Konten dari Pengguna

Berawal dari Postingan di Media Sosial, Berujung pada Penyakit "Hati"

Balance Stefany Ramandha

Balance Stefany Ramandha

Saya merupakan seorang mahasiswi aktif semester 1 prodi S-1 Akuntansi di Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta. Saya merupakan pribadi yang teliti, selalu mau berusaha, optimis, dan mampu beradaptasi dengan baik.

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Balance Stefany Ramandha tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi media sosial dan mata. Foto: Pixabay.com
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi media sosial dan mata. Foto: Pixabay.com

Di era perkembangan teknologi yang pesat ini, media sosial menjadi salah satu hal yang tak pernah lepas dari para penggunanya serta berkaitan pula dengan penyakit "hati" atau ain. Di dalam laman media sosial seperti Instagram maupun Twitter kita memiliki kebebasan untuk membagikan unggahan apapun, baik yang sifatnya bermanfaat, bercerita mengenai keluh kesah, gurauan, atau sekadar ingin membagikan kebahagiaan pribadi semata. Namun, dibalik unggahan tersebut justru berpotensi mengundang keburukan setelahnya yang bisa menimpa si pemilik foto dan menjadi sebab timbulnya penyakit ain. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa media sosial dengan ain ini saling berkaitan. Untuk mengetahui lebih lengkapnya simak tulisan ini sampai akhir ya, Sobat Kumparan! Pengertian Ain

Ain adalah penyakit non fisik yang berawal dari sebuah pandangan yang disertai dengan perasaan iri serta dengki. Penyakit ain juga dapat diartikan sebagai penyakit yang timbul dikarenakan pandangan takjub terhadap sesuatu yang tidak disertai dengan berdzikir kepada Allah SWT sehingga mengakibatkan adanya bahaya pada orang yang dilihatnya. Pada kesimpulannya, penyakit ain ini merupakan sebuah penyakit tidak kasat mata atau non fisik yang berawal dari pandangan jahat. Kaitan Media Sosial dengan Ain

Seperti yang telah disinggung pada awal pembahasan, bahwa media sosial ini berkaitan dengan penyakit tidak kasat mata atau dalam Islam dinamakan ain. Lantas, bagaimana keterkaitan antar keduanya? Media sosial menjadi salah satu sarana yang cukup berpotensi dalam penyebaran penyakit ain ini. Beragam postingan dapat kita temukan didalamnya, dan kita pun tidak bisa menampik bahwa orang lain dapat dengan bebas melihat, memberikan like maupun berkomentar. Tentu saja kita tidak dapat melarangnya, bukan? Disamping itu, orang lain pun pasti memiliki sudut pandangnya sendiri ketika melihat suatu postingan tertentu, dan menimbulkan berbagai macam reaksi yang terkadang disertai rasa iri serta dengki tanpa disadari. Rasa tidak suka itulah yang berpotensi menjadi penyakit ain bagi si pemilik foto. Jadi, dari sebuah postingan di media sosial dapat mendatangkan malapetaka jika kita tidak berwaspada.

Hadits Terkait Bahaya Ain

Pernahkah kalian melihat orang yang tiba-tiba jatuh sakit tanpa alasan yang jelas? Atau jatuh miskin padahal sebelumnya hidup dengan kemewahan? Jika kalian pernah melihatnya, itulah salah satu bentuk nyata dari penyakit ain. Bukankah sangat berbahaya? Tentu, ain itu memang sangat berbahaya dan tidak boleh dianggap remeh, sebagaimana yang telah dijelaskan dalam hadits berikut ini: "Ain itu benar-benar ada! Andaikan ada sesuatu yang bisa mendahului takdir, sungguh ain itu yang bisa." (HR. Muslim no. 2188). أَكْثَرُ مَنْ يَمُوْتُ مِنْ أُمَّتِي بَعْدَ قَضَاءِ اللهِ وَقَدَرِهِ بِالْعَيْنِ

Rasulullah SAW bersabda: "Umatku paling banyak wafat setelah qadha Allah dan qadarnya adalah karena disebabkan penyakit ain." (HR. Abu Dawud, Bukhari, Al Hakim, At Tirmidzi, melalui jalur Jabir bin Abdullah ra).

Berdasarkan kedua hadits tersebut, sebenarnya sudah jelas sekali bahwa ain memang nyata adanya dan sangat berbahaya serta bisa membuat orang yang terkena penyakit ini menjadi jatuh sakit tanpa alasan medis yang jelas, tertimpa musibah, hingga menyebabkan kematian.

Jenis-Jenis Ain

Menurut pandangan Islam, ain sendiri terbagi menjadi tiga jenis yaitu:

1. 'Ain Mu'jibah, yaitu ketika seseorang memandang sesuatu dengan rasa takjub yang disertai ungkapan pujian tetapi tidak menyebut nama Allah SWT atau tidak disertai dengan ucapan doa kebaikan.

2. 'Ain Muta'ajjibah, yaitu ketika seseorang memandang sesuatu dengan rasa takjub tetapi tidak menyertakan nama Allah SWT dalam rasa kagum tersebut.

3. 'Ain Haasidah, merupakan ain yang paling berbahaya. Misalnya ketika melihat kenikmatan yang ada pada orang lain, dengan disertai rasa iri dan dengki serta berkeinginan agar nikmat itu hilang dari orang tersebut.

