Konten dari Pengguna

Dua Puluh Empat Jam

Ahmad Syaiful Bahri

Ahmad Syaiful Bahri

Membaca dan Menulis

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ahmad Syaiful Bahri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ada yang selalu adil dalam hidup ini. Bukan kekayaan. Bukan kecerdasan. Apalagi keberuntungan.

Yang paling adil justru waktu.

Setiap pagi, matahari membagikan jatah yang sama kepada semua orang. Dua puluh empat jam. Tidak lebih, tidak kurang.

Presiden menerimanya. Buruh menerimanya. Petani menerimanya. Mahasiswa menerimanya. Orang kaya maupun orang miskin, semua diberi jumlah yang sama.

Tidak pernah ada orang yang mendapat dua puluh lima jam. Tidak pernah pula ada yang hanya memperoleh dua puluh tiga.

Waktu tidak mengenal kasta.

Namun anehnya, kehidupan yang lahir dari dua puluh empat jam itu begitu berbeda.

Ada yang menjadikan sehari sebagai tangga untuk naik sedikit lebih tinggi. Ada yang menjadikannya tempat berdiam tanpa bergerak. Ada yang mengisinya dengan belajar. Ada yang menghabiskannya dengan mengeluh. Ada yang menanam, ada pula yang sekadar menghitung hasil tanaman orang lain.

Jam yang sama, tetapi cerita yang lahir tidak pernah sama.

Mungkin memang hidup bukan soal berapa lama kita hidup, melainkan bagaimana kita menghabiskan waktu yang dipinjamkan kepada kita.

Waktu itu seperti air.

Ia tidak pernah berhenti mengalir. Kita tidak bisa membendungnya. Tidak bisa menariknya kembali. Air yang sudah lewat tidak pernah kembali ke hulu.

Begitu pula waktu.

Satu menit yang terbuang bukan hanya hilang satu menit. Ia membawa serta kesempatan yang mungkin tidak akan pernah datang lagi.

Itulah sebabnya orang bijak sering berkata, kehilangan uang masih bisa dicari. Kehilangan jabatan mungkin bisa diperjuangkan kembali. Kehilangan barang dapat dibeli lagi.

Tetapi kehilangan waktu adalah kehilangan yang tidak memiliki pengganti.

Karena waktu tidak mengenal kata "ulang".

Sering kali kita berkata, "Saya tidak punya waktu."

Padahal mungkin yang sebenarnya terjadi bukan kekurangan waktu, melainkan kekurangan prioritas.

Kita memiliki waktu untuk menggulir layar telepon selama berjam-jam.

Kita punya waktu mengikuti kehidupan orang lain di media sosial.

Kita punya waktu memperdebatkan hal-hal yang tidak mengubah apa pun.

Tetapi ketika diminta membaca sepuluh halaman buku, menemani anak belajar, berbincang dengan orang tua, atau berolahraga setengah jam, kita merasa waktu begitu sempit.

Barangkali bukan waktu yang kurang.

Yang kurang adalah kesadaran akan nilai waktu itu sendiri.

Ada orang yang dalam sehari hanya menghasilkan lelah.

Ada pula yang dalam sehari menghasilkan ilmu.

Ada yang dalam sehari membangun persahabatan.

Ada yang dalam sehari justru merusak kepercayaan yang telah dibangun bertahun-tahun.

Ada yang pulang membawa penyesalan.

Ada yang pulang membawa rasa syukur.

Semuanya berangkat dari dua puluh empat jam yang sama.

Maka sesungguhnya yang membedakan manusia bukan panjang waktunya, melainkan isi waktunya.

Waktu hanyalah wadah.

Kitalah yang menentukan apa yang dituangkan ke dalamnya.

Saya sering membayangkan, jika setiap malam kita diminta mempertanggungjawabkan dua puluh empat jam yang baru saja berlalu, apa yang akan kita ceritakan?

Bahwa hari ini kita telah menjadi manusia yang lebih baik?

Bahwa kita telah membantu seseorang?

Bahwa kita telah belajar sesuatu yang baru?

Ataukah kita hanya akan berkata, "Entahlah, hari ini berlalu begitu saja."

Betapa banyak hari yang hilang tanpa pernah benar-benar kita hidupi.

Kita hadir secara fisik, tetapi pikiran entah ke mana.

Kita bekerja, tetapi tanpa makna.

Kita berkumpul, tetapi tanpa percakapan.

Kita hidup, tetapi tidak sungguh-sungguh mengalami kehidupan.

Barangkali itulah mengapa usia tidak selalu sejalan dengan kedewasaan.

Ada orang yang hidup enam puluh tahun, tetapi sesungguhnya hanya mengulang satu tahun sebanyak enam puluh kali.

Sebaliknya, ada yang usianya belum panjang, tetapi hari-harinya dipenuhi belajar, berkarya, melayani, mencintai, dan memberi manfaat.

Mereka tidak memiliki waktu yang lebih banyak.

Mereka hanya lebih sadar bahwa waktu tidak boleh lewat begitu saja.

Pada akhirnya, hidup tidak diukur oleh kalender yang tergantung di dinding.

Ia diukur oleh apa yang kita lakukan di antara lembar-lembar kalender yang terus berguguran itu.

Dua puluh empat jam hari ini akan segera menjadi kemarin.

Besok, kita kembali menerima jatah yang sama.

Pertanyaannya bukan lagi berapa banyak waktu yang kita miliki.

Pertanyaannya adalah: untuk apa waktu itu kita habiskan?

Karena kelak, ketika umur telah sampai di ujungnya, barangkali kita tidak akan menyesali bahwa hidup terasa singkat.

Yang paling mungkin kita sesali adalah betapa banyak waktu yang kita miliki dahulu, tetapi kita biarkan berlalu tanpa arti.

Dan mungkin, kehidupan memang sesederhana itu.

Bukan tentang siapa yang diberi waktu lebih banyak.

Melainkan siapa yang mampu mengubah dua puluh empat jam yang sama menjadi kehidupan yang bermakna.