Konten dari Pengguna

Alih Wahana: Kreativitas Tanpa Batas dalam Dunia Kesenian

Balqis Meira Salwa

Balqis Meira Salwa

Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

·waktu baca 6 menit

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Balqis Meira Salwa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto tersebut menggambarkan suasana membaca yang hangat dan santai. Sumber: https://www.pexels.com.
zoom-in-whitePerbesar
Foto tersebut menggambarkan suasana membaca yang hangat dan santai. Sumber: https://www.pexels.com.

Damono (2018:9) menyatakan bahwa alih wahana mencakup beberapa kegiatan seperti penerjemahan, penyaduran, dan pemindahan dari satu bentuk kesenian ke bentuk kesenian yang lain. Wahana dısını diartikan sebagai kendaraan yang menjadi wadah, dengan begitu alih wahana adalah pengalihan dari kendaraan ke kendaraan lain. Alih wahana adalah proses pengalihan dari satu jenis medium ke dalam medium lain. Dalam pengertian yang lebih luas, alih wahana mencakup pengubahan dari berbagai jenis ilmu pengetahuan menjadi karya seni.

Sebuah karya seni yang dapat diubah menjadi wahana lain tersebut dapat berwujud gagasan, amanat, perasaan atau sekadar suasana. Sebagai contoh pengubahan dari teks sastra yang berbentuk tulisan dialihwahanakan menjadi cerita hidup atau film (Damono, dalam Nugroho, 2024: 14). Artinya, Proses ini tidak hanya sebatas memindahkan bentuk, tetapi juga mengadaptasi gagasan, amanat, perasaan, atau suasana agar sesuai dengan medium baru.

Misalnya, sebuah karya sastra yang awalnya berbentuk tulisan dapat diubah menjadi film atau pertunjukan drama, sehingga pesan dan nilai yang terkandung tetap tersampaikan meskipun bentuk penyajiannya berbeda. Dengan demikian, alih wahana adalah bentuk kreativitas yang memungkinkan karya hadir dalam wujud baru tanpa kehilangan esensi aslinya.

Alih wahana dalam kesenian bukan sekadar tren, melainkan sebuah proses kreatif yang terus berkembang. Perbedaan media dalam dua genre karya seni melahirkan karakteristik yang unik, sehingga setiap bentuk memiliki daya tarik tersendiri. Karya sastra, misalnya, menggunakan bahasa sebagai medianya, memberikan ruang luas bagi imajinasi pengarang.

Di Indonesia, fenomena alih wahana semakin marak terjadi—karya sastra direka ulang dengan sudut pandang baru, diangkat menjadi legenda, dipentaskan di panggung teater, hingga diadaptasi ke dalam bentuk naskah. Transformasi ini bukan hanya memperpanjang usia karya, tetapi juga membuka peluang bagi interpretasi yang lebih segar dan relevan dengan zaman.

Teori alih wahana yang dikemukakan oleh Sapardi Djoko Damono dalam bukunya yang berjudul Alih Wahana (2012: 86-137) menekankan bahwa istilah alih wahana memiliki beberapa makna penting dalam proses pengalihan karya seni.

a. Wahana adalah medium yang dimanfaatkan atau dipergunakan untuk mengungkapkan sesuatu

Artinya, setiap karya seni membutuhkan sarana tertentu agar gagasan, pesan, atau perasaan dapat disampaikan kepada audiens, misalnya bahasa dalam karya sastra atau gambar dalam seni rupa.

b. Wahana adalah alat untuk membawa atau memindahkan sesuatu dari satu tempat ke tempat yang lain

Sesuatu yang dipindahkan oleh wahana bisa berwujud gagasan, amanat, perasaan atau sekadar suasana. Dalam konteks ini, yang dipindahkan bukanlah benda fisik, melainkan gagasan, amanat, perasaan, atau suasana yang diadaptasi ke dalam bentuk baru, seperti mengubah novel menjadi film.

c. Wahana berfungsi menyalurkan informasi dan hiburan

Proses alih wahana memungkinkan sebuah karya menjangkau audiens yang lebih luas dengan cara yang lebih menarik, sehingga tidak hanya menyampaikan pesan, tetapi juga memberikan pengalaman yang menghibur.

d. Wahana sebagai alat untuk menggabungkan seni yang berbeda genre

Misalnya, perpaduan antara sastra dan seni pertunjukan dalam bentuk drama atau teater, atau penggabungan musik dan visual dalam film. Dengan demikian, konsep wahana dalam teori ini menegaskan bahwa alih wahana bukan sekadar perubahan bentuk, tetapi juga proses kreatif yang memperkaya makna dan memperluas jangkauan karya seni.

Selama berlangsungnya proses alih wahana unsur-unsur yang terdapat pada karya sastra akan berubah, hal itu tidak dapat dipungkiri sebab kerangka cerita itu akan disaring ke dalam bentuk naskah yang didasarkan pada kehendak sang penulis naskah untuk memanfaatkan kerangka cerita dari karya sastra (Harsokusumo, 2023: 2). Artinya bahwa alih wahana merupakan proses kreatif yang tidak hanya memindahkan cerita dari satu bentuk ke bentuk lain, tetapi juga menyesuaikan unsur-unsurnya agar sesuai dengan karakteristik medium baru.

