa lemah, gagal, dan tidak pantas berharap untuk berubah. Tetapi semakin lama aku menjalani proses ini, aku mulai sadar bahwa pemulihan memang tidak berjalan lurus. Kadang seseorang harus jatuh berkali-kali sebelum benar-benar memahami cara bangkit.

Aku belajar untuk menghargai kemajuan kecil. Satu hari bertahan tetap berarti. Satu keputusan untuk tidak menyerah juga berarti. Karena pada akhirnya, perubahan besar sering kali dibangun dari langkah-langkah kecil yang terus diulang setiap hari.

Dan mungkin bagian tersulit dari proses ini bukan melawan adiksi itu sendiri, tetapi belajar memaafkan diri sendiri ketika keadaan tidak berjalan sesuai harapan.

Penutup Reflektif

Adiksi tidak selalu terlihat dari luar. Banyak orang tampak baik-baik saja, tertawa seperti biasa, menjalani aktivitas seperti normal, padahal diam-diam sedang berperang dengan dirinya sendiri setiap hari.

Aku menulis ini bukan karena merasa sudah sepenuhnya sembuh, tetapi karena aku tahu rasanya terjebak dalam lingkaran yang melelahkan. Rasanya ingin berhenti tetapi tidak tahu bagaimana caranya. Rasanya lelah dengan diri sendiri, tetapi tetap harus bangun dan menjalani hidup seperti biasa.

Mungkin proses pemulihan memang lambat. Mungkin ada banyak jatuh sebelum benar-benar pulih. Namun selama seseorang masih mau mencoba kembali, harapan itu sebenarnya belum hilang.

Aku belum sepenuhnya selesai dengan proses ini, tetapi setidaknya sekarang aku tahu bahwa diriku masih layak diperjuangkan.