Konten dari Pengguna

Berkolaborasi untuk Mencapai Tujuan Bersama

Ahmad Syaiful Bahri

Ahmad Syaiful Bahri

Membaca dan Menulis

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ahmad Syaiful Bahri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

SDGs. Sumber: Wikipedia
zoom-in-whitePerbesar
SDGs. Sumber: Wikipedia

Dikutip dari laman SDGs Academy Indonesia, salah satu dari 17 tujuan pembangunan berkelanjutan adalah kemitraan. Pada tujuan ini, upaya difokuskan untuk mendukung pencapaian 16 tujuan SDGs lainnya melalui kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan—baik dari pemerintah, dunia usaha, industri, maupun lembaga swasta. Tujuan utama dari kemitraan ini adalah mempercepat pencapaian target di berbagai bidang, seperti pendidikan, kesehatan, lingkungan, pariwisata, dan tujuan lainnya.

Salah satu isu yang menjadi fokus dalam tujuan SDGs salah satunya pendidikan, yang tercantum pada tujuan nomor 4. Di Indonesia, pendidikan berkualitas masih menjadi prioritas banyak mitra pembangunan. Bersama pemerintah, para mitra berusaha mencapai berbagai target, seperti peningkatan literasi dan numerasi, penciptaan iklim keamanan sekolah, penguatan kebhinekaan, pembelajaran berdiferensiasi, pemulihan pembelajaran, hingga advokasi kebijakan pendidikan kepada pemerintah daerah.

Pemetaan Stakeholder Kunci

Langkah pertama untuk mewujudkan kemitraan adalah menjalin kolaborasi dengan pemangku kepentingan yang ada di daerah. Juga memahami peran individu dan organisasi perangkat daerah sebagai calon mitra kolaborasi merupakan langkah krusial.

Pemetaan pemangku kepentingan yang cermat merupakan salah satu kunci keberhasilan program. Tidak mungkin meminta bantuan atau advokasi tanpa memahami siapa yang terlibat dan bagaimana mereka dapat berkontribusi. Mendatangi secara langsung merupakan langkah strategis untuk membangun hubungan yang lebih erat termasuk membangun komunikasi secara berkala melalui telepon, WhatsApp, dan tidak melulu soal pekerjaan agar dapat mempererat kedekatan, misalnya berbicara tentang hobi yang disukai.

Kedua, pelibatan pemangku kepentingan harus didasari keterbukaan, kejujuran, saling menghargai, tidak menggurui, dan sikap rendah hati. Dengan pendekatan ini, program akan lebih mudah diterima dan memiliki peluang berhasil.

Setelah informasi terkumpul mengenai pemetaan stakeholder yang akan terlibat, ketiga yaitu mengidentifikasi pemangku kepentingan kunci dan pendukung. Pengenalan kategori ini memudahkan penyusunan rencana dan advokasi tepat sasaran, serta dukungan apa yang kita inginkan dari pemerintah agar program dapat berjalan dengan baik.

Konteks Community Development

Dalam konteks pengembangan komunitas, peran pemangku kepentingan sangat penting bagi kesuksesan program yang direncanakan oleh sebuah organisasi. Mereka diharapkan memiliki kontribusi besar dalam mewujudkan tujuan yang diinginkan. Tanpa keterlibatan mereka, pelaksanaan program akan sulit terwujud. Pemangku kepentingan bukan hanya peserta dalam pertemuan atau sekadar indikator keberhasilan program, tetapi juga mitra strategis yang dapat memengaruhi individu, kelompok, dan pemangku kepentingan lainnya termasuk swasta.

Manajemen program yang efektif memerlukan pemahaman mendalam tentang pemangku kepentingan dan kegiatan yang akan mereka jalankan, karena community development merupakan harapan dan usaha bersama-sama dengan pihak lain seperti pemerintah daerah, masyarakat dan pihak swasta lainnya untuk mewujudkan dari sebuah tujuan yang ingin dicapai.