Hijrah Bukan FOMO: Jalan Sadar Menuju Perubahan Diri

I am a passionate writer, creator, podcaster, and psychology activist. With a strong dedication to raising awareness on mental health and psychological well-being, I create meaningful content that aims to educate, inspire, and empower others.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Bagus Aditya Nugroho tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Saya tidak pernah menyangka sebuah lagu bisa menjadi titik balik dalam hidup saya. Saat pertama kali mendengar lagu “Rahmatin Lil Alamin” dari Maher Zain, ada rasa sejuk yang sulit dijelaskan, seolah hati saya sedang dipanggil untuk kembali.
Sebelum itu, saya menjalani hidup seperti kebanyakan orang pada umumnya. Tidak terlalu dekat dengan agama, tidak juga benar-benar jauh. Semuanya terasa biasa saja. Namun, momen kecil itu perlahan mengubah cara saya memandang hidup. Saya mulai merasakan ketenangan ketika mendekat kepada Allah, sesuatu yang sebelumnya tidak pernah benar-benar saya rasakan.
Dari situlah perjalanan hijrah saya dimulai.
Hijrah, bagi saya, bukan perubahan instan. Ia adalah proses. Saya mulai belajar, memahami, dan mencoba memperbaiki diri sedikit demi sedikit. Ada rasa bahagia yang berbeda—bukan karena hidup menjadi lebih mudah, tetapi karena hati menjadi lebih tenang. Bahkan, saya merasa seperti menemukan kembali diri saya sendiri.
Dalam Al-Qur’an disebutkan:
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
(QS. Al-Baqarah: 218)
Ayat ini membuat saya sadar bahwa hijrah bukan sekadar perubahan lahiriah, tetapi perjalanan menuju harapan akan rahmat Allah.
Namun, di tengah tren hijrah yang semakin populer saat ini, muncul satu fenomena yang perlu kita renungkan bersama: hijrah karena FOMO (Fear of Missing Out). Tidak sedikit orang yang berubah karena takut tertinggal tren, ingin terlihat baik di mata orang lain, atau terdorong oleh lingkungan sosial dan media.
Padahal, Rasulullah ﷺ telah mengingatkan melalui hadits yang diriwayatkan oleh Umar bin Khattab:
“Sesungguhnya setiap amal tergantung pada niatnya…”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Dari sini kita belajar bahwa inti dari hijrah adalah niat. Jika hijrah hanya didorong oleh faktor eksternal, maka ia cenderung rapuh. Sebaliknya, hijrah yang berangkat dari kesadaran dan keikhlasan akan lebih kokoh dan bertahan lama.
Dalam perjalanan tersebut, saya juga memahami bahwa rasa lemah iman atau futur adalah hal yang manusiawi. Semangat tidak selalu stabil. Ada saat di mana kita merasa dekat, dan ada saat di mana kita merasa jauh. Namun, yang terpenting bukanlah seberapa tinggi semangat kita, melainkan seberapa konsisten kita menjaga langkah.
Hal-hal kecil seperti menjaga salat tepat waktu, berdzikir, memilih lingkungan yang baik, serta mengurangi distraksi negatif menjadi kunci untuk tetap bertahan. Hijrah bukan tentang perubahan besar dalam waktu singkat, tetapi tentang konsistensi dalam langkah kecil.
Selain itu, memiliki teman atau lingkungan yang mendukung juga sangat penting. Dalam proses hijrah, kita tidak bisa berjalan sendirian. Kita membutuhkan support system yang saling mengingatkan dan menguatkan.
Pada akhirnya, hijrah bukanlah tentang mengikuti tren, melainkan tentang kembali. Kembali kepada Allah, kembali kepada diri yang lebih baik, dan kembali kepada tujuan hidup yang sebenarnya.
Mungkin kita pernah salah niat. Mungkin kita pernah lemah. Bahkan mungkin kita pernah jatuh kembali. Namun, hijrah bukan tentang menjadi sempurna—melainkan tentang terus berusaha untuk kembali, lagi dan lagi.
Jika hari ini kamu sedang berada di fase hijrah, semoga kamu diberikan keistiqamahan. Dan jika kamu sedang merasa futur atau jauh, semoga Allah selalu membuka jalan untuk kembali.
Karena pada akhirnya, hijrah terbaik bukanlah yang terlihat oleh manusia, tetapi yang dirasakan dekat oleh hati kepada Allah.
