Konten dari Pengguna

Menghadapi Tantangan Bahasa Indonesia di Dunia Digital

Syamil Baharuddin

Syamil Baharuddin

Seorang Mahasiswa Ilmu Komunikasi di Universitas Pamulang

·waktu baca 2 menit

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Syamil Baharuddin tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Source Photo by Pixabay: https://www.pexels.com/photo/close-up-photography-of-smartphone-icons-267350/
zoom-in-whitePerbesar
Source Photo by Pixabay: https://www.pexels.com/photo/close-up-photography-of-smartphone-icons-267350/

Haloo temans, perkenalkan, nama saya Syamil Baharuddin, saya merupakan mahasiswa Universitas Pamulang di Fakultas Ilmu Komunikasi.

Mahasiswa ilmu komunikasi memiliki tanggung jawab penting dalam menghadapi tantangan yang dihadapi oleh Bahasa Indonesia di era digital. Seorang Mahasiswa tidak hanya berfungsi sebagai pengguna bahasa, tetapi juga sebagai agen perubahan yang dapat mempromosikan penggunaan Bahasa Indonesia yang baik dan benar di berbagai platform digital.

Salah satu tantangan utama yang dihadapi adalah munculnya bahasa baru yang sering digunakan dalam komunikasi digital, seperti bahasa gaul dan singkatan Misalnya, istilah "selfie" yang lebih banyak digunakan daripada "swafoto." atau seperti "gpp" (gak papa) yang dapat mengaburkan makna asli dari pesan yang disampaikan. Dalam konteks ini, mahasiswa ilmu komunikasi diharapkan dapat memahami dan mengajarkan pentingnya tata bahasa yang benar serta melestarikan kekayaan Bahasa Indonesia di tengah arus globalisasi yang semakin kuat.

Dalam komunikasi digital, banyak pengguna yang tidak memperhatikan kaidah tata bahasa yang baik dan benar, yang dapat menimbulkan kesalahpahaman.

Contohnya: "Kamu udah makan belum? Gpp, nanti kita ketemu."

Penggunaan singkatan "gpp" (gak papa) dapat membingungkan penerima pesan yang tidak familiar dengan istilah tersebut. Penerima mungkin tidak memahami dari kata "gpp" berarti bahwa ia tidak perlu khawatir jika belum makan.

kalimat yang tidak lengkap atau penggunaan kata yang salah dapat menyebabkan pesan tidak tersampaikan dengan jelas.

Selain itu, mahasiswa juga dapat memanfaatkan media sosial dan platform digital lainnya untuk menyebarluaskan konten berkualitas dalam Bahasa Indonesia. Dengan cara ini, mereka tidak hanya berkontribusi dalam memperkaya penggunaan bahasa, tetapi juga membantu meningkatkan kesadaran khalayak tentang pentingnya menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dalam komunikasi sehari-hari.

Mahasiswa ilmu komunikasi juga dapat berperan aktif dalam kegiatan yang berkaitan dengan bahasa dan budaya, seperti seminar, lokakarya, dan kampanye literasi. Melalui partisipasi aktif dalam kegiatan tersebut, mereka dapat menjadi penggerak dalam pelestarian Bahasa Indonesia di dunia digital, sehingga bahasa ini tetap relevan dan dapat digunakan secara efektif oleh generasi mendatang.

Dalam menghadapi tantangan ini, penting bagi mahasiswa untuk terus belajar dan beradaptasi dengan perkembangan teknologi serta tren komunikasi digital. Pendidikan dan pelatihan berkelanjutan dalam ilmu komunikasi digital sangat penting untuk memastikan bahwa mereka tetap relevan dan efektif dalam dunia yang terus berubah ini.

Sumber Pustaka:

  • Communication Program. (Peran Ilmu Komunikasi dalam Menghadapi Era Digital: Tantangan dan Peluang).

  • Binus University Bekasi. (Peran Mahasiswa dalam Revolusi Komunikasi di Era Digital).