Konten dari Pengguna

Modal Baru Lulusan: Dari Ijazah ke Graduate Capital

Bahrul ulum Ilham, SPd, MM, PhD

Bahrul ulum Ilham, SPd, MM, PhD

Dosen di Institut Teknologi dan Bisnis (ITB) Nobel Indonesia kota Makassar. Konsultan pada Pusat Layanan Usaha Terpadu (PLUT) Sulawesi Selatan. Ketua Yayasan Smart Insan Utama. Ph.D (Doctor of Philosophy in Management) di UniKL Malaysia 2025

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Bahrul ulum Ilham, SPd, MM, PhD tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Illustrasi graduate capital model (GCM), powered by AI
zoom-in-whitePerbesar
Illustrasi graduate capital model (GCM), powered by AI

Setiap tahun, ratusan ribu mahasiswa menanggalkan toga dengan penuh harapan akan masa depan cerah. Namun, realitas di lapangan sering kali tak seindah prosesi wisuda. Data Badan Pusat Statistik (BPS) Februari 2025, dari total 153 juta angkatan kerja di Indonesia, sebanyak 7,28 juta orang masih menganggur, dengan 1 juta orang lulusan universitas, 177 ribu lulusan diploma. Angka ini menunjukkan bahwa ijazah bukan lagi jaminan untuk memperoleh pekerjaan yang layak.

Saat ini kemampuan kerja lulusan (graduate employability) menjadi isu strategis dalam pendidikan tinggi di seluruh dunia. Perguruan tinggi tidak cukup hanya menghasilkan lulusan yang memiliki ijazah, tetapi juga lulusan yang mampu beradaptasi, bersaing, dan berkontribusi dalam pasar kerja yang berubah cepat. Berkaitan hal ini, Dr. Michael Tomlinson memperkenalkan Graduate Capital Model (GCM) sebagai pendekatan mengenai keterampilan kerja. Sebagai profesor di University of Southampton, Inggris, Michael Tomlinson dikenal sebagai pakar pendidikan tinggi, pekerjaan, dan employability. Employability dipandang bukan sebagai keterampilan teknis (hard skills), GCM menekankan bahwa lulusan memiliki “modal” yang beragam baik bersifat kognitif, sosial, psikologis, maupun kultural yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber daya strategis untuk membangun karier.

Graduate Capital Model (GCM) sebagai kerangka untuk memahami bagaimana lulusan dapat mempersiapkan diri menghadapi pasar kerja yang dinamis. Model ini tidak hanya melihat “ijazah” sebagai modal utama, tetapi juga menekankan lima bentuk kapital yang saling terkait:

1. Human Capital – keterampilan teknis, keilmuan, dan kompetensi kerja.

2. Social Capital – jejaring, relasi, dan koneksi yang membuka peluang kerja maupun kolaborasi.

3. Cultural Capital – pemahaman nilai, norma, serta kemampuan beradaptasi dengan budaya organisasi atau global.

4. Identity Capital – kejelasan tujuan, citra diri, dan narasi personal yang meyakinkan pasar kerja.

5. Psychological Capital – daya tahan mental, optimisme, serta kemampuan mengelola tekanan.

Dengan gambaran di atas, employability bukan sekadar soal “seberapa pintar” seseorang, tetapi juga siapa yang mereka kenal, bagaimana mereka memandang diri, dan seberapa tangguh mereka menghadapi perubahan. Inilah alasan lulusan yang mampu mengoptimalkan kelima modal akan lebih mudah beradaptasi, masuk, dan berkembang dalam pasar kerja yang kompetitif.

Implementasi Graduate Capital Model (GCM) dilakukan secara bertahap baik oleh mahasiswa, dosen, maupun institusi pendidikan. Bagi mahasiswa, langkah awal yang penting adalah melakukan refleksi diri dengan menilai modal apa saja yang sudah dimiliki dan aspek mana yang masih perlu dikembangkan. Proses ini kemudian dapat diperkuat melalui pendampingan dan mentoring, di mana dosen atau mentor berperan membantu merumuskan strategi penguatan modal sosial, misalnya dengan mendorong keterlibatan aktif di komunitas, organisasi profesi, atau kegiatan kolaboratif lintas disiplin.

