Konseling Catin: Investasi Kecil untuk Masa Depan Tanpa Stunting

Membaca dan Menulis
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Ahmad Syaiful Bahri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Setiap Selasa dan Jumat, di ruang pertemuan Balai Penyuluh KB Kec. Bojong Kab. Tegal dan KUA (Kantor Urusan Agama) Kecamatan Bojong tampak sedikit berbeda. Di sana, pasangan calon pengantin duduk berhadapan dengan Petugas Kesehatan, Penyuluh Keluarga Berencana, dan Penyuluh Agama. Mereka bukan hanya sekedar mengurus dokumen administrasi pernikahan, melainkan mengikuti sesi konseling pranikah yang menjadi bagian dari upaya besar menekan angka stunting di daerah. Program sederhana yang lahir dari kolaborasi lintas sektor ini kini menjadi langkah kecil yang berbuah besar: membangun keluarga sehat dan berkualitas sejak sebelum akad nikah terucap.
Menurut Anna Shinta Dewi, Koordinator Penyuluh KB Kec. Bojong, inisiatif ini berawal dari kesadaran bahwa pencegahan stunting tidak bisa jika hanya dimulai ketika anak sudah lahir. Stunting adalah masalah yang berakar dari kondisi gizi dan kesehatan sejak masa sebelum kehamilan. Karenanya, membekali calon pengantin—atau biasa disebut catin—dengan pengetahuan dan kesadaran tentang kesehatan reproduksi, gizi, serta perencanaan keluarga menjadi langkah strategis. Kenapa catin? Karena catin adalah gerbang menuju generasi selanjutnya. Dari catin inilah nantinya terbentuk keluarga, terlahir anak yang akan menjadi generasi penerus bangsa. Sehingga konseling ini bukan saja untuk mengedukasi, namun juga untuk menumbuhkan kesadaran dan komitmen setiap catin untuk berupaya mewujudkan keluarga berkualitas yang bebas stunting. "Kegiatan ini kini menjadi bagian dari kerja kolaboratif antara Puskesmas, KUA, dan Balai Penyuluh KB yang terhimpun dalam Tim Percepatan, Pencegahan, dan Penurunan Stunting (TP3S) Kecamatan Bojong," ujar Anna.
Program konseling pranikah lintas sektor ini sudah berjalan lebih dari satu tahun, tepatnya sejak Juni 2024. Setiap catin yang akan mendaftar untuk menikah harus mengikuti alur yang sudah ditetapkan. Diawali dengan pemeriksaan kesehatan di puskesmas, dilanjutkan dengan edukasi gizi, stunting dan 1000 HPK, kesehatan reproduksi, serta konseling terkait perencanaan kehidupan berkeluarga, termasuk di dalamnya kesiapan mental dan ekonomi dalam membangun keluarga. Konseling dan edukasi ini dilaksanakan di 3 tempat yang terpisah, yakni di Puskesmas,di Balai Penyuluh KB melalui program PPKS (Pusat Pelayanan Keluarga Sejahtera), serta di KUA dengan program Bimwinnya (Bimbingan Perkawinan). Setiap catin mendapatkan form konseling yang harus ditandatangani petugas dari Puskesmas, Penyuluh KB, dan Petugas dari KUA sebagai salah satu syarat untuk mendaftarkan pernikahan di KUA. Jadwal tetap—Selasa dan Jumat—menjadi simbol komitmen bersama antar lembaga. Di balik rutinitas itu, tersimpan misi besar: memastikan setiap calon ayah dan ibu memahami bahwa generasi sehat dimulai dari perencanaan yang matang dan tubuh yang siap.
