Konten dari Pengguna

Kedudukan Komik Wayang dalam Perkembangan Komik Indonesia

Bagus Nur Alim

Bagus Nur Alim

Mahasiswa Universitas Pamulang Prodi Sastra Indonesia

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Bagus Nur Alim tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Photo by Gabrielli  Pereira
zoom-in-whitePerbesar
Photo by Gabrielli Pereira

Komik wayang memiliki kedudukan yang penting dalam perkembangan komik Indonesia karena komik wayang tidak hanya membawa cerita pewayangan ke dalam bentuk komik, tetapi juga mempertemukan budaya yang sudah ada dengan medium yang baru. Salah satu contohnya adalah komik Mahabharata karya R.A. Kosasih yang membuat cerita Mahabharata menjadi lebih mudah dibaca dan dipahami melalui gambar, panel, dialog, dan narasi. Penelitian Nuriarta (2025) menunjukkan bahwa komik wayang merupakan bentuk negosiasi budaya yang terlihat melalui visual, dialog verbal, dan narasi, sehingga komik wayang dapat diterima sebagai bagian dari budaya populer Indonesia.

Namun menurut saya, kontribusi komik wayang tidak hanya karena komik tersebut mengangkat cerita budaya lokal. Hal yang lebih penting adalah bagaimana komikus melakukan penyesuaian terhadap cerita dan visualnya tanpa harus menghilangkan identitas pewayangan. Contohnya R.A. Kosasih membuat versi Mahabharata pada 1955 dan 1975 yang memiliki jalan cerita yang pada dasarnya sama, tetapi mengalami perubahan pada format, ejaan, dan visual naratif. Versi 1975 bahkan menggunakan penggambaran yang lebih dinamis dan menyesuaikan perkembangan gaya komik pada masa tersebut (Gunawan, 2020). Jadi dari sini dapat dilihat bahwa pelestarian budaya tidak selalu berarti mempertahankan bentuk lama secara keseluruhan, tetapi juga dapat dilakukan dengan membuatnya sesuai dengan perkembangan medium dan kebutuhan pembaca.

Komik wayang juga tidak dapat ditempatkan sebagai satu-satunya jalur perkembangan komik Indonesia karena terdapat genre lain seperti komik silat, humor, roman, legenda, dan cerita perjuangan yang memiliki perkembangan masing-masing. Penelitian Nuriarta (2025) menunjukkan bahwa setelah perkembangan komik wayang, muncul perkembangan genre lain seperti komik legenda, perjuangan, roman, silat, dan humor. Sehingga kedudukan komik wayang menjadi salah satu variasi bentuk perkembangan komik di Indonesia.

Maka dari itu, kedudukan komik wayang dalam perkembangan komik Indonesia dapat dilihat sebagai salah satu jembatan antara tradisi dan perkembangan komik modern. Mahabharata R.A. Kosasih menjadi contoh bahwa cerita yang berasal dari tradisi lama dapat tetap hidup ketika diterjemahkan ke dalam bentuk baru dan disesuaikan dengan pembacanya. Jadi kontribusi komik wayang bukan berarti menjadikannya genre yang paling utama dibandingkan genre lain, tetapi menunjukkan bahwa perkembangan komik Indonesia juga dibentuk dari kemampuan komikus untuk mempertahankan budaya sekaligus melakukan interpretasi dan inovasi terhadap budaya tersebut.