Naskah Drama dalam Genderang Baharatayuda

Mahasiswa Sastra Indonesia - Universitas Pamulang
Tulisan dari Bagus Andriyanto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pada kesempatan ini saya akan mencoba untuk membuat artikel mengenai bagaimana struktur naskah drama dalam Genderang Baharatayuda. Oleh karena itu, sebisa mungkin saya akan menuangkannya sebagaimana dengan kemampuan saya dalam membuat artikel kali ini.
Untuk itu semoga saja pembahasan pada artikel ini dapat terbit, dan sama-sama kita baca sebagai salah satu tujuan belajar menulis artikel. Kalau begitu langsung saja saya akan mencoba untuk menjelaskan karya sastra tersebut, dengan itu saya akan memulainya sebagai berikut:
Karya sastra merupakan hasil pemikiran dan refleksi budaya masyarakat. Oleh karena itu, banyak karya sastra yang berbicara tentang interaksi manusia dengan manusia dan lingkungannya. Karya sastra merupakan ungkapan perasaan estetik pengarang terhadap karya-karya yang ada di sekitarnya.
Karya sastra merupakan karya imajinatif manusia berdasarkan pengetahuan dan tanggung jawab dalam hal kreativitas dalam karya seni. Karya sastra juga banyak memberikan gambaran tentang kehidupan alam di sekitarnya seperti yang terjadi pada masa pengarangnya masih hidup.
Secara struktural naskah drama Genderang Bharatayuda bertemakan "Perjuangan mempertahankan martabat bangsa dan membangkitkan semangat juang dan berani mengorbankan jiwa, raga dan cinta". Alur atau plot Genderang Bharatayuda disusun secara konvensional dengan pola segitiga sama kaki seperti yang dikemukakan Hudson.
Kurangnya penerbitan buku sastra drama di Indonesia karena tradisi teater di Indonesia tidak mengenal teater panggung, sehingga masyarakat hanya mengenal drama sebagai pertunjukan dan bukan sebagai karya sastra. Minat pembaca yang sedikit dalam membaca lakon membuat penerbit berpikir dua kali atau tiga kali jika mereka berani menerbitkan buku drama.
Sisi lain dari naskah Genderang karya Sri Muryono ternyata sangat releven dari segi sosiologi pada zamannya. Jika mengingat dituliskan sekitar tahun 1947 sampai 1948, maka tampak adanya usaha memberikan kesadaran pentingnya perjuangan demi bangsa dan negara indonesia. Artinya Sri Murtono melalui naskah drama atau karyanya mengajak rakyat untuk selalu memiliki nasionalisme yang tinggi.
Unsur dalam teks drama merupakan yang membentuk struktur. Unsur dalam drama tersebut meliputi alur, tema, penokohan, latar dan dialog. Naskah drama Genderang bharatayuda di uraikan sebagai berikut: Tokoh merupakan salah satu unsur yang penting di samping dialog dan alur. Tokoh berhubungan dengan ruang, waktu, serta suasana terjadinya peristiwa (Sarumpaet, 1997).
Lakon Genderang bharatayuda menunjukan latar ruang yang berada disebuah daerah yang kaya dan luas. Jika Latar tersebut dapat dilihat pada keterangan di naskah drama sebagai beriku: "Tengah malam. Sepi, hanya derik jangkrik dan suara sebentar-sebentar terdengar. Kadang-kadang sayup mendekat guruh menggema diangkasa".
Dialog dalam drama Genderang bharatayuda juga memakai Monolog (monologue) yaitu pengucapan seorang aktor atau aktris sendiri diatas pentas tanpa di selingi oleh aktor atau aktris lainya. Sesungguhnya monolog adalah kata hati yang diformulasikan dalam bentuk cakapan. Kata hati dalam bentuk cakapan atau cakapan batin dalam novel biasanya disebut gaya stream of consciousness.
Arus kesadaran, Dujardin menyebutnya sebagai gaya Ie monolague interiur, yaitu suatu teknik penceritaan yang untuk secara langsung memperkenalkan kepada pembaca, kehidupan batin tokoh-tokohnya tanpa intervensi atau komentar dari pengarang. Cakapan batin dalam lakon tidak berbentuk monolog tetapi dialog.
Mahabharata merupakan sebuah epik yang dituturkan oleh Abiasa dan ditulis oleh Ganesha, dimana kedua tokoh ini merupakan bagian dari epik tersebut. Mahabharata menjadi ajaran Hindu tentang empat hal utama, yaitu Karma, Artha, Dharma, dan Moksa.
Kisah sentral Mahabharata berkisah pada pertikaian antara keluarga kerajaan demi memperebutkan takhta kerajaan HastinaPura, yaitu pertikaian antara saudara sepupu. Pandawa yang merupakan anak pandu dan Kurawa yang merupakan anak Destarata.
Perang yang terjadi dalam kisah Mahabharata terjadi di padang Kurusetra yang berlangsung selama 18 hari dengan melibatkan hampir seluruh pihak kerajaan yang ada didataran India mulai dari kerajaan kecil sampai dengan kerajaan besar Bhishma pernah mengucap sumpah untuk tidak menikah, demi ayahnya bisa menikah dengan putri nelayan.
Itulah sedikit yang saya dapatkan dari kisah Genderang Bharatayuda yang telah lama saya ketahui, untuk itu saya harap kalian semua dapat mengerti dengan kekurangan saya dalam membuat artikel kali ini. Dengan harapan kalian dapat berpartisipasi dengan berkomentar di bawah ini, sebagai suatu semangat untuk saya dalam menulis.
Oleh Bagus Andriyanto, Faiz Falahu Romdon dan Safira Ladiba Mahasiswa Universitas Pamulang
