Konten dari Pengguna

Pengasuhan dan Stimulasi Dini (1)

Ahmad Syaiful Bahri

Ahmad Syaiful Bahri

Membaca dan Menulis

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ahmad Syaiful Bahri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di banyak keluarga, masa kecil sering dipahami sekadar fase bermain dan bertumbuh. Padahal, para ahli perkembangan anak menyebut usia 0–6 tahun sebagai periode emas atau golden age, masa ketika otak anak berkembang sangat cepat dan menentukan kualitas kehidupannya di masa depan. Pada rentang usia itu, terutama 0–2 tahun, miliaran sambungan saraf di otak terbentuk melalui pengalaman, sentuhan, suara, kasih sayang, dan stimulasi yang diterima anak setiap hari. Organisasi kesehatan dunia, WHO, bahkan menegaskan bahwa stimulasi dini dan pengasuhan yang responsif menjadi fondasi penting bagi kesehatan mental, kecerdasan, dan kemampuan sosial anak di kemudian hari.

Penelitian neurosains menunjukkan bahwa sekitar 80 persen perkembangan otak anak terjadi sebelum usia lima tahun. Di fase inilah otak bekerja seperti spons, menyerap berbagai pengalaman dengan sangat cepat. Anak yang sering diajak berbicara, dipeluk, dibacakan cerita, atau diajak bermain aktif akan memiliki jalur saraf yang semakin kuat karena terus digunakan. Sebaliknya, ketika anak tumbuh tanpa stimulasi yang cukup, otak akan melakukan proses alami yang disebut synaptic pruning atau pemangkasan sinaptik. Dalam proses ini, sambungan-sambungan saraf yang jarang dipakai akan dibuang, sementara koneksi yang sering digunakan akan dipertahankan dan diperkuat. Ibarat jalan setapak, jalur yang sering dilalui akan semakin jelas, sedangkan yang jarang digunakan perlahan menghilang.

Karena itu, pengasuhan tidak cukup hanya memastikan anak kenyang dan sehat secara fisik. Anak membutuhkan kehadiran emosional, perhatian, interaksi, dan lingkungan yang mendukung tumbuh kembangnya. Hal-hal sederhana seperti mengajak anak berbicara, mendengarkan celotehnya, bermain bersama, atau memberi kesempatan bereksplorasi ternyata memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan otak.

Sayangnya, masih banyak orang tua yang menganggap stimulasi dini sebagai sesuatu yang rumit atau mahal. Padahal, stimulasi terbaik justru lahir dari kedekatan sehari-hari antara anak dan orang tua. Tantangan ekonomi, tekanan pekerjaan, hingga paparan gawai yang berlebihan sering membuat interaksi berkualitas dengan anak semakin berkurang. Di sisi lain, data Kementerian Kesehatan menunjukkan masih adanya persoalan tumbuh kembang anak di Indonesia, termasuk keterlambatan bicara dan gangguan perkembangan yang kerap terlambat terdeteksi. Situasi ini menjadi pengingat bahwa investasi terbesar bagi masa depan bangsa sebenarnya dimulai dari rumah, sejak seorang anak lahir.

Maka, tanggung jawab pengasuhan dan stimulasi dini tidak bisa dibebankan hanya kepada ibu atau ayah semata. Semua memiliki peran: keluarga, masyarakat, tenaga kesehatan, guru, hingga pemerintah. Negara perlu memastikan hadirnya layanan kesehatan ibu dan anak yang mudah dijangkau, edukasi pengasuhan yang merata, serta lingkungan yang aman dan ramah anak. Sebab, masa emas anak tidak datang dua kali. Apa yang diberikan pada tahun-tahun awal kehidupannya akan menjadi pondasi bagi kualitas manusia Indonesia di masa depan.