Negeri Tercinta: Puisi Reflektif

Mahasiswa Universitas Pamulang Prodi Sastra Indonesia
·waktu baca 1 menit
Tulisan dari Bagus Nur Alim tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Puisi untuk negeri adalah ungkapan reflektif dari nurani yang suci. Berusaha sejalan dengan Pancasila, berpedoman dengan UUD 1945, demi menyentuh hati. Sebuah persembahan murni aspirasi, tidak mengandung provokasi.
KEBIJAKAN YANG TERBAJAK
Lantunan suara berteriak serempak,
Bak paduan suara yang merompak telinga dengan kompak,
Mendengungkan kebijakan yang bijak,
Di balik kebijakan yang terbajak.
Suara-suara minor gusar tanpa memihak,
Keputusan yang diombang-ambing oleh sang ombak,
Yang bijak berkata, "Atas dasar kemanusiaan ... "
Yang terbajak berkata, "Apakah siang nanti aku bisa makan?"
Tanpa perenungan dan tanpa perkataan, dibuatlah keputusan,
Awal mula dari hilangnya pertanggungjawaban,
Angin sepoi-sepoi menghapus satu kursi di sudut ruang,
Membawa terbang bukti tanpa tanda tangan dan terus melayang sampai hilang.
Apakah ini masih dalam aturan kebijakan?
Apakah ini masih dalam pertanggungjawaban?
Rupanya, suara minor berkumpul menuntut hak dan sudah bisa memihak,
Teriakan suara perut yang geram karena menonton kebijakan yang telah terbajak,
Jari-jari melayangkan argumentasinya,
Mata-mata memantau segala aksinya,
Cerita ini belum ada ujungnya.