Data menunjukkan, banyak kasus stunting berakar pada kondisi ibu hamil yang kurang gizi, anemia, atau menikah di usia terlalu muda. Melalui konseling catin, risiko-risiko tersebut bisa diidentifikasi sejak dini. Calon pengantin perempuan, misalnya, akan diperiksa kadar hemoglobinnya untuk mengetahui apakah ia mengalami anemia. Bila ditemukan masalah kesehatan, petugas akan memberikan pendampingan dan rujukan. Di sisi lain, penyuluh KB membantu pasangan merencanakan kehamilan yang sehat, menunda kehamilan jika kondisi kesehatan catin dinyatakan belum layak untuk hamil, juga bagaimana mengatur jarak kelahiran dengan kehamilan berikutnya agar tidak beresiko, merencanakan kehidupan berkeluarga termasuk di dalamnya pentingnya membekali diri dengan pengetahuan terkait pola asuh ataupun pengetahuan lainnya untuk mewujudkan generasi yang sehat dan berkualitas, sementara penyuluh agama menanamkan nilai-nilai keluarga sakinah yang sejalan dengan prinsip hidup sehat.
Yang membuat program ini istimewa adalah kolaborasinya. Puskesmas sebagai garda kesehatan, KUA sebagai lembaga pembinaan keluarga, dan Balai Penyuluh KB sebagai pendukung perencanaan keluarga—semuanya bekerja dalam satu semangat. Tidak ada lagi sekat antarinstansi; yang ada adalah gotong royong lintas profesi. Setiap sektor membawa keahliannya masing-masing: tenaga kesehatan menjelaskan risiko medis, penyuluh agama memberi landasan moral, dan petugas KB menyusun strategi perencanaan keluarga berkelanjutan. Hasilnya, masyarakat mendapat pelayanan yang utuh: jasmani, rohani, dan sosial.
Dampaknya mulai terasa. Selama setahun lebih pelaksanaan program, sudah ratusan calon pengantin yang berhasil dikonseling secara langsung. Banyak dari mereka mengaku baru memahami pentingnya pemeriksaan kesehatan sebelum menikah. Sebagian lainnya bahkan memutuskan menunda kehamilan pertama untuk mempersiapkan kondisi tubuh yang lebih sehat. Dan semua catin berkomitmen untuk terus berupaya menjaga lahirnya anak-anak yang sehat dan bebas stunting, anak-anak yang cerdas, bukan saja cerdas kaitan dengan intelegensi, namun juga terkait spiritual dan emosional. Kesadaran semacam ini adalah wujud nyata investasi sosial: menyiapkan generasi masa depan yang tidak hanya lahir, tetapi juga tumbuh optimal tanpa ancaman stunting. Karena sesungguhnya, mencegah jauh lebih murah dan lebih mulia daripada mengobati.
Pemerintah pusat melalui Strategi Nasional Percepatan Penurunan Stunting telah menekankan pentingnya intervensi sejak sebelum kehamilan. Apa yang dilakukan oleh TP3S melalui kegiatan konseling catin di tingkat desa dan kecamatan adalah implementasi nyata strategi itu di akar rumput. Di sinilah letak kekuatan sesungguhnya: menggerakkan sumber daya lokal, menyatukan instansi, dan menjadikan masyarakat subjek utama perubahan. Bila setiap desa memiliki program serupa, maka cita-cita Indonesia bebas stunting bukan sekadar slogan, melainkan keniscayaan.
Kini, setiap Selasa dan Jumat bukan sekadar hari kerja biasa di Puskesmas, KUA, atau Balai Penyuluh KB. Ia menjadi hari di mana masa depan bangsa sedang disiapkan, pelan namun pasti. Dari ruang konseling sederhana itulah lahir harapan baru: pasangan muda yang lebih sadar, keluarga yang lebih siap, dan generasi yang lebih sehat. Program ini mungkin terlihat kecil, tapi sejatinya ia adalah investasi besar bagi masa depan. Sebagaimana harapan para petugas lapangan yang dengan sabar mendampingi para catin, semoga setiap pertemuan pranikah menjadi awal dari cerita panjang Indonesia tanpa stunting.