Di tingkat kurikulum, pendidik dapat merancang pengalaman belajar yang lebih kontekstual, seperti proyek berbasis industri, case study nyata, hingga simulasi negosiasi bisnis lintas budaya yang melatih keterampilan praktis sekaligus soft skills. Beberapa institusi bahkan mulai mengembangkan tes kesiapan karier berbasis GCM untuk memetakan kekuatan dan kelemahan mahasiswa, sehingga mereka memperoleh gambaran yang lebih jelas tentang langkah yang perlu ditempuh sebelum memasuki dunia kerja.

Dari Lulusan Menjadi Graduate Entrepreneur

Graduate Capital Model bukan hanya terkait menyiapkan lulusan di dunia kerja, tetapi juga bagi mereka yang memilih jalur kewirausahaan. Human capital, misalnya, tidak hanya berarti keterampilan teknis sesuai bidang studi, tetapi juga kemampuan mengelola bisnis, memahami pasar, hingga memanfaatkan teknologi digital. Social capital menjadi krusial ketika mahasiswa wirausaha membangun jejaring dengan mentor, investor, komunitas startup, maupun calon pelanggan. Cultural capital membantu mereka membaca norma sosial dan tren budaya yang dapat diterjemahkan menjadi peluang bisnis, sementara identity capital memberi arah yang jelas dalam membangun citra diri sebagai entrepreneur muda dengan visi kuat. Yang tak kalah penting, psychological capital menopang daya tahan mereka saat menghadapi risiko, kegagalan, dan ketidakpastian yang melekat dalam dunia usaha.

Dengan demikian, GCM mendorong mahasiswa untuk tidak berhenti pada peran sebagai job seeker, melainkan melangkah lebih jauh menjadi job creator yang berkontribusi pada penciptaan lapangan kerja baru dan penguatan ekonomi bangsa. Dengan demikian GCM juga selaras dengan kebutuhan Indonesia mendorong kewirausahaan. Lulusan tidak harus selalu berorientasi menjadi pekerja atau profesional. Dengan modal sosial, kultural, identitas, psikologis, dan keterampilan teknis, mereka bisa menciptakan usaha, berinovasi di sektor UMKM, atau bahkan membangun start-up digital.

Dalam konteks ini, graduate capital bisa dilihat sebagai bekal “multidimensi” untuk menavigasi masa depan karier. Lulusan yang kaya modal sosial akan lebih mudah menemukan mitra bisnis; yang kuat modal identitas akan percaya diri membangun brand; yang tinggi modal psikologis akan mampu bertahan menghadapi kegagalan awal.

Penutup: Mengubah Paradigma Pendidikan

Data BPS 2025 tentang pengangguran terdidik seharusnya menjadi alarm bagi perguruan tinggi. Dunia kerja kini tidak lagi cukup ditaklukkan hanya dengan ijazah. Perlu ada pergeseran paradigma pendidikan: dari sekadar “menghasilkan lulusan” menjadi “membentuk kapital lulusan.”

Graduate Capital Model memberi peta jalan yang jelas. Dengan membekali mahasiswa sejak dini dengan human capital, social capital, cultural capital, identity capital, dan psychological capital, Indonesia tidak hanya akan memiliki lulusan yang siap kerja, tetapi juga lulusan yang siap bersaing, siap berinovasi, dan siap berkontribusi bagi ekonomi nasional.

Pada akhirnya, lulusan yang benar-benar unggul bukanlah mereka yang hanya memegang selembar ijazah, melainkan mereka yang mampu menggabungkan ilmu, jejaring, kepribadian, dan ketangguhan dalam menghadapi dunia yang terus berubah.