Konten dari Pengguna

Bayangkan dan Pahami Budaya ABS

Bagus Nur Alim

Bagus Nur Alim

Mahasiswa Universitas Pamulang Prodi Sastra Indonesia

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Bagus Nur Alim tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

From pexels by Vitaly Gariev
zoom-in-whitePerbesar
From pexels by Vitaly Gariev

Bayangkan jika di suatu wilayah, menerapkan konsep budaya ABS alias "Asal Bapak Senang". Bayangkan jika di suatu wilayah mengalamikrisis dan konsep budaya itu masih dipraktekkan. Bayangkan jika budaya tersebut membuat gambaran krisis menjadi normal, hingga perubahan ini menjadi mekanisme budaya yang tidak lagi dipermasalahkan.

Asal Bapak Senang adalah budaya yang mengharuskan secara tidak langsung untuk memberikan informasi kepada "Bapak" yang membuatnya senang. Misalnya ketika anak dan bapak. Seorang bapak yang mendengar kebaikan saja, cenderung menganggap anak tersebut baik-baik saja. Padahal, ada banyak yang diperjuangkan, kegagalan, dan ketidaknyamanan. Hanya saja tidak sampai ke telinga orang tuanya.

Jika contoh tersebut kita balik kondisinya. Anak itu tidak menceritakan keberuntungan, dan hanya kebuntungannya saja seperti kerugian finansial, hutang, dan kegagalan lainnya. Bagaimana responnya? Tentu orang tua tidak ingin melihat anaknya gagal. Mungkin saja orang tua merespon dengan emosi dan amarah, tanpa membantunya. Sehingga anak tidak lagi menceritakan kegagalan.

Dari kasus itu, siapa yang terdampak? Sudah tentu anak tersebut memiliki tekanan yang cukup tinggi. Jangan lupakan juga permasalahan sosial seperti hutang yang dimilikinya. Kita anggap, anak ini sedang mengalami krisis dan berdampak ke orang lain.

Sekalipun berada pada krisis, anak itu tetap memiliki kewajiban, yaitu hutang. Hampir semua orang yang memiliki hutang, akan ditagih juga ujungnya. Jika sudah datang penagihan, apa yang dilakukan anak itu? Ia sedang krisis finansial, dan bagaimana menutupnya?

Mungkin saja ia meminjam uang lagi untuk membayar hutang sebelumnya. Ketika hutang itu terbayar, orang tuanya mendengar bahwa anaknya sudah menyelesaikan masalah. Namun, orang tuanya tidak tahu bahwa untuk membayar hutang itu, anaknya harus membuat hutang baru. Masalahnya seolah selesai, padahal krisisnya masih berlangsung.

Jika kondisi ini terus berulang, anak itu akan terbiasa meminjam uang untuk membayar hutang. Begitu juga orang tuanya, yang hanya mendengar bahwa anaknya berhasil menyelesaikan masalah. Sampai pada akhirnya, hutang dan cara membayarnya menjadi hal yang biasa. Padahal, anak itu tidak pernah benar-benar keluar dari krisisnya.

Bayangkan jika kondisi seperti ini terjadi di suatu wilayah. Krisis terus terjadi, tetapi yang disampaikan hanya keberhasilan dalam mengatasinya. Setiap masalah diselesaikan, setiap kejadian ditangani, tetapi masalah yang sama terus berulang. Apa yang sebenarnya dirayakan? Apakah keberhasilan menyelesaikan masalah, atau keberhasilan membuat masalah itu tidak lagi terlihat mengkhawatirkan?

Di sinilah budaya ABS menjadi berbahaya. Bukan hanya karena informasi yang disampaikan bisa tidak utuh, tetapi karena informasi tersebut dapat membuat orang menganggap keadaan masih baik-baik saja. Ketika yang terdengar hanya keberhasilan, penyebab krisis bisa saja tidak pernah benar-benar dibicarakan. Akhirnya, krisis terus terjadi dan masyarakat mulai terbiasa menghadapinya.

Masyarakat yang bertahan bukan berarti keadaan sudah baik-baik saja. Bisa saja mereka bertahan karena tidak memiliki pilihan lain. Tidak menyampaikan keluhan bukan berarti tidak ada keluhan. Bisa saja mereka sudah tidak lagi merasa perlu menyampaikan sesuatu karena menganggap tidak akan ada perubahan.

Jika krisis terus terjadi dan masyarakat mulai menganggapnya sebagai sesuatu yang biasa, maka bahaya terbesarnya bukan hanya krisis itu sendiri. Bahaya terbesarnya adalah ketika kita tidak lagi menganggap krisis sebagai sesuatu yang seharusnya dipermasalahkan.

Dan jika suatu masyarakat mulai menganggap krisis sebagai sesuatu yang biasa, siapa yang akan mengingatkan bahwa keadaan tersebut seharusnya tidak dinormalisasi?