Konten dari Pengguna

Amor Fati : Antara Pasrah dan Mencintai Takdir

Bagus Nur Alim

Bagus Nur Alim

Mahasiswa Universitas Pamulang Prodi Sastra Indonesia

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Bagus Nur Alim tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi amor fati. Photo by Artem Podrez.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi amor fati. Photo by Artem Podrez.

Amor fati adalah ungkapan yang tidak jauh-jauh dibahas oleh kaum Stoa. Amor fati berarti menerima nasib atau mencintai takdir dengan sudut pandang yang optimis. Kaum Stoa percaya bahwa setiap peristiwa mengantarkan kepada tujuan tertentu, karena mereka memandang bahwa alam bergerak dengan teratur dan bertujuan.

Kaum Stoa mengaitkan prinsipnya kepada alam, menjadikan diri selaras dengan alam. Alam adalah sebuah dunia yang bergerak begitu selaras, teratur, dan rasional. Secara sederhana, keyakinan teologis menanamkan bahwa alam dikendalikan oleh Yang Maha Kuasa yaitu Tuhan sedangkan keyakinan teleologis berkeyakinan bahwa segala sesuatu memiliki tujuan dan hasil akhir.

Amor fati tidak dapat dipandang sebagai bentuk penerimaan terhadap nasib secara pasrah atau pesimis. Kegagalan memang sealu hadir dalam perjalanan manusia, kesulitan selalu menyelimuti dalam langkahnya, dan kesusahan tak kunjung usai. Namun bukan berarti kegagalan, kesulitan, dan kesusahan itu hadir tanpa sebab dan alasan.

Kepasrahan tidak boleh ditanamkan dalam bentuk pesimisme. Kesulitan bukan tanda agar kita menyerah dan tidak berkembang, justru kesulitan menjadi ajang untuk meningkatkan potensi diri. Karena setiap kesulitan selalu ada kemudahan, bagi orang yang percaya dan terus mau berusaha.

Ilustrasi memandang peristiwa atau nasib dengan penuh penerimaan. Photo by Binti Malu

Dalam pandangan Stoikisme, kegagaan tidak dipandang sebagai akhir dari segalanya. Kegagalan justru dapat membawa hikmah, selalu ada tujuan lain dari peristiwa gagal tersebut. Karena Tuhan telah menetapkan jalan takdir yang terbaik untuk kita.

Jadi, jangan memandang amor fati sebagai bentuk kepasrahan yang memiliki nuansa pesimistik. Amor fati justru harus dipandang dengan positif dan optimistik sebagaimana kaum Stoik. Tidak ada peristiwa yang terjadi tanpa sebab dan tujuan pasti, karena Tuhan telah menggariskan semuanya. Setiap jalan akan menuntun kita kepada tujuan yang terbaik.