Konflik Global: Antara Kepentingan Nasional dan Ukhuwah Islamiyyah

Mahasiswa Universitas Pamulang Prodi Sastra Indonesia
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Bagus Nur Alim tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Konflik global masih menderu, khususnya Iran vs Israel-AS. Tidak sedikit korban jiwa terjatuh, bangunan yang runtuh, dan beberapa akses yang lumpuh. Tidak hanya terkuras secara materil, melainkan juga berdampak pada moril.
Jika kembali ke akar masalah, salah satu pemicu pecahnya konflik tersebut adalah tudingan dan gerakan militer kemudian dibalas juga dengan strategi militer. Berawal dari tudingan, konsekuensi yang lahir semakin memanas dan liar. Hingga kini, perpecahan ini tidak dapat dibendung dan belum menemukan titik damai untuk negoisasi.
Dari pemicu tersebut, kita dapat melihat bahwa pola tudingan ini adalah murni dari kepentingan nasional. Israel-AS merasa bahwa Iran adalah negara yang berbahaya dengan persenjataan yang sedang dikembangkan sehingga perlu diadakan penyerangan terlebih dahulu. Di posisi Iran juga tidak hanya dapat diam melihat serangan tersebut, terlebih menewaskan pemimpin Iran. Maka dari itu, Iran melakukan serangan balasan dengan brutal tanpa negoisasi.
Perlu diketahui bahwa Iran adalah negara dengan mayoritas populasi beragama Islam. Sebagai umat Islam, tentu saja kita merasa bahwa ia adalah saudara, sejalan dengan konsep ukhuwah islamiyyah. Namun apakah kita dapat membenarkan tindakan penyerangan yang dilakukan oleh Iran?
Iran memang mencuat dengan beberapa label positif seperti negara yang kuat, negara yang tak pernah gentar menghadapi apapun, negara Islam yang mandiri, dan sebagainya. Kekuatan negara Iran seringkali dikaitkan dengan agama yang dianut oleh mayoritas populasi di dalamnya yaitu Islam. Label yang diberikan kepada Iran akhir diwariskan kepada agamanya yaitu Islam menjadi Islam Iran adalah orang kuat yang tegas menegakkan keadilan. Namun apakah kita dapat membenarkan tindakan penyerangan yang dilalkukan oleh Islam Iran?
Sebagai negara, Iran memang terlihat gagah dan kuat berdasarkan bersediaan senjata perang dan strateginya. Namun sebagai agama yang dianut di dalamnya yaitu Islam, dapat diperdebatkan lebih jauh. Apakah akidah yang dianut oleh Islam Iran itu sama dengan Islam Indonesia?
Sampai sini kita perlu memetakan ulang agar dapat melihat konflik ini lebih jelas dan bukan berdasarkan kepentingan subjektif. Konflik yang terjadi berdasarkan kepentingan nasional, bukan semata-mata karena agama. Sehingga kurang bijak jika kita memandang bahwa Iran adalah saudara seagama yang harus dibela dengan turut berperang atau melakukan tindakan serupa.
Di mana posisi negara-negara Islam lainnya? apakah berkhianat?
Kembali lagi ke permasalahan utama, koonflik yang terjadi bukan didasarkan pada urusan agama. Konflik yang memanas berdasarkan kepentingan nasional sehingga sebagai negara-negara lain, khususnya Islam juga perlu mempertimbangkan keuntungan nasional. Jika negara Islam lainnya turut meramaikan konflik yang terjadi tanpa melihat keuntungan nasional, maka sama saja dengan menghancurkan negara sendiri.
