Kumparan Logo
Konten Media Partner

Kisah Pilu Ibu di Papua: Melahirkan Sendiri di Hutan, Bayinya Meninggal

BalleoNEWSverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ady Nugraha (kanan) saat infus pasien saat tiba di Kayumerah, Ditrik Teluk Etna, Kaimana. Foto Istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Ady Nugraha (kanan) saat infus pasien saat tiba di Kayumerah, Ditrik Teluk Etna, Kaimana. Foto Istimewa

Seorang ibu berinisial IP (45) warga kampung Etahima, Distrik Yamor, Kabupaten Kaimana, terpaksa harus melahirkan di tengah hutan Aindua, Mimika, Papua, karena menemani sang suami sebagai pencari kayu Masohi. IP melahirkan di tengah hutan tanpa ditemani petugas kesehatan pada Senin (8/3) lalu. Nyawa sang bayi pun tidak bisa diselamatkan.

Ibu sang bayi juga nyaris tidak tertolong, karena ari-ari atau retencio placenta tersangkut dan tidak keluar pasca-melahirkan kurang lebih tiga hari. Selanjutnya suami dari IP membawanya ke Puskesmas Patawai, Mimika, Papua, dengan harapan bisa mengeluarkan ari-ari sang bayi.

Namun karena tidak tersedianya tenaga dokter di Puskesmas Patawai, sehingga pihak puskesmas tidak berani mengambil tindakan medis. Sehingga disarankan untuk pasien dibawa ke RSUD Kaimana, guna mendapat pertolongan. Namun jarak antara Patawai ke Kaimana cukup jauh, dengan menempuh perjalanan belasan jam.

Hal ini juga mempengaruhi kondisi pasien hingga kritis, karena terus mengalami pendarahan hebat pascamelahirkan. Setelah menempuh perjalan laut yang cukup panjang, pasien akhirnya tiba di PT Ameranus sebelum diarahkan ke Pustu Kayumerah, Distrik Teluk Etna, Kabupaten Kaimana.

“Ketika sampai, saya langsung mengambil tindakan dengan membersihkan darah kotor yang sudah 3 hari tertinggal di rahim ibu tersebut. Tujuannya supaya tidak terjadi keracunan, akibat darah yang tertahan selama 3 hari, sambil saya infus dan berikan obat,” jelas Ady Nugraha, petugas kesehatan di Pustu Kayumerah ketika dikonfirmasi melalui saluran teleponnya, Rabu (17/3) malam.

Dikatakan Ady, setelah diinfus sebanyak dua botol kondisi pasien mulai membaik. Namun kondisinya kembali kritis pada pukul 17.00 WIT atau jam 5 sore, ditandai dengan menggigil seperti demam tinggi dan sempat tidak sadarkan diri.

“Sudah melewati masa kritis, masa kritisnya itu jam 5 sore. Beliau sempat menunjukan kondisi tidak ada harapan tertolong. Saya tidak menyerah, berbagai upaya saya lakukan untuk menyelamatkan ibu ini, Allhamdullilah ibu keluar dari fase kritisnya,” tutur Ady dengan nada haru.

Menurut lelaki asal Sulawesi Selatan ini, setelah menjalani perawatan selama kurang lebih dua hari di Pustu Kayumerah. Kondisi pasien berangsur membaik, sehingga Ady memutuskan untuk merujuk pasien partus ini ke RSUD Kaimana guna pengobatan lanjutan.

“Saya dapat informasi Ibu (Pasien, red) sudah lebih baik kondisinya. Kini semnetara menjalani perawatan di RSUD Kaimana,” ujar Ady.