Konten dari Pengguna

Literasi Digital : Kunci Melawan Penyebaran HOAX

Bagus Arya Pratama

Bagus Arya Pratama

INSTITUT PEMERINTAHAN DALAM NEGERI

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Bagus Arya Pratama tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Malam itu, ponsel ibu saya berbunyi berkali-kali. Grup WhatsApp keluarga mendadak ramai. Sebuah pesan berantai muncul dengan pembuka yang meyakinkan: "Info dari pihak berwenang, mohon disebarkan." Tidak ada nama, tidak ada tautan sumber, tidak ada tanggal. Namun dalam hitungan menit, pesan itu sudah diteruskan puluhan kali. Om, tante, sepupu, semuanya membagikannya dengan niat baik, dan nyaris tak ada yang bertanya: ini sebenarnya dari siapa?

Saat itu saya sadar, zaman memang berjalan terus, dan ia membawa kita ikut berubah, suka atau tidak. Dulu, bisa membaca dan menulis sudah cukup untuk melangkah ke mana-mana. Kini literasi digital sama pentingnya. Arus informasi di media sosial melaju jauh lebih cepat daripada kemampuan kita memverifikasinya. Karena itu, siapa pun, termasuk orang-orang yang paling kita sayangi, bisa dengan mudah terjebak menyebarkan kabar yang keliru. Sebagai makhluk sosial, kita memang suka berbagi. Justru karena itulah kita perlu pandai memilah dan memilih apa yang kita terima. Kemampuan itu bukan sekadar keterampilan tambahan, melainkan perlindungan diri.

Ada satu hal yang kemudian saya pahami dari kejadian semacam ini: hoaks jarang dibuat untuk membuat kita berpikir. Ia dibuat untuk membuat kita merasa. Takut, marah, iba, itulah pintu masuknya. Ketika perasaan sudah lebih dulu bergerak, jari pun lebih cepat menekan tombol bagikan daripada akal sempat menimbang.

Sumber ilustrasi: Dibuat menggunakan AI melalui ChatGPT (OpenAI), 2026.

Saya teringat judul-judul berita yang kerap lewat di beranda, ditulis dengan huruf kapital dan diakhiri tanda seru. Nadanya menggelegar, seolah ada bencana besar. Tetapi ketika dibuka, isinya tak jelas dan tak mendukung judulnya sama sekali. Sayangnya, banyak orang tidak sampai ke sana. Mereka berhenti di judul, lalu membagikannya. Begitulah kabar yang keliru bisa menempuh perjalanan jauh dengan cepat.

Padahal untuk menghentikannya, caranya tidak rumit. Cukup biasakan memeriksa sumber, melihat tanggal, dan membandingkannya dengan media yang kredibel. Kebiasaan kecil ini perlu ditanamkan sejak dini, sebab setiap orang yang mau memeriksa terlebih dahulu berarti ikut memutus satu mata rantai penyebaran hoaks.

Namun saya juga belajar bahwa tidak adil jika semua beban ini diletakkan di pundak individu. Kebiasaan bermedia kita terbentuk dari lingkungan terdekat, dan platform digital pun ikut mengatur informasi apa yang paling sering muncul di layar kita. Bayangkan jika sekolah mengajak siswanya berlatih menilai sumber berita di dalam kelas. Bayangkan jika orang tua duduk mendampingi anaknya saat bermedia sosial, bukan sekadar melarang. Bayangkan pula jika platform memberi label pada konten yang terbukti menyesatkan. Ketika ketiganya bergandengan, ruang digital kita bisa menjadi tempat yang lebih sehat dan lebih dipercaya.

Malam itu, saya tidak ikut meneruskan pesan berantai tersebut. Saya hanya mengetik satu kalimat di grup keluarga: "Ada yang tahu sumber aslinya?" Tak ada yang menjawab. Pesan itu pun berhenti beredar.

Dari situ saya yakin, melawan hoaks bukan hanya tugas pemerintah atau media. Ia tanggung jawab setiap orang yang memegang ponsel dan terhubung ke internet. Mulailah dari hal yang paling sederhana: berhenti sejenak, periksa, baru bagikan.