Kegagalan dapat Mengubahmu

Mahasiswa Universitas Pamulang Prodi Sastra Indonesia
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Bagus Nur Alim tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kegagalan sering kali menjadi penghambat seseorang untuk berkembang. Kegagalan bertemu dengan mental yang lemah membuat langkah menjadi stagnan. Sekecil apapun kegagalan, dapat membawa perubahan. Kegagalan tidak dapat dijadikan fokus utama, khsusunya dalam proses. Kegagalan pada dasarnya dapat dipelajari menunjang langkah berikutnya, tapi bukan dijadikan ratapan yang konsisten. Karena kegagalan sifatnya sementara, masih ada masa depan yang menanti. Jika kita kembali mengingat nasihat Epictetus, "its not what happens to you, but how you react to it that matters". Nasihat ini seolah memberikan tamparan keras bagi yang meratapi kegagalan tanpa henti. Karena kegagalan itu sebenarnya tidak lebih penting dibanding respon kita dalam menghadapi kegagalan teraebut. Jangan sampai kegagalan membuat kita cemas hingga lemah secara mental dan pola pikir. Epictetus telah memberikan tips yang disebut dikotomi kendali. Konsep ini secara sederhana memisahkan dua persoalan yaitu hal-hal yang bisa dikendalikan dan hal-hal yang tidak bisa dikendalikan. Hal-hal yang bisa dikendalikan berarti segala sesuatu yang bisa kita lakukan. Bagian ini berfokus pada segala hal yang berkaitan dengan diri kita secara internal baik pikiran, respon, maupun perasaan dalam menghadapi persoalan lain. Misalnya, ketika kita sedang gagal dalam seleksi universitas. Pada kondisi ini kita bisa bebas berpikir, merespon, dan merasakan. Kita bisa berpikir, "nanti saya akan belajar lebih giat" atau "saya gagal, saya tak berguna". Kita juga bisa merespon dengan belajar lebih giat atau justru berdiam diri di kamar dan meratapi kegagalan itu. Kita bisa memilih untuk merasa lebih bersemangat atau justru pasrah namun gelisah. Hal-hal itu bisa kita pilih dengan bebas dan tentu saja suasana yang terbangun akan berbeda hasil akhirnya. Pilihan yang begitu banyak dapat kita tentukan dan ini berkaitan erat dengan internalisasi diri yang dapat dikendalikan. Berikutnya yang tidak dapat dikendalikan berupa yang tidak dapat kita atur atau berkaitan dengan faktor eksternal. Bagian ini berfokus pada semua hal di luar diri kita, baik cuaca, sikap orang lain, dan semacamnya. Pada persoalan kegagalan seleksi universitas misalnya, hasil seleksi adalah hal yang tidak dapat dikendalikan karena berkaitan dengan presentase peluang kelulusan, potensi persaingan, dan lain-lain. Pada kondisi ini, hanya proses yang bisa diusahakan sebagai penunjang. Jika dikotomi Epictetus terlalu klasik untuk dipahami, kita bergerak ke tahun 2008 dengan trikotomi kendlai oleh Irvine. Trikotomi kendali adalah perluasan dan modernisasi dari dikotomi kendalinya Epictetus. Pada Trikotomi tidak hanya membahas hal yang dapat dikendalikan dan tidak, tetapi menambahkan satu unsur yaitu hal yang berada di antara bisa dikendalikan dan tidak. Trikotomi bisa dibagi menjadi 3 warna, putih sebagai hal yang jelas dapat dikendalikan, abu-abu sebagai hal yang samar dapat dikendalikan dan sebagiannya tidak, dan hitam sebagai hal yang tidak jelas dan sama sekali tidak dapat dikendalikan. Panduan memiliki hidup yang baik oleh Irvine kita harus fokus di bagian putih alias yang dapat dikendalikan. Sedangkan bagian abu-abu itu tetap memiliki pengaruh namun hanya perluasan dari bagian putih saja. Sedangkan bagian hitam kita boleh peduli tetapi jangan menghabiskan energi dan atensi di sana. Misalnya kembali ke persoalan seleksi universitas. Bagian putihnya adalah apa yang bisa diusahakan seperti proses belajar dan motivasi yang kita miliki. Sedangkan bagian abu-abunya adalah universitas dan prodi yang kita pilih, ini menunjang seberspa besar potensi lulus dan persaingannya. Sedangkan bagian hitamnya adalah hasil akhir lulus atau tidaknya. Untuk menghindari kecemasan, kita harus berfokus ke bagian putihnya saja (proses utama) dan diperluas ke bagian abu-abu (proses pendukung). Sedangkan bagian hitam (hasil) jangan sampai menghabiskan energi yang kita punya. Jika menerapkan trikotomi ini, secara otomatis kita dapat terbebas dari cemas, kemandirian mental, dan efisiensi energi batin menuju ataraxia (ketenangan batin).
