Mengenal Nilai Filosofis Tradisi Mappasikarawa dalam Pernikahan Suku Bugis

Bakri Tahir
Magister Hukum Keluarga Islam, Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Majene
Konten dari Pengguna
25 Februari 2024 9:39 WIB
·
waktu baca 6 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Bakri Tahir tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Proses Mappasikarawa dalam tradisi pernikahan suku bugis. Gambar Inews.id
zoom-in-whitePerbesar
Proses Mappasikarawa dalam tradisi pernikahan suku bugis. Gambar Inews.id
ADVERTISEMENT
"Pernikahan adalah cara terbaik membuat orang lain menjadi bukan orang lain" adalah narasi yang menggambarkan dan sekaligus menjadi salah satu landasan prinsip yang dipegang oleh suku bugis dalam menginterpretasikan makna dari suatu pernikahan. Hal inilah yang kemudian membuat setiap proses dalam tradisi upacara pernikahan suku bugis sangat sakral, dan penuh dengan makna. Cara pandang suku bugis tentang makna suatu pernikahan tersebut terus dipelihara dengan baik hingga saat ini.
ADVERTISEMENT
Salah-satu bagian penting dalam tradisi pernikahan suku bugis yang dimaksud adalah Mappasikarawa. Tradisi ini adalah salah satu dari sejumlah prosesi yang dilalui selama upacara pernikahan suku bugis. Mappasikarawa sendiri merupakan bahasa bugis dengan kata dasarnya Sikarawa yang artinya "saling menyentuh". Sementara itu, kata mappa adalah elemen kata lain yang senada dengan imbuhan me-.
Proses Mappasikarawa dilakukan setelah akad nikah, dimana mempelai laki-laki akan dituntun oleh seorang tokoh masyarakat yang dalam bahasa bugis disebut pappasikarawa, menuju ke kamar mempelai wanita. Dalam prosesi ini, mempelai laki-laki akan diarahkan untuk Makkarawa (menyentuh) bagian tubuh tertentu mempelai wanita sebagai penanda bahwa keduanya sudah sah untuk saling bersentuhan (Seliana, 2018).
Ilustrasi Prosesi akad nikah. Gambar: Shutterstock
Sebagaimana setiap orang mengharapkan yang baik dalam suatu pernikahan, demikian halnya dengan tradisi Mappasikarawa. Tradisi ini memuat sejumlah makna yang sejak dulu diyakini oleh masyarakat suku bugis. Mappasikarawa melambangkan harapan bahwa di kemudian hari kedua mempelai yang telah sah menjadi suami istri akan selalu dihampiri oleh hal-hal baik seperti, kebahagiaan, kedamaian, keselamatan, dan kesejahteraan dalam rumah tangganya (Nurasyisa, 2023).
ADVERTISEMENT
Disamping itu, setiap bagian tubuh mempelai wanita yang disentuh oleh mempelai pria juga memiliki makna tersendiri. Walaupun sebetulnya tidak ada konsensus tentang bagian tubuh mana pada wanita yang akan disentuh pertama kali oleh mempelai laki-laki, tetapi bagian-bagian yang disentuh pasti selalu memiliki arti atau makna.
Simbol dan Makna Filosofis Tradisi Mappasikarawa
Tradisi Mappasikarawa menggunakan beberapa bagian tubuh tertentu sebagai simbol yang memuat makna-makna tertentu. Dalam hal ini, peran Pappasikarawa sangat penting dalam mengarahkan mempelai pria tentang bagian tubuh apa yang baik untuk disentuh oleh mempelai pria (Afrandi, 2022).
Tetapi, secara umum dalam tradisi Mappasikarawa, bagian-bagian tubuh atau simbol yang disentuh dalam prosesi Mappasikarawa diantaranya adalah Jempol/ibu jari, Telapak Tangan, Pangkal lengan, Dada, Dahi, Perut, dan Ubun-ubun (Ridiliadi, 2021). Sentuhan pertama dalam tradisi ini adalah kedua ibu jari mempelai pria dan mempelai wanita yang saling bersentuhan.
ADVERTISEMENT
Merapatkan ibu jari antara suami dan istri diyakini akan membuat kedua mempelai akan selalu bersama dan abadi dalam rumah tangganya, meski terpisah oleh jarak dan waktu. Oleh karena itu, agar tidak terjadi perpisahan antara kedua pasangan suami istri yang baru menikah, maka pada saat merapatkan ibu jari mempelai, pappasikarawa akan melantunkan doa yang mengandung harapan agar suami istri dapat hidup rukun, damai, dan tenteram (Idrus, 2023).
Tindakan lainnya dalam tradisi Mappasikarawa adalah mempelai pria memegang tapak tangan mempelai wanita, khususnya pada bagian tapak tangan yang berisi daging. Bagian tapak tangan yang berisi daging merupakan simbol rezeki manusia. Dalam kesempatan tersebut, pappasikarawa akan mengarahkan ibu jari mempelai laki-laki untuk menyentuh telapak tangan istrinya.
ADVERTISEMENT
Oleh karena itu, ketika jari-jari mempelai laki-laki diletakkan di atas telapak tangan istri, maka didalamnya ada harapan bahwasanya dikemudian hari rezekinya akan dimudahkan bahkan tidak pernah menghadapi kesulitan dalam mencari rezeki. Singkatnya, tindakan ini memuat makna filosofis bahwasanya setiap rejeki akan selalu lancar tanpa terputus ibarat tapak tangan, namun tetap diiringi doa dan usaha. Selain itu, sentuhan suami terhadap istri pada tapak tangan melambangkan ketaatan seorang istri terhadap suaminya.
