Mengenal Suku Abun di Tambrauw, Menerapkan Pendidikan Nuwon bagi Anak Laki-laki

Pendidikan adat merupakan pendidikan yang berakar dalam kehidupan dan kebudayaan masyarakat adat. Pendidikan adat adalah pendidikan yang meletakkan adat sebagai landasan pembelajaran dan pertumbuhan seseorang.
Pendidikan adat lahir dari wilayah adat dan para leluhur. Pendidikan adat ini khas di setiap bangsa adat karena berakar dari kehidupan dan kebudayaan setiap masyarakat adat di wilayah adat mereka.
Selain itu pendidikan adat pun merupakan kunci agar anak-anak dan pemuda-pemudi adat tetap berpegang pada kebudayaan mereka yang khas. Karena dirasa ada semacam kecenderungan yang berkembang di Indonesia dan di banyak negara lain mengenai pemerdekaan sistem pendidikan, dan pembangunan kembali struktur pendidikan yang memungkinkan pengetahuan, bahasa, dan semesta adat menjadi jantung pengalaman pendidikan mereka sendiri.
Pada intinya, pendidikan adat mencakup sistem pembelajaran tradisional, filosofi, dan metodologi yang menjamin penerusan pengetahuan dan praktik adat dari generasi ke generasi.
Model pendidikan adat ini rupanya masih eksis dan dialami secara langsung masyarakat Suku Abun yang tinggal dan menetap di Kabupaten Tambrauw.
Menelaah lebih dalam terkait eksistensi pendidikan adat dari Suku Abun tentunya diperlukan sebuah sumber otentik.
Seorang pria tua berusia 57 tahun yang saat ini menduduki posisi penting sebagai Ketua Lembaga Masyarakat Adat (LMA) Suku Abun bersedia berkisah seputar suku dan budayanya. Pria yang sudah beruban dan sangat berpengaruh di dalam lingkup sosial sukunya dikenal dengan nama Nelwan Yeblo.
Sore itu, Rabu (10/2) tepat pukul 17.15 WIT pria dengan penampilan ala sederhana itu telah siap berbagi kisah soal pendidikan adat Suku Abun. Menurutnya masyarakat Suku Abun ini asal mulanya dari daerah Kali Mega yang saat ini dikenal dengan sebutan Distrik Moraid, Kabupaten Tambrauw. Dari Kali Mega, bermigrasi ke Gunung Tambrauw.
Suku Abun sendiri memiliki 24 marga yang kemudian dari Gunung Tambrauw menyebar dan menetap di setiap sudut wilayah Kabupaten Tambrauw sampai saat ini.
Pendidikan adat ini lebih dikenal dengan istilah pendidikan rumah adat atau dalam bahasa Suku Abun disebut nuwon. Pendidikan rumah adat bukan mengarah kepada sebuah pengetahuan atau pemahaman soal rumah adat, melainkan tentang sejarah suku, filosofi, religi dan berbagai pendidikan pengetahuan lain yang kemudian akan membentuk karakter setiap pribadi Suku Abun.
Pendidikan nuwon ini, sebutnya tidak semua orang menjadi murid di dalam pendidikan tersebut. Hanya anak laki-laki berumur 5-7 tahun. Mengapa demikian, karena anak-anak dianggap sebagai pribadi yang belum memiliki pengetahuan soal budaya suku sekaligus diakui sebagai penerus atau pewaris nilai-nilai budaya itu sendiri nantinya.
"Makanya setiap anak berumur 5-7 tahun harus mengikuti pendidikan adat ini," tuturnya meyakinkan.
Pendidikan nuwon yang dipimpin oleh seorang guru senior atau disebut yewonbam berlangsung selama dua tahun di tengah hutan Tambrauw. Ketika murid-murid memasuki masa pendidikan adat tersebut, mereka dikenakan dengan pakaian adat suku berupa penutup badan dari kulit kayu yang sudah diolah sedemikian rupa sehingga bisa digunakan.
Ternyata pendidikan nuwon ini mempunya larangan yang tidak boleh dilanggar yakni kaum perempuan tidak boleh memasuki hutan tempat pendidikan nuwon berlangsung. Selain itu, laki-laki yang belum pernah mengikuti pendidikan tersebut pun dilarang memasuki hutan tersebut.
"Yang bisa sampai tempat pendidikan nuwon itu adalah laki-laki yang sudah pernah ikut pendidikan," sebutnya.
Setelah dua tahun tercapai dan pakaian adat yang dikenakan pun terlepas sendiri merupakan tanda berakhirnya pendidikan nuwon. Kemudian dilanjutkan dengan prosesi wisuda adat yang melibatkan seluruh masyarakat undangan dari setiap kampung.
Dengan acara tersebut para murid yang disebut dalam bahasa Suku Abun adalah yewonbe dianggap sudah mempunyai kemampuan pengetahuan adat yang baik. Selain itu juga, mereka pun memiliki kemampuan supranatural untuk meramal, mengobati dan mengendalikan.
"Seperti biasa mereka akan kembali ke kampung dan hidup sebagaimana mestinya," ucapnya.
Dengan nada sedikit berat ia pun harus mengakui kekuatan perkembangan jaman. Bahwa pendidikan nuwon ini pelan-pelan sudah mulai terhimpit.
Terjadi pergeseran moral di tengah perkembangan generasi muda saat ini. Ketika masuknya misionaris yang membawa ajaran agama, tempat belajar itu dimusnahkan karena dianggap turut mengajarkan hal-hal yang beraliran mistik.
"Memang ini yang terjadi, makanya sampai saat ini pendidikan nuwon bukan menjadi kewajiban. Tapi yang pasti pendidikan nuwon masih tetap eksis walaupun tidak sama dengan sebelumnya," akunya.
Diyakini bahwa pendidikan nuwon masih dipegang terus oleh setiap anak walaupun hanya sebatas konseptual. Hal ini terus diketahui oleh setiap anak karena orang tua senantiasa memberikan warisan pengetahuan dan pemahaman melalui cerita-cerita. Dengan metode tersebut, anak-anak tetap mengetahui pendidikan nuwon walaupun tidak pernah mengalaminya secara langsung.
Reporter: Vini
