Konten dari Pengguna

Penanganan Stunting: Kolaborasi yang Harus Nyata

Ahmad Syaiful Bahri

Ahmad Syaiful Bahri

Membaca dan Menulis

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ahmad Syaiful Bahri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Penurunan stunting tidak mungkin berhasil jika hanya menjadi tanggung jawab pemerintah. Dunia usaha dapat mengambil peran lewat program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) yang fokus pada gizi anak dan kesehatan ibu. Akademisi bisa menyediakan riset dan inovasi intervensi berbasis bukti. Media massa mampu menjadi saluran kampanye yang menjangkau jutaan orang.

Lembaga swadaya masyarakat (LSM) dapat membantu memberdayakan komunitas secara langsung, terutama di daerah-daerah terpencil. Sementara itu, masyarakat sendiri memegang peran vital: memastikan ibu hamil mendapatkan gizi yang cukup, menerapkan pemberian ASI eksklusif, menjaga sanitasi rumah, dan memanfaatkan pekarangan untuk menambah asupan gizi keluarga.

Menatap Masa Depan

Menurunkan stunting bukan sekadar mengejar angka target. Ini adalah investasi jangka panjang untuk membentuk generasi emas Indonesia 2045—generasi yang sehat, cerdas, dan produktif.

Kegagalan mengatasi stunting berarti kehilangan potensi sumber daya manusia dalam jumlah besar. Namun, jika kita berhasil, manfaatnya akan berlipat ganda: anak-anak tumbuh optimal, prestasi akademik meningkat, produktivitas kerja naik, dan daya saing bangsa menguat di kancah global.

Kita semua memiliki tanggung jawab. Stunting bukan masalah pemerintah saja, melainkan tantangan seluruh bangsa. Setiap langkah kecil—mulai dari memberi makan bergizi di rumah hingga menyusun kebijakan di tingkat nasional—akan menjadi bagian dari gerakan besar ini.

Sudah saatnya kita memandang stunting bukan sebagai beban, tetapi sebagai panggilan untuk bersatu. Karena setiap anak Indonesia berhak tumbuh sehat, cerdas, dan penuh potensi.