Kisah Sampari, Penderita Hidrosefalus Selama 18 Tahun di Manokwari

Konten Media Partner
11 Agustus 2020 14:54
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Sampari digendung salah satu keluarganya. Foto: Istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Sampari digendung salah satu keluarganya. Foto: Istimewa
ADVERTISEMENT
Sampari Yembise, anak dari salah satu pasangan di Manokwari ini terbaring lemas. Ia lahir pada 11 Februari 2002 lalu kini terbaring lemas di tempat tidur selama 18 tahun. Tampak badannya terlihat kurus. Tak hanya itu, matanya juga mengalami katarak karena mengalami penyakit hodrosefalus. Sampari Yembise merupakan anak dari John Yembise dan Sarce Urbasa, beralamat di Arowi, Distrik Manokwari Timur, Papua Barat.
ADVERTISEMENT
"Anak saya Sampari ini dari hasil diagnosa rumah sakit mengalami penyakit hidrosefalus sejak 2002 silam, saat itu berusia 3 bulan. Hingga usianya 18 tahun penyakit yang dideritanya tak kunjung sembuh hingga saat ini," kata Sarce Urbasa kepada wartawan, Selasa (11/8/2020).
Sampari saat digendong. Foto: Istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Sampari saat digendong. Foto: Istimewa
Ia menuturkan, Sampari sempat di rawat di RSUD Manokwari, dan pihak rumah sakit minta agar Sampari di rujuk ke Makassar, Sulawesi Selatan untuk menjalani operasi.
"Kami pun berangkat ke Makassar untuk berobat. Karena keterbatasan anggaran terpaksa kita balik ke Manokwari. Sampai saat ini mau bawa ke rumah sakit tidak ada biaya, terpaksa saya rawat di rumah dengan obat tradisional,"ujarnya.
Ia mengatakan, waktu di rujuk ke Makassar pemerintah memberikan biaya ongkos perjalanan Rp 3 juta. Padahal, biaya operasi yang mahal.
Sarce Urbasa ibu dari Sampari Yembise. Foto: Istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Sarce Urbasa ibu dari Sampari Yembise. Foto: Istimewa
"Karena biaya operasi sangat mahal Rp 5 juta, tidak ada uang terpaksa pulang kembali ke Manokwari. Kita tidak mungkin bertahan di Makassar karena tidak memiliki biaya sama sekali," ungkapya.
ADVERTISEMENT
Ia mengharapkan ada bantuan dan perhatian pemerintah daerah. Sehingga anaknya bisa dioperasi. "Kita mau ambil uang di mana mau operasi, biaya kebutuhan sehari- hari saja susah,"pungkasnya.
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020