Tergabung Dalam Pansus Subak, Cok Ibah Lebih Mengerti Tentang Pentingnya Sektor Pertanian

Update informasi terkini tentang Bali
Tulisan dari Bali News tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Subak merupakan Organisasi yang khusus mengatur tentang sistem irigrasi atau perairan tradisional untuk persawahan milik para petani di Bali. keberadaan Subak merupakan manifestasi dari filosofi/konsep Tri Hita Karana dalam ajaran Hindu. Tri Hita Karana berarti “Tiga penyebab terciptanya kebahagiaan dan kesejahteraan” yang meliputi Parahyangan yang berarti hubungan harmonis antara manusia dengan Tuhan, Pawongan yang erarti hubungan harmonis antara manusia dengan manusia, dan yag terakhir yaitu Palemahan yang berarti hubungan harmonis antara manusia dengan lingkungan sekitar.
Sebagai suatu metode penataan hidup bersama, Subak mampu bertahan selama lebih dari satu abad karena masyarakatnya taat kepada tradisi leluhur. Pembagian air dilakukan secara adil dan merata, segala masalah dibicarakan dan dipecahkan bersama, bahkan penetapan waktu menanam dan penentuan jenis padi yang ditanam pun dilakukan bersama.
Para ahli juga menyebutkan bahwa Subak juga sebagai sistem teknologi yang sudah menjadi budaya di Bali. Subak sebagai metode teknologi dari budaya asli petani Bali. Fasilitas yang utama dari irigasi subak (palemahan) untuk setiap petani anggota subak adalah berupa pengalapan (bendungan air), jelinjing (parit), dan sebuah cakangan (satu tempat/alat untuk memasukkan air ke bidang sawah garapan).
Organisasi pendidikan, Ilmu pengetahuan, dan Kebudayaan PBB (UNESCO - The United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization) akhirnya mengakui Subak di Bali sebagai Warisan Budaya dunia. Pengakuan tersebut dapat diwujudkan setelah perjuangan pemerintah republik Indonesia selama kurang lebih 12 tahun.Tepat pada tanggal 29 Juni 2012, Pengusulan Subak telah disetujui, diakui dan ditetapkan/disahkan sebagai Warisan Budaya Dunia oleh UNESCO dalam sidang ke-36 Komite Warisan Dunia UNESCO di kota Saint Petersburg, Rusia.

Cok Ibah yang juga merupakan Calon Bupati Gianyar tahun 2018 juga turut tergabung dalam Panitia Khusus atau Pansus Subak dalam rangka memperjuangkan Subak sebagai warisan Budaya Dunia milik Indonesia. Saat memperjuangkan hal tersebut, Cok Ibah masih tergabung menjadi Anggota Dewan di DPRD Provinsi Bali. Terpilihnya subak sebagai warisan budaya dunia tentu diakui sebagai salah satu pencapaian yang mengesankan sepanjang perjalanan perpolitikan Cok Ibah. Cok Ibah mengakui bahwa saat Ia tengah memperjuangkan Subak, Ia banyak belajar tentang pentingnya sektor pertanian bagi perkembangan ekonomi masyarakat di Bali. terlebih kaitannya dengan filosofi agama Hindu yakni Tri Hita Karana membuat Cok Ibah beserta anggota pansus subak yang lainnya semakin mantap untuk mempertegas status Subak sebagai warisan budaya dunia milik Indonesia.
