Salah Campur Obat bisa jadi Bahaya? Mengungkap Fakta Interaksi Obat

Mahasiswi kesehatan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
·waktu baca 8 menit
Tulisan dari Balqis Nasution tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pada saat ini, setiap kali orang merasa tidak enak badan, maka solusi yang pertama kali dilakukan biasanya adalah minum obat. Mulai dari obat herbal, resep dokter, vitamin, bahkan obat – obatan yang tersedia di pasaran. Bahkan, sering ditemukan orang yang meminum banyak jenis obat secara bersamaan dengan beranggapan bahwa jika semakin banyak obat maka akan semakin cepat sembuh. Namun, tindakan meminum banyak jenis obat secara bersamaan ternyata juga bisa berbahaya bagi kesehatan. Obat yang dikonsumsi secara bersamaan akan mempengaruhi kinerja obat, sehingga memberikan efek samping jika dikonsumsi sekaligus.
Pengertian & Jenis Interaksi Obat
Menurut (Kurniawati et al., 2020), Interaksi suatu obat terjadi saat pengaruh suatu obat berubah karena adanya obat yang lain, baik itu obat herbal, bahan kimia, makanan, maupun minuman. Interaksi ini bisa membuat efek obat lebih kuat atau lebih lemah, bahkan menghasilkan dampak yang tidak terduga bagi tubuh pasien. Interaksi obat dibagi menjadi beberapa jenis berdasarkan mekanismenya, yaitu interaksi farmasetik, farmakokinetik, dan farmakodinamik (Masher, 2023).
a. Interaksi Farmasetika
Interaksi farmasetik atau inkompabilitas adalah suatu interaksi yang terjadi akibat penghalang fisik atau kimia antara dua obat atau lebih, yang terjadi di luar tubuh dan menyebabkan aktivitas obat berubah atau hilang (Agustin & Fitrianingsih, 2021). Interaksi terjadi saat obat masih proses formulasi atau masih disiapkan sebelum diberikan kepada pasien. Contohnya, obat dan larutan infus intravena yang digunakan secara bersamaan, ternyata dapat menyebabkan pecahnya suatu emulsi atau terjadinya pengendapan.
b. Interaksi Farmakokinetik
Interaksi farmakokinetik adalah jenis interaksi antarobat yang terjadi ketika satu obat memengaruhi proses penyerapan, distribusi, metabolisme, atau keluarnya obat lain dari tubuh (Sinata et al., 2023). Interaksi ini dapat berdampak pada kadar obat di dalam darah, sehingga memengaruhi cara obat bekerja dan keamanannya dalam pengobatan. Mekanisme interaksi farmakokinetik terdiri dari beberapa aspek, yaitu:
• Absorpsi merupakan perubahan kecepatan atau jumlah obat yang masuk ke dalam darah melalui saluran pencernaan. Contohnya seperti antasida atau zat besi yang dapat membentuk senyawa kompleks dengan antibiotik tetrasiklin, sehingga mengurangi penyerapan obat tersebut.
• Distribusi yaitu ketika obat dapat bersaing untuk mengikat protein plasma seperti albumin, sehingga memengaruhi jumlah obat yang aktif dalam tubuh. Contohnya seperti warfarin dan asam valproate yang bisa saling menggantikan ikatan protein, sehingga meningkatkan efek masing-masing obat.
• Metabolisme yaitu ketika obat yang memicu enzim pada hati seperti rifampisin dapat mempercepat pemecahan obat lain, sehingga mengurangi kadar obat tersebut dalam darah. Sebaliknya, obat yang menghambat enzim metabolisme seperti ketoconazole dapat meningkatkan kadar obat lain, sehingga meningkatkan risiko toksisitas.
• Ekskresi yaitu ketika obat yang memengaruhi fungsi ginjal atau tingkat pH urin dapat memperlambat atau mempercepat pengeluaran obat lain dari tubuh. Contohnya seperti probenesid yang dapat menghambat ekskresi antibiotik penisilin, sehingga meningkatkan kadar penisilin dalam darah.
c. Interaksi Farmakodinamik
Interaksi farmakodinamik merupakan hubungan antara dua atau lebih obat yang memiliki efek samping yang sama atau berlawanan. Hal ini dapat terjadi karena obat-obatan tersebut bekerja pada reseptor yang sama atau sistem fisiologis yang sama di dalam tubuh(Ainaya et al., 2022). Interaksi seperti ini tidak memengaruhi kadar obat dalam darah, tetapi memengaruhi cara obat bekerja. Berikut adalah beberapa contoh interaksi farmakodinamik:
• Efek berlawanan (antagonis) yaitu ketika obat beta blocker seperti propranolol dapat mengurangi efek dari salbutamol, sebuah obat bronkodilator yang digunakan untuk menangani asma, karena keduanya bekerja secara berlawanan pada sistem pernapasan.
