Tari Wala Suku Asli Matbat Misool, Masuk Warisan Budaya Nasional

Masyarakat di Kepulauan Misool, Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat, pada umumnya mengenal wala sebagai 'lan batan o' atau (lagu tanah) yang bercerita tentang asal usul 'Batan Me' atau (lahirnya pulau Misool) dan asal usul persebaran kehidupan orang Matbat dengan berbagai peristiwa yang mereka alami.
Bagi orang Matbat, wala adalah sesuatu yang sakral karena berkaitan dengan ritual sebagai bagian dari kehidupan mereka. Ritual adat Wala seringkali dikaitkan dengan suasana pesta. Pada hakekatnya, nilai relijius sangat jelas dilihat dan dirasakan oleh peserta, melalui tingkah yang tertib dan tidak saling mengganggu.
Akselerasi hentakan kaki dan nyanyian yang dituturkan dengan irama yang harmonis menjadi suatu hiburan namun penuh penghayatan, yang dapat menghilangkan ketegangan serta menciptakan kerukunan yang luar biasa dalam lingkungan sosial orang Matbat.
Kini, keberadaan wala mulai tergerus oleh zaman, para pelaku ataupun penutur tari tersebut hanya bisa dihitung dengan jari. Dari kekhawatiran itulah Pemerintah Daerah (Pemda) Raja Ampat, melalui pemerintah Provinsi Papua Barat mengusulkan wala untuk menjadi Warisan Budaya Nasional.
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menerima usulan tersebut. Pada tanggal 8 Oktober 2019, Karya Budaya wala dinobatkan sebagai Warisan Kebudayaan Nasional. Dan ditandatangani oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Prof. Dr Effendy Muhadjir di Jakarta, kala itu.
Bupati Raja Ampat, Abdul Faris Umlati saat memberikan sertifikat pada salah satu perwakilan menyampaikan bahwa tari wala bagian dari tradisi asli suku Matbat yang perlu dilestarikan.
"Kami semua tahu asal usul tari wala. Sehingga kami berusaha untuk menjaga dan melestarikan untuk generasi yang akan datang", ungkap Abdul Faris.
Reporter: Aditya Nugroho