Ilustrasi. Gambar: Shutterstock
Bagian tubuh yang juga adalah simbol yang memuat makna filosofis dalam tradisi mappasikarawa adalah Pangkal Lengan. Lengan sendiri adalah lambang kekuatan dalam bekerja, dalam hal ini dengan menyentuh pangkal lengan mempelai wanita, diharapkan mereka dapat bekerja keras dalam mewujudkan keluarga yang sejahterah (Iva & Nurfadillah, 2022).
ADVERTISEMENT
Selain itu, menyentuh Pangkal Lengan melambangkan kekuatan dan kesehatan kedua mempelai karena pangkal lengan merupakan simbol kekuatan dan kesehatan bagi istri. Menyentuh lengan memuat harapan bahwa pengantin akan selalu sehat dan sejahtera bersama seluruh keturunannya. Sembari mempelai pria menyentuh lengan mempelai wanita, pappasikarawa akan melantunkan doa yang mendalam dengan harapan-harapan yang baik bagi kedua mempelai (Idrus, 2023).
Ilustrasi. Gambar: Shutterstock
Simbol lainnya dalam tradisi Mappasikarawa adalah menyentuh bagian dada mempelai wanita. Dada adalah simbol kerendahan hati, dan sifat alamiah manusia. Selainitu bagian tubuh tersebut adalah hal terpenting yang menjadi sumber makanan pertama ketika manusia baru lahir (Idrus, 2023).
Dalam tradisi ini, pappasikarawa akan mengarahkan mempelai laki-laki untuk menyentuh area dada bagian kiri mempelai wanita menggunakan ibu jarinya. Sentuhan pada bagian dada memiliki makna filosofis yang cukup mendalam. Menyentuh area dada melambangkan sifat alamiah wanita dan pria agar kelak di kemudian hari akan senantiasa bersifat lembut, penyayang, dan sabar dalam menjalani kehidupan berumahtangga (Afrandi, 2022). Selain itu, tindakan ini memuat harapan bahwa hubungan rumah tangga yang dibangun, kelak akan dijalani dengan rasa cinta dan saling percaya antara suami dan istri.
ADVERTISEMENT
Tradisi Mappasikarawa juga melibatkan sentuhan pada bagian dahi mempelai wanita. Simbol ini melambangkan ketaatan dan kepatuhan seorang istri kepada suaminya. Makna filosofis dibalik tintakan menyentuh dahi adalah harapan bahwasanya dalam kehidupan keluarganya, sang istri akan tunduk dan patuh pada perkataan suaminya. Bahkan, jika kelak sang istri mendapatkan pekerjaan atau jabatan yang lebih tinggi dari suaminya, ia akan selalu menghargai dan menghormati suaminya.
Harapan yang sama juga seperti itu pada kondisi yang belaliknya. Dalam hal ini, suami harus berkomitmen dan bertanggungjawab dalam menafkahi dan membahagiakan istri. Menyentuh dahi juga memuat harapan bahwa kedepannya sang istri tidak akan durhaka, tidak berkhianat, tidak sombong, dan merasa tinggi hati terhadap suaminya (Damayanti, 2022).
Ilustrasi. Gambar: Shuttherstock
Selain itu, sentuhan mempelai laki-laki pada bagian perut mempelai wanita juga adalah simbol dalam tradisi mappasikarawa. Sentuhan pada area perut diyakini sebagai lambang tanggung jawab seorang suami untuk menafkahi seluruh keluarganya, karena nyawa ada di dalam perut, maka seorang suami bertanggung jawab penuh untuk mencari nafkah agar kebutuhan hidup keluarganya terpenuhi (Idrus, 2023).
ADVERTISEMENT
Simbol lainnya juga terletak pada sentuhan laki-laki pada ubun-ubun mempelai wanita. pada momentum ini, pappasikarawa akan menuntun mempelai pria untuk menyentuh ubun-ubun mempelai wanita dengan menggunakan ibu jarinya. Ubun-ubun sendiri adalah simbol kasih sayang, rasa hormat dan perlindungan. menyentuh ubun-ubun mengindikasikan adanya harapan bahwa nantinya suami akan memberikan seluruh kasih sayangnya kepada istrinya, begitupun kasih sayang istri terhadap suaminya (Damayanti, 2022).
Simbol-simbol di atas pada dasarnya hanya beberapa dari sekian bagian tubuh mempelai wanita yang biasanya disentuh oleh mempelai laki-laki dalam tradisi Mappasikarawa pernikahan suku bugis. Kesemuanya itu sangat tergantung pada bagian tubuh apa yang baik, yang diarahkan oleh pappasikarawa terhadap mempelai laki-laki untuk disentuh.
Tradisi Mappasikarawa diatas telah dilakukan secara turun-temurun oleh suku bugis. Menjalankan tradisi ini sama halnya dengan memelihara nilai-nilai yang dipegang teguh oleh para pendahulu suku bugis. Terlepas dari itu, tradisi mappasikarawa adalah cerminan dari keberagaman suku dan tradisi di Indonesia. keberagaman ini adalah warisan yang perlu dilestarikan, dan adalah hal penting bagi kita selaku bangsa Indonesia untuk saling menghargai masing-masing tradisi satu sama lain.
ADVERTISEMENT