Konten dari Pengguna

Lintas Jurusan: Salah Jalan atau Jalan Baru Menuju Masa Depan?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
10
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Balqis Nur Zahra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi lintas jurusan: salah jalan atau jalan baru menuju masa depan? Sumber: Dibuat menggunakan ChatGPT (OpenAI).
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi lintas jurusan: salah jalan atau jalan baru menuju masa depan? Sumber: Dibuat menggunakan ChatGPT (OpenAI).

Memilih jurusan kuliah sering kali dianggap seperti memilih sebuah jalan. Ada yang berjalan lurus mengikuti jejak dari bangku sekolah, tetapi ada juga yang memilih berbelok ke arah yang sama sekali berbeda. Mereka yang mengambil jalan berbeda inilah yang sering disebut sebagai mahasiswa lintas jurusan atau linjur.

Bagi sebagian mahasiswa, lintas jurusan adalah sebuah persimpangan. Di satu sisi, ada rasa ragu karena harus meninggalkan sesuatu yang sudah dikenal. Di sisi lain, ada rasa penasaran terhadap dunia baru yang mungkin justru lebih sesuai dengan minat dan impian. Perasaan seperti “Apakah aku salah jalan?” bisa muncul ketika seseorang melihat teman-temannya berjalan di jalur yang sama, sementara dirinya memilih arah yang berbeda.

Namun, kehidupan tidak selalu menyediakan peta yang lengkap. Kadang seseorang baru mengetahui jalan yang cocok setelah berani melangkah. Memilih jurusan yang berbeda dari latar belakang sekolah bukan berarti pintu menuju masa depan tertutup. Justru, perbedaan tersebut bisa menjadi jembatan untuk menemukan kemampuan, pengalaman, dan minat baru yang sebelumnya belum pernah disadari.

Lintas jurusan memang bukan perjalanan yang selalu mulus. Ada saatnya mahasiswa merasa seperti berjalan dengan sepatu yang belum pas. Materi terasa asing, istilah baru bermunculan, dan teman-teman mungkin sudah lebih dulu memahami dasar-dasarnya. Mahasiswa yang sebelumnya terbiasa dengan satu bidang harus kembali belajar dari awal dan mengejar ketertinggalan. Dalam kondisi seperti ini, rasa minder bahkan keinginan untuk menyerah bisa datang seperti bayangan yang terus mengikuti.

Misalnya, seseorang yang semasa sekolah lebih banyak mempelajari bidang sosial kemudian memilih jurusan yang berhubungan dengan teknologi. Pada awal perkuliahan, istilah pemrograman, database, algoritma, atau sistem mungkin terdengar asing. Sementara itu, mahasiswa lain mungkin sudah pernah mengenalnya sejak sekolah. Perbedaan tersebut bisa membuat mahasiswa linjur merasa tertinggal. Padahal, belum tentu ia benar-benar tidak mampu. Ia hanya sedang berada di titik awal yang berbeda.

Di sinilah proses adaptasi menjadi bagian penting dalam perjalanan mahasiswa linjur. Ketika seseorang mulai memahami hal-hal yang sebelumnya terasa asing, perlahan ia sedang membangun jalannya sendiri. Dari yang awalnya tidak tahu menjadi tahu, dari yang awalnya ragu mulai percaya diri, dan dari yang merasa salah arah akhirnya menyadari bahwa mungkin dirinya hanya sedang menemukan rute yang berbeda.

Menariknya, lintas jurusan juga dapat membuka jendela baru. Pengetahuan dari jurusan sebelumnya tidak selalu menjadi sesuatu yang sia-sia. Pengalaman tersebut justru dapat menjadi bekal ketika memasuki bidang yang baru. Seseorang yang memiliki kemampuan komunikasi, misalnya, kemudian belajar teknologi dapat memiliki kelebihan dalam menyampaikan ide atau menjelaskan suatu sistem kepada orang lain. Dua dunia yang berbeda dapat bertemu dan menciptakan kemampuan yang menjadi nilai tambah.

Karena itu, perjalanan lintas jurusan seharusnya tidak hanya dilihat dari seberapa jauh seseorang tertinggal dari mahasiswa lain. Setiap orang memiliki titik awal yang berbeda. Ada yang sudah mengenal bidangnya sejak sekolah, sementara ada yang baru mengenalnya ketika duduk di bangku kuliah. Perbedaan titik awal bukan berarti menentukan siapa yang akan sampai lebih dulu. Yang lebih penting adalah kemauan untuk terus belajar dan beradaptasi.

Pada akhirnya, salah jalan atau jalan baru bukan ditentukan oleh jurusannya, tetapi oleh bagaimana seseorang menjalani perjalanan tersebut. Jalan yang berbeda tidak selalu membawakita menjauh dari tujuan. Terkadang, kita memang harus mengambil jalan memutar untuk sampai ke tempat yang benar-benar kita inginkan.

Lintas jurusan bukan sekadar tentang meninggalkan satu bidang dan memasuki bidang lainnya. Ia adalah tentang keberanian membuka pintu yang belum pernah kita buka, berjalan di jalan yang belum kita kenal, dan percaya bahwa setiap langkah memiliki kemungkinan untuk membawa kita lebih dekat dengan masa depan. Sebab, tidak semua jalan yang berbeda adalah jalan yang salah. Bisa jadi, jalan itulah yang akhirnya membawa kita menemukan diri sendiri.