Konten dari Pengguna

Biji Saga Racun Abrin yang Lebih Mematikan dari Sianida dan Belum Ada Antidotum

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Balqis nursaleha tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi biji saga racun abrin Abrus precatorius biji merah hitam berbahaya.Photo by GPT AI
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi biji saga racun abrin Abrus precatorius biji merah hitam berbahaya.Photo by GPT AI

Di taman-taman dan pagar rumah Indonesia, ada tanaman merambat kecil dengan bunga ungu muda dan polong hijau yang ketika matang merekah membuka, memamerkan biji-biji merah cerah dengan