Konten dari Pengguna

Alam dan Corona, Suka Duka Ibu Guru Nurma Mengajar Kelas Satu

Ahmad Syaiful Bahri

Ahmad Syaiful Bahri

Membaca dan Menulis

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ahmad Syaiful Bahri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Nurma, guru kelas satu SDN 005/V Kuala Tungkal Tanjung Jabung Barat Jambi mengajar daring selama pandemi COVID-19. Ia tidak kenal lelah untuk mengajar anak-anak yang baru masuk kelas satu. Apa yang dilakukannya adalah untuk masa depan pendidikan di Indonesia. (Foto: Tanoto Foundation).
zoom-in-whitePerbesar
Nurma, guru kelas satu SDN 005/V Kuala Tungkal Tanjung Jabung Barat Jambi mengajar daring selama pandemi COVID-19. Ia tidak kenal lelah untuk mengajar anak-anak yang baru masuk kelas satu. Apa yang dilakukannya adalah untuk masa depan pendidikan di Indonesia. (Foto: Tanoto Foundation).

Sebagai guru honorer SDN 005/V Kuala Tungkal Tanjung Jabung Barat Jambi, Nurma mengatakan baru pertama kali mengajar siswa kelas satu dan menurutnya tantangan tersebut cukup berat. Namun, berkat bimbingan kepala sekolah Ibu Muzdalifah Al Basrah, S.Pd, ia berani menerima tantangan itu dan sekarang semakin percaya diri.

Di saat pandemi seperti ini, guru kelas awal memang perlu berkreasi dan telaten mengajar anak-anak yang baru masuk jenjang sekolah dasar tersebut. Hal ini dikarenakan mereka baru memasuki awal dari jenjang sekolah dasar.

Siswa Belajar Online

Seperti pada pembelajaran umumnya, Nurma menyapa anak-anak terlebih dahulu melalui video yang dikirimkan ke grup WhatsApp kelas.

Mengingat anak-anak masih menggunakan handphone orangtuanya, maka ia memutuskan memakai media WhatsApp selama belajar dari rumah.

Sebelum memulai pelajaran, Nurma membahas materi sebelumnya, setelah itu ia menyampaikan materi tentang mengenal bahan yang telah disediakan alam di sekitar rumah mereka yang dapat dijadikan media pembelajaran.

“Ayo anak-anak, apa saja yang ada di sekitar rumah kalian, yang disediakan oleh alam,” tanya Nurma.

“Ada daun bu,” jawab Hilya Mazaya.

“Baik anak-anakku, kita akan belajar tentang mengenal alam dalam berkarya untuk kompetensi dasar 3.4,” Nurma menambahkan.

Tidak lupa ia menyampaikan bahan yang harus disiapkan seperti daun yang ada di sekitar rumah, gunting, lem, dan buku gambar.

Nurma meyakini bahwa siswa kelas satu perlu diberikan pembelajaran yang merangsang sifat motorik mereka. Seperti mereka harus bergerak mencari daun, menempel sebuah karya di atas kertas untuk dijadikan sebuah karya.

Siswa Mandiri Selama PJJ

Langkah pertama adalah siswa menggunting daun sesuai dengan pola binatang yang mereka inginkan, setelah itu pola binatang tadi diberi lem atau perekat lalu gambar pola binatang tadi ditempel di buku gambar yang telah disediakan.

Agar lebih menarik gambar binatang tersebut boleh diberikan hiasan berupa bunga, biji-bijian atau pun ranting pohon.

“Anak-anak, jangan lupa ya, kalau hasil karyanya sudah jadi, kirim ke grup WhatsApp ya, minta ke bapak ibu orangtuanya untuk memfoto,” kata Nurma mengingatkan siswa.

Setelah karyanya dibuat, orangtua memfoto dan mengirimkan ke grup WhatsApp dan ternyata hasilnya bagus dengan beragam jenis karya.

Nurma mengaku beruntung mendapatkan pelatihan Program PINTAR Tanoto Foundation yang mendorong guru memanfaatkan bahan yang ada di sekitar alam untuk menjadi media pembelajaran. Sehingga ia meminta siswanya menemukan bahan-bahan yang ada di sekitar rumah

Manfaatkan Alam untuk Belajar Matematika

Selain menggunakan bahan dari alam untuk membuat karya sederhana, Nurma juga menggunakan daun tersebut untuk pembelajaran Matematika, termasuk biji-bijian.

“Biji-bijian dari buah apa saja boleh,” katanya kepada anak-anak di grup WhatsApp.

Tujuan pembelajaran tersebut adalah memperkenalkan bahan yang telah disediakan alam seperti daun, biji-bijian yang dapat dijadikan sumber belajar. Seperti belajar penjumlahan.

“Anak-anak, Daun milik Ani lima, lalu daun milik Adi tiga, tolong jumlahkan ya, berapa hasilnya,” tanya Nurma.

Ia meminta setiap siswa untuk menghitung dengan menggunakan daun yang telah mereka kumpulkan sebelumnya.

“Silahkan dihitung anak-anak,” perintahnya.

“Ada berapa,” tanyanya lagi.

“Ada delapan bu,” jawab Raysha Vania Aprilia.

Setelah selesai belajar, Nurma melakukan refleksi bersama siswa. Apa yang mereka sukai dan masukan apa selama pembelajaran. Hampir semua siswa menjawab senang dengan pembelajaran.

Tidak lupa Nurma juga meminta orangtua untuk memberikan masukannya. Agar ke depan bisa lebih baik lagi.

“Senang, belajar tentang bahan yang telah disediakan,” ujar Muhammad Arkan.

Poin penting dari pembelajaran ini adalah bahwa guru dapat menggunakan bahan yang tersedia dari alam untuk membuat hasil karya dan juga sebagai media pembelajaran siswa. Selain daun, bisa juga menggunakan biji-bjian dari pohon yang ada di sekitar rumah.