Tabi'at yang Terburu-buru

Membaca dan Menulis
·waktu baca 1 menit
Tulisan dari Ahmad Syaiful Bahri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Sudah menjadi watak manusia yaitu terburu-buru, saya menulis ini karena lapar ingin segera makan, dalam otakku berfikir kenapa harus memakai pakaian terlebih dahulu, kenapa harus naruh ini dulu, kenapa harus mengganti baju dulu, ah banyak kenapanya.
Saya memahami bahwa manusia itu memang wataknya dan tabi'atnya adalah terburu-buru, segala sesuatu pengen dikerjakan secara cepat dan kilat. Gak mikir nanti akan seperti apa hasilnya. Jika segala sesuatu bisa dikerjakan dua hal sekaligus kenapa tidak, yang penting cepat selesai.
Sifat terburu-buru ini sebenarnya ada sejak dulu kala ketika Adam dan Hawa memakan buah khuldi, imbas dari godaan iblis, tidak difikir panjang, dalam fikirannya itu buah yang enak, bisa menjadi abadi, maka tergoda-lah, terburu-buru untuk segera menikmatinya.
Dalam pekerjaan saja, saya terkadang terburu-buru, tanpa fikir panjang nanti hasilnya seperti apa, maka biasanya yang saya lakukan tarik nafas dalam-dalam, lalu hembuskan agar semua bisa sedikit lega, memikirkan apa yang saya lakukan sudah pas apa belum.
Terburu-buru itu tidak baik, jadi ya nikmatilah hidup ini selagi kita masih diberikan nyawa, diberikan kesempatan menghirup udara segar setiap pagi.
