Konten dari Pengguna

Gaya Bahasa pada Puisi 'Ada Genderuwo di Istana' Karya Fadli Zon

Bagus Nur Alim

Bagus Nur Alim

Mahasiswa Universitas Pamulang Prodi Sastra Indonesia

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Bagus Nur Alim tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Gaya Bahasa dalam Puisi. Sumber: pexels.com
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Gaya Bahasa dalam Puisi. Sumber: pexels.com

Gaya bahasa adalah cara mengungkapkan pikiran melalui bahasa secara khas yang memperlihatkan jiwa dan kepribadian penulis untuk menimbulkan efek-efek tertentu. Gaya bahasa biasa dipergunakan dalam bentuk prosa ataupun puisi. Seperti halnya di bawah ini akan melihat sebuah gaya bahasa dalam puisi "Ada Genderuwo di Istana" karya Fadli Zon.

ADA GENDERUWO DI ISTANA

ada genderuwo di istana

tak semua orang bisa melihatnya

kecuali yang punya indra istimewa

makhluk halus rendah strata

menakuti penghuni rumah penguasa

berubah wujud kapan saja

menjelma manusia

ahli manipulasi

tipu sana tipu sini

ada genderuwo di istana

seram berewokan mukanya

kini sudah pandai berpolitik

lincah manuver strategi dan taktik

ada genderuwo di istana

menyebar horor ke pelosok negeri

meneror ibu pertiwi

Puisi tersebut lahir untuk merespon pernyataan "Politikus Genderuwo" dari Presiden Joko Widodo pada tahun 2018, di Tegal. Genderuwo disini adalah yang diduga menakut-nakuti masyarakat dalam konteks sertifikasi tanah. Fadli Zon berpandangan bahwa yang menakut-nakuti masyarakat itu berasal dari pemerintahan atau oknum pejabat.

Puisi tersebut tentu memiliki gaya bahasa yang bisa dianalisis lebih jauh. Setidaknya, dalam puisi tersebut mengandung gaya bahasa simbolik, kontradiksi interminus, satire, eufimisme, tautotes, metafora, dan personifikasi. Pada tulisan dibawah ini, setidaknya akan sedikit dipaparkan mengenai gaya bahasa dari puisi "Ada Genderuwo di Istana" karya Fadli Zon.

Baris pertama, maka akan terlihat sebuah gaya bahasa simbolik yang dipergunakan. Mulai dari penggunaan kata "Genderuwo" sebagai oknum yang menakut-nakuti masyarakat, sampai kepada kata "Istana" sebagai simbol pejabat kepemerintahan yang berwenang.

Baris kedua dan ketiga, terdapat gaya bahasa kontradiksi interminus yang dipergunakan di baris ketiga untuk menyangkal baris kedua. "Tak semua orang bisa melihatnya" adalah sebuah pernyataan yang disangkal oleh baris ketiga yaitu "kecuali mereka yang memiliki indra istimewa". Jadi, pada intinya penulis sepertinya hendak menunjukkan bahwa hanya orang-orang tertentu saja yang dapat mengetahui sosok "genderuwo di istana" tersebut.

Baris ketiga, nampaknya disisipi kata satire dengan kata "makhluk halus rendah strata". Ungkapan ini nampak sepintas layaknya celotehan yang memiliki niat bersahabat tapi berakhir kepada sebuah sindiran kritik. Sindiran ini diberikan kepada sosok "genderuwo".

Baris delapan dan sembilan, terdapat gaya bahasa eufimisme yang mengungkapkan kata dengan lebih halus yaitu "ahli manipulasi, tipu sana tipu sini". Kata tersebut menunjukkan bahwa kata yang akan dimaksud adalah sebagai pendusta atau pembohong.

Baris sepuluh dan empat belas adalah struktur kalimat yang sama dan dapat disebut sebagai tautotes. Jadi, repetisi digunakan untuk menegaskan tentang objek yang dibicarakan yaitu "genderuwo di istana" yang merujuk kepada judul dan baris pertama.

Baris sebelas, memuat gaya bahasa simbolik dengan kata "seram berewokan mukanya". Kata ini merujuk kepada "genderuwo" yang memang berwujud seram, sekalipun tidak harus berewokan. Hanya dipergunakan sebagai simbol yang menegaskan seramnya "genderuwo" yang dimaksud.

Baris ke dua belas dan tiga belas, adalah kata yang diperhalus dengan gaya bahasa eufimisme. Menunjukkan fakta namun juga sekaligus mengkritik objek yang dimaksud.

Baris ke lima belas, adalah metafora yang bermakna melebih-lebihkan sebuah kata. seperti kata "meneror ke pelosok negeri", bermakna luasnya lingkup gerak "genderuwo". Sehingga membuat seluruh masyarakat takut terhadapnya.

Baris ke enam belas, adalah personifikasi dengan kata "ibu pertiwi". Kata tersebut dipergunakan untuk merujuk kepada sebuah wilayah yaitu Indonesia. Sehingga bisa disimpulkan bahwa "genderuwo" ini meresahkan sebagian besar masyarakat Indonesia.