• Efek penguatan adalah kombinasi antara verapamil dan propranolol dapat meningkatkan risiko terjadinya bradikardi (detak jantung yang terlalu lambat), karena keduanya memengaruhi fungsi jantung secara bersamaan.
• Efek saling mendukung (sinergi) adalah kombinasi antibiotik sulfamethoxazole dan trimethoprim dapat meningkatkan efektivitas pengobatan infeksi karena keduanya bekerja bersama dalam menekan pertumbuhan bakteri.
Dampak Interaksi Obat
Dampak dari interaksi obat terhadap tubuh bisa bervariasi, mulai dari yang tidak mengganggu hingga yang bisa berisiko bagi kesehatan. Berikut beberapa dampak utama dari interaksi obat yang, yaitu:
Interaksi antarobat bisa membuat obat tidak bekerja dengan baik. Misalnya, satu obat bisa menghambat cara penyerapan atau efek dari obat lain, sehingga pengobatan tidak memberikan hasil yang diinginkan.
Beberapa kombinasi obat dapat meningkatkan kemungkinan munculnya gejala samping yang merugikan atau bahkan menyebabkan keracunan pada organ tubuh, seperti hati atau ginjal. Interaksi obat juga dapat menyebabkan efek samping yang baru karena adanya reaksi kimia atau perubahan cara kerja obat di dalam tubuh.
Studi yang terbit di jurnal Frontiers in Pharmacology tahun 2023 menunjukkan bahwa interaksi obat yang paling sering terjadi menyebabkan perdarahan pada saluran pencernaan, terutama ketika obat NSAID digunakan bersamaan dengan obat antiplatelet (Očovská et al., 2023).
Penelitian dari Jerman tahun 2022 menemukan bahwa kombinasi obat ACE inhibitor/ARB, diuretik, dan NSAID—yang sering disebut sebagai "unhappy triad"—sering kali menyebabkan masalah pada fungsi ginjal pada lansia.(Hughes et al., 2025).
Penelitian terbaru dari Irlandia pada tahun 2024 menunjukkan bahwa adanya interaksi obat yang meningkatkan risiko perdarahan berhubungan dengan peningkatan dua kali lipat risiko masuk ke rumah sakit dikarena reaksi obat yang dapat merugikan (ADR) pada kelompok usia lanjut.(Hughes et al., 2024)
Solusi dari Interaksi Obat
Interaksi obat dapat dicegah dan dihindari dengan mengikuti beberapa masukan dan langkah penting seperti:
Sebelum mengonsumsi obat baru, baik itu obat resep, obat bebas, suplemen, atau produk herbal, sebaiknya berkonsultasi dengan tenaga kesehatan agar terapi dapat disesuaikan dan untuk mencegah terjadinya interaksi obat yang berbahaya.
Menggunakan perangkat lunak atau sistem digital yang mampu memberikan peringatan awal mengenai kemungkinan interaksi obat saat dokter atau apoteker memberikan resep obat, sehingga dapat membantu mendeteksi potensi interaksi secara langsung dan segera (Zhou et al., 2023).
Membandingkan daftar obat pasien saat masuk dan sebelum meninggalkan fasilitas kesehatan untuk mencegah kesalahan pengobatan atau pengulangan obat. Hal ini dapat membantu menghindari pengulangan obat dan efek samping yang muncul dari kombinasi obat, serta memastikan pengobatan pasien tetap konsisten dan tepat.(Vocca et al., 2023).
Ikuti petunjuk cara mengonsumsi obat sesuai yang dianjurkan, misalnya apakah obat tersebut harus diminum saat perut kosong atau bersama makanan, serta atur jeda waktu penggunaan obat-obatan yang bisa saling memengaruhi.
Memberi tahu dokter atau apoteker mengenai semua jenis obat dan suplemen yang sedang digunakan serta menghindari mengonsumsi suplemen atau obat bebas tanpa pengawasan adalah hal yang sangat penting agar dapat mengurangi risiko terjadinya interaksi obat yang berbahaya.
