Konten dari Pengguna

Kesehatan Mental Ibu di NTT Masih Terpinggirkan, Hasil Studi Terbaru

Yayasan Balita Sehat Indonesia

Yayasan Balita Sehat Indonesiaverified-green

Bergerak setiap hari dengan beragam cara untuk menjaga kesehatan ibu dan balita. Berdiri sejak 2001

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Yayasan Balita Sehat Indonesia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Wawancara dengan salah satu ibu dengan balita di salah satu desa di Nusa Tenggara Timur (NTT)
zoom-in-whitePerbesar
Wawancara dengan salah satu ibu dengan balita di salah satu desa di Nusa Tenggara Timur (NTT)

Di tengah minimnya perhatian terhadap kesehatan mental ibu, sebuah studi akar rumput yang dilakukan di dua kabupaten di Nusa Tenggara Timur (NTT) mengungkap realitas yang mengkhawatirkan. Penelitian yang dipimpin oleh Foundation for Mother and Child Health (FMCH) Indonesia menunjukkan bahwa banyak perempuan hamil dan menyusui di Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD) dan Timor Tengah Selatan (TTS) mengalami tekanan psikologis berat hingga ekstrem, sering kali tanpa dukungan yang memadai.

Di wilayah pedesaan NTT, krisis sunyi ini telah berlangsung lama—tersembunyi dari perhatian pembuat kebijakan, data nasional, bahkan petugas kesehatan masyarakat. Menyadari celah besar ini, FMCH Indonesia merancang dan melaksanakan penelitian secara mandiri menggunakan dana internal dan kemitraan lokal.

Penelitian ini dilakukan pada Januari hingga Maret 2025 di 17 desa, dengan total 366 responden yang terdiri dari ibu hamil, ibu menyusui, dan anggota keluarga yang tinggal serumah. Data dikumpulkan melalui wawancara terstruktur (kualitatif) dan alat skrining standar, yakni Self Reporting Questionnaire (SRQ) yang direkomendasikan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Mereka Rentan dan Sering Kali Sendiri

Hasil temuan sangat mengkhawatirkan. Sebanyak 37 persen responden menunjukkan gejala gangguan stres pascatrauma (PTSD), 35 persen mengalami kecemasan atau depresi, dan 22 persen memiliki indikasi gangguan psikotik. Sementara itu, hanya enam persen ibu menyusui yang tergolong memiliki kondisi mental yang stabil.

Beberapa faktor diketahui menjadi pemicu utama krisis ini. Banyak responden berusia di bawah 25 tahun yang hamil di luar nikah (termasuk kehamilan yang tidak direncanakan), bahkan dalam beberapa kasus, merupakan penyintas kekerasan seksual. Di sisi lain, ibu-ibu yang lebih tua (usia 40–45 tahun) menyampaikan kekhawatiran atas risiko kehamilan di usia lanjut, terutama mereka yang pernah mengalami persalinan berulang atau operasi sebelumnya.

Dari data yang dikumpulkan, ditemukan bahwa mayoritas responden—sekitar 57%—belum pernah mendengar atau membaca informasi tentang kesehatan mental ibu hamil dan menyusui. Minimnya pengetahuan ini memperburuk risiko gangguan psikologis, karena banyak ibu tidak menyadari pentingnya merawat kesehatan mental selama periode rentan ini.

Kondisi ini diperparah oleh tradisi lama yang masih berlaku, di mana perempuan memilih menyembunyikan kehamilan dari suami, keluarga, bidan, maupun masyarakat hingga memasuki trimester kedua. Keyakinan bahwa mengumumkan kehamilan terlalu dini dapat meningkatkan risiko keguguran membuat banyak ibu tidak mendapatkan layanan kesehatan dasar seperti pemeriksaan kehamilan dari Posyandu.

Di sisi lain, sebagian besar perempuan di wilayah ini memikul beban kerja rumah tangga yang berat tanpa bayaran—memasak, membersihkan, merawat anak, bertani—sering kali dalam keadaan tinggal sendiri karena suami merantau. Akibatnya, para ibu hampir tidak memiliki waktu untuk beristirahat atau merawat kondisi emosional mereka sendiri.

Studi ini juga menyoroti pentingnya peran anggota keluarga dekat, terutama suami, mertua, orang tua, dan saudara kandung dalam mendukung ibu. Suami sering menjadi pendamping utama, sementara anggota keluarga lain memberikan dukungan emosional, nasihat, dan bantuan mengurus anak. Keterlibatan keluarga ini mencerminkan nilai budaya kebersamaan yang kuat. Namun, temuan juga menunjukkan bahwa masih banyak keluarga yang belum memiliki pemahaman tentang pentingnya kesehatan mental ibu.

Minimnya Pengetahuan Petugas Kesehatan tentang Kesehatan Mental Ibu

Krisis kesehatan mental ibu di NTT diperparah oleh keterbatasan kapasitas petugas kesehatan dalam menangani isu psikologis, khususnya terkait kesehatan mental ibu. Banyak bidan dan kader Posyandu mengakui bahwa mereka tidak pernah mendapat pelatihan kesehatan mental, baik dalam pendidikan formal maupun pelatihan lanjutan.

“Saya bertemu para ibu ini setidaknya sekali sebulan saat kegiatan Posyandu,” ujar JL, seorang bidan di TTS. “Saya tidak menyadari bahwa mereka mengalami stres dan semacam depresi,” akunya dengan terkejut.

Beberapa petugas baru menyadari adanya gejala depresi pada ibu yang mereka layani secara rutin setelah melihat hasil survei ini. Hal ini mempertegas pentingnya pelatihan kesehatan mental dan penguatan sistem dukungan di tingkat komunitas.

Krisis yang Tak Bisa Lagi Diabaikan: Desak Penguatan Dukungan Psikologis bagi Ibu

Penelitian ini bukan sekadar laporan. Ini adalah panggilan untuk bertindak. Berdasarkan temuan ini, FMCH Indonesia merekomendasikan beberapa langkah penting, seperti meningkatkan kapasitas kader Posyandu dan bidan desa dalam mendeteksi serta merespons masalah kesehatan mental ibu, mengedukasi keluarga—terutama suami—untuk lebih peka terhadap kondisi emosional ibu, dan memperluas akses layanan kesehatan mental di wilayah terpencil. Lebih jauh lagi, kesehatan mental ibu perlu diakui dan menjadi prioritas dalam agenda kebijakan kesehatan, baik di tingkat nasional maupun daerah.

Saat ini FMCH Indonesia sedang mengembangkan modul pelatihan dan intervensi berbasis komunitas yang bersumber dari hasil penelitian ini. Upaya ini diharapkan menjadi fondasi bagi sistem dukungan yang berkelanjutan untuk ibu-ibu di wilayah pedesaan. Karena kesehatan mental ibu bukanlah kemewahan—ia adalah kebutuhan mendasar yang tidak bisa ditunda. Tanpa ibu yang sehat, baik secara fisik maupun mental, sulit membayangkan masa depan generasi yang kuat dan tangguh.