Adaptasi karya sastra untuk diubah menjadi jenis kesenian lain berdampak pada perubahan-perubahan di bagian kerangka cerita serta sudut pandang penceritaan yang dipakai. Adaptasi mengisyaratkan bahwa karya harus menyesuaikan keutuhannya dengan wahana, sehingga karya sastra tersebut akan direduksi dan dimodifikasi. Maka dari itu keutuhan karya sastra tidak sepenuhnya dapat dipertahankan dalam wahananya yang baru dan sesudah pemilahan bagian cerita oleh penulis naskah karya sastra itu akan dilihat sebagai teks yang memengaruhi penciptaan teks lainnya (Harsokusumo, 2023: 2).

Dalam kutipan tersebut bahwa adaptasi karya sastra ke dalam bentuk kesenian lain merupakan proses yang menuntut penyesuaian agar sesuai dengan karakteristik medium baru. Dalam proses ini, keutuhan cerita asli tidak dapat dipertahankan sepenuhnya karena adanya reduksi dan modifikasi yang dilakukan untuk memenuhi kebutuhan wahana yang berbeda. Adaptasi bukan sekadar menyalin, melainkan menciptakan ruang bagi interpretasi baru, sehingga karya sastra berperan sebagai sumber inspirasi yang memengaruhi lahirnya teks lain dengan bentuk dan perspektif yang berbeda.

Perubahan seringkali ditemukan pada bagian penceritaan, penokohan, dan penggambaran latar yang di dalam novel atau cerpen penulis memberi monolog dan dialog tokoh atau narrator yang panjang untuk menguraikan isi pikiran mereka, akan tetapi dalam beberapa wahana seperti film hal itu akan digantikan dengan gambar dan gerak tokoh yang merupakan hasıl interpretasi pengadaptası.

Selain itu, sudut pandang yang dipakai untuk menggambarkan tokoh dan bagaimana tokoh-tokoh tersebut ditampilkan dalam kacamata tokoh lainnya mengalami perubahan yang dapat ditandai melalui monolog pada hasıl adaptası karya sastra (Harsokusumo, 2023: 2). Proses alih wahana dan adaptasi karya sastra ke dalam bentuk kesenian lain bukan sekadar pemindahan medium, melainkan sebuah transformasi kreatif yang melibatkan perubahan mendasar pada cara cerita disampaikan.

Pergeseran ini terjadi karena setiap wahana memiliki karakteristik dan tuntutan yang berbeda, sehingga unsur-unsur seperti penceritaan, penokohan, dan sudut pandang harus disesuaikan agar selaras dengan medium baru. Adaptasi memungkinkan lahirnya interpretasi segar yang memperkaya makna karya, menjadikannya relevan dengan perkembangan zaman dan membuka ruang bagi apresiasi yang lebih luas.

Alih wahana karya sastra ini diproduseri oleh Happy Salma, Yulia Evina Bhara, dan Gunawan Maryanto. Program ini akan mengadaptasi sepuluh karya sastra Indonesia, yakni Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari; novel Helen dan Sukanta karya Pidi Baiq; cerita pendek (cerpen) "Kemerdekaan" karya Putu Wijaya; cerpen "Menunggu Herman" karya Dee Lestari; cerpen "Berita dari Kebayoran" karya Pramoedya Ananta Toer, novel Lalita karya Ayu Utami; cerpen "Seribu Kunang-kunang di Manhattan" karya Umar Kayam; cerpen "Persekot" karya Eka Kurniawan; novel Layar Terkembang karya Sutan (Harsokusumo, 2023: 4).

Simpulan

Alih wahana merupakan proses kreatif yang tidak hanya memindahkan karya dari satu medium ke medium lain, tetapi juga melibatkan adaptasi dan transformasi agar sesuai dengan karakteristik wahana baru. Perubahan yang terjadi mencakup penceritaan, penokohan, sudut pandang, hingga penggambaran latar, yang semuanya disesuaikan dengan tuntutan estetika dan teknis dari bentuk seni yang berbeda.

Fenomena ini menunjukkan bahwa alih wahana bukan sekadar reproduksi, melainkan upaya memperkaya makna karya, memperluas jangkauan, dan menghadirkan interpretasi segar yang relevan dengan perkembangan zaman. Berbagai contoh adaptasi karya sastra Indonesia ke dalam film, teater, atau bentuk seni lainnya membuktikan bahwa alih wahana adalah sarana penting untuk menjaga keberlanjutan karya sekaligus menciptakan inovasi dalam dunia seni. Dengan demikian, alih wahana tidak hanya mempertahankan nilai sebuah karya, tetapi juga membuka ruang bagi kreativitas tanpa batas.

Daftar Pustaka

Damono, Sapardi Djoko. (2018). Alih Wahana. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Harsokusumo, M. R. (2023). Struktur Naratif Pada Naskah Siniar Budayakita Alih Wahana Dari Cerita Pendek. https://repository.unpad.ac.id/server/api/core/bitstreams/f249c850-82e4-4daf-b5d0-77655ff0cc4c/content.

Nugroho, F. S. (2024). Ekranisasi Komik Naruto Karya Masashi Kishimoto ke Anime Naruto Karya Hayato Date (Doctoral dissertation, Universitas PGRI Madiun).