Konten dari Pengguna

Stunting: Tantangan Bangsa yang Memanggil Kolaborasi Nyata

Ahmad Syaiful Bahri

Ahmad Syaiful Bahri

Membaca dan Menulis

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ahmad Syaiful Bahri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Stunting sering kali dipersempit maknanya hanya sebatas masalah kekurangan gizi. Padahal, kenyataannya jauh lebih kompleks. Lebih dari Sekadar Masalah Gizi. Ia adalah potret persoalan pembangunan manusia yang menyentuh berbagai aspek—mulai dari kesehatan, pendidikan, ekonomi keluarga, hingga pola asuh yang diwariskan lintas generasi.

Anak yang mengalami stunting memang secara fisik memiliki tinggi badan di bawah rata-rata usianya. Namun, yang lebih mengkhawatirkan adalah efek yang tidak langsung terlihat: perkembangan otak yang terhambat, penurunan kemampuan belajar, serta potensi kerja yang menurun di masa depan. Artinya, stunting adalah ancaman terhadap kualitas generasi penerus bangsa.

Masalah ini bukan sekadar urusan kesehatan, melainkan menyangkut masa depan daya saing Indonesia. Anak-anak yang tumbuh dengan gizi baik dan stimulasi yang tepat akan menjadi modal utama bagi kemajuan negara. Sebaliknya, jika kita gagal menanganinya, maka kita akan kehilangan generasi emas yang seharusnya menjadi penggerak pembangunan.

Data pemerintah menunjukkan, pada tahun 2018 prevalensi stunting di Indonesia mencapai 30,8%. Dalam kurun lima tahun, angka ini berhasil diturunkan menjadi 21,5%. Pencapaian ini patut diapresiasi, karena tidak mudah mengubah angka di tingkat nasional dalam waktu singkat. Namun, kita masih jauh dari target yang ditetapkan: 14,4% pada tahun 2029, dan bahkan 5% pada tahun 2045. Perjalanan masih panjang, dan tantangannya semakin kompleks.

Mengapa Pendekatan Biasa Tidak Cukup

Pengalaman lima tahun terakhir membuktikan, penanganan stunting yang dilakukan secara terpisah antar sektor tidak akan memberikan hasil maksimal. Stunting adalah masalah yang lintas disiplin dan saling terkait. Mengintervensi satu aspek saja, seperti pemberian makanan bergizi, tanpa memperhatikan sanitasi atau pendidikan orang tua, sering kali tidak menghasilkan perubahan berarti.

Kesehatan anak sangat dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Misalnya, gizi yang baik bisa terhambat manfaatnya jika anak tinggal di lingkungan dengan air yang tidak layak minum atau kebiasaan buang air besar sembarangan.

Pendidikan orang tua tentang pola asuh juga berperan besar—anak yang makan cukup tetapi tidak mendapatkan stimulasi mental sejak dini tetap berisiko tertinggal dalam perkembangan.

Menyadari hal ini, idealnya memang pemerintah harus mengadopsi pendekatan konvergensi. Ini bukan sekadar konsep kerja sama, melainkan integrasi penuh antara berbagai program dan sumber daya.

Semoga stunting semakin turun di masa-masa yang akan datang.