Berdasarkan ketiga jenis ain tersebut, pada intinya ain terjadi ketika merasa kagum ataupun melihat kenikmatan pada orang lain yang tidak disertai dengan ucapan doa kebaikan untuk orang yang dilihatnya. Gejala

Terdapat beberapa gejala atau tanda-tanda ketika seseorang terkena penyakit ain yang dapat kita kenali dan waspadai. Baik dialami semuanya atau hanya beberapa saja, tergantung pada kekuatan ain itu sendiri. Syaikh Abdul Aziz As-Sadhan Hafidzahullahu Ta’ala menjelaskan gejala penyakit ain sebagai berikut:

  • Adanya saf'ah (kehitaman atau pucat, atau merah kehitam-hitaman, atau hitam disertai warna lain) pada wajah

  • Sering emosi berlebihan

  • Rasa khawatir dan takut yang tidak menentu

  • Terlalu sering bersendawa

  • Terlalu sering menguap

  • Terasa sempit di bagian dada, punggung panas, dan dinginnya seluruh ujung-ujung badan

  • Sulit tidur di malam hari

  • Seringnya buang air kecil

  • Sering berkeringat

  • Seringnya mengeluarkan air mata dari salah satu mata

  • Tiba-tiba tidak bisa bicara, mendengar, ataupun melihat

  • Sering sakit kepala

  • Mengalami masalah kesehatan tertentu tanpa diketahui secara jelas oleh medis

  • Menurunnya nafsu makan

  • Menyendiri

  • Hati terasa mati

Seperti penjabaran yang tertera diatas, ain ini memiliki gejala yang beberapa diantaranya dapat dengan mudah untuk kita kenali dan waspadai.

Cara Mencegah Ain

Apakah penyakit ini bisa dicegah? Ya tentu saja bisa, ain dapat dicegah salah satunya dengan melalui doa. Para ulama Nahdlatul Ulama (NU) menjelaskan bacaan doa agar terhindar dari penyakit ain, diantaranya sebagai berikut: أُعِيْذُكَ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّةِ مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ، وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لاَمَّةٍ. اَللَّهُمَّ بَارِكْ فِيْهِ وَلَا تَضُرَّهُ U‘îdzuka bikalimâtillâhit tâmmati min kulli syaithânin, wa hâmmatin, wa min kulii ‘ainin lâmmah. Allâhumma bârik fîhi, wa lâ tadhurrah.

Artinya: “Aku menyerahkan perlindunganmu dengan kalimat Allah yang sempurna dari segala gangguan setan, binatang melata atau serangga, dan segala pengaruh mata jahat. Tuhanku, turunkan keberkahan-Mu pada anak ini. Jangan izinkan sesuatu membuatnya celaka.” (HR. Abu Dawud no.4737, Tirmidzi no.2060, Ibnu Majah no.3525 dan dishahihkan oleh Al Albani).

Kemudian, dapat dilengkapi dengan rutin membaca serta mengamalkan surat Al-Falaq, dan surat An-Nas, sebagaimana yang diriwayatkan dalam hadits berikut:

“Tidakkah kamu melihat ayat-ayat yang diturunkan di waktu malam dan tidak ada bandingannya sama sekali; surat Al-Falaq dan surat An-Nas.” (HR. Muslim).

Lalu, bagaimana caranya supaya kita tidak menimbulkan ain pada orang lain? Ketika melihat nikmat atau merasa kagum dengan seseorang yang dipandang melalui media sosial alangkah baiknya kita mengucapkan kalimat yang mengandung pujian sekaligus kebaikan didalamnya seperti Masya Allah. Hal ini sebagaimana telah dijelaskan dalam hadits berikut ini:

Rasulullah SAW bersabda: “Jika salah seorang dari kalian melihat sesuatu yang menakjubkan dari saudaranya, pada dirinya, atau pada hartanya, maka doakan keberkahan padanya karena sesungguhnya penyakit ain itu haq (benar).” (HR. An-Nasa’i).

Dengan membiasakan berucap kalimat-kalimat yang mengandung doa kebaikan didalamnya, maka insya Allah kita dapat terhindar dari bahaya ain sekaligus tidak menimbulkan ain terhadap orang lain.

Cara Menyembuhkan Ain

Sementara itu, untuk cara menyembuhkan penyakit ain ini dapat dilakukan dengan doa serta melakukan rukiah. Doa yang dibaca oleh Malaikat Jibril saat melakukan rukiah terhadap Rasulullah SAW adalah sebagai berikut:

Bissmillahi arqikamin kullisyai’in yu’dziika min syarrikulli nafsin au’aini khaasidillahu yasfiika mismillahiarqiika.

Artinya: “Dengan menyebut nama Allah, aku merukiahmu dari segala sesuatu yang menyakitimu, dan dari kejahatan setiap jiwa atau mata orang yang dengki. Mudah-mudahan Allah SWT menyembuhkanmu. Dengan menyebut nama Allah, aku mengobatimu dengan merukiahmu." (HR. Muslim, Ibnu Majah).

Dengan metode penyembuhan ini, insya Allah atas kehendak Allah SWT penyakit ain pun dapat teratasi.

Tak terasa kita sudah sampai pada bagian akhir tulisan ini. Bagaimana kesannya setelah membaca tulisan ini? Jadi makin mengetahui tentang serba-serbi penyakit ain, bukan? Semoga dapat menambah informasi bagi kalian ya, Sobat Kumparan.