Interaksi antarobat sering kali tidak diperhatikan oleh masyarakat, meskipun hal ini bisa sangat berdampak pada keamanan dan efektivitas pengobatan. Menggunakan beberapa obat sekaligus tanpa pengawasan dari tenaga medis dapat menyebabkan efek yang saling memperkuat, mengurangi manfaat obat, atau bahkan menciptakan efek samping berbahaya. Tidak hanya obat-obatan berbentuk kimia, tetapi juga suplemen, jamu, maupun jenis makanan tertentu bisa memicu interaksi apabila dikonsumsi bersamaan. Untuk menghindari risiko tersebut, masyarakat perlu berkonsultasi dengan dokter atau tenaga kesehatan sebelum memulai pengobatan dan selalu mematuhi petunjuk penggunaan yang diberikan. Dengan kesadaran dan sikap hati-hati, proses pengobatan bisa berjalan aman serta menghasilkan manfaat yang maksimal.
DAFTAR PUSTAKA
Agustin, O. A., & Fitrianingsih, F. (2021). KAJIAN INTERAKSI OBAT BERDASARKAN KATEGORI SIGNIFIKANSI KLINIS TERHADAP POLA PERESEPAN PASIEN RAWAT JALAN DI APOTEK X JAMBI. Electronic Journal Scientific of Environmental Health And Disease. https://doi.org/10.22437/esehad.v1i1.10759
Ainaya, P., Rawat, A., Di, I., & Sakit, R. (2022). Journal Of Pharmacy Science and Technology Online : 2614-0993. 3(2), 47–54.
Hughes, J. E., Bennett, K. E., & Cahir, C. (2025). The risk and cost of drug-drug interactions in an older population acutely admitted to hospital in Ireland. International Journal of Clinical Pharmacy. https://doi.org/10.1007/s11096-025-01907-1
Hughes, J. E., Moriarty, F., Bennett, K. E., & Cahir, C. (2024). Drug–drug interactions and the risk of adverse drug reaction-related hospital admissions in the older population. British Journal of Clinical Pharmacology, 90(4), 959–975. https://doi.org/10.1111/bcp.15970
Kurniawati, F., Yasin, N. M., Dina, A., Atana, S., & Hakim, S. N. (2020). Kajian Adverse Drug Reactions Terkait Interaksi Obat di Bangsal Rawat Inap Rumah Sakit Akademik UGM. Manajemen Dan Pelayanan Farmasi, 10(4), 297–308.
Masher, (2023). INTERAKSI OBAT. In EUREKA MEDIA AKSARA (Issue 1).
Očovská, Z., Maříková, M., & Vlček, J. (2023). Potentially clinically significant drug-drug interactions in older patients admitted to the hospital: A cross-sectional study. Frontiers in Pharmacology, 14(February), 1–11. https://doi.org/10.3389/fphar.2023.1088900
Sinata, N., Pratiwi, I. D., & Rusnedy, R. (2023). Potensi Interaksi Obat Pada Pasien Infeksi Saluran Kemih Sistitis Tahun 2021 Di RSUD Arifin Achmad Provinsi Riau. Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia, 9(2), 524–531. https://doi.org/10.35311/jmpi.v9i2.430
Vocca, C., Siniscalchi, A., Rania, V., Galati, C., Marcianò, G., Palleria, C., Catarisano, L., Gareri, I., Leuzzi, M., Muraca, L., Citraro, R., Nanci, G., Scuteri, A., Bianco, R. C., Fera, I., Greco, A., Leuzzi, G., De Sarro, G., D’Agostino, B., & Gallelli, L. (2023). The Risk of Drug Interactions in Older Primary Care Patients after Hospital Discharge: The Role of Drug Reconciliation. Geriatrics (Switzerland), 8(6), 1–12. https://doi.org/10.3390/geriatrics8060122
Zhou, S., Li, R., Zhang, X., Zong, Y., Lei, L., Tao, Z., Sun, M., Liu, H., Zhou, Y., & Cui, Y. (2023). The effects of pharmaceutical interventions on potentially inappropriate medications in older patients: a systematic review and meta-analysis. Frontiers in Public Health, 11(July), 1–10. https://doi.org/10.3389/fpubh.2023.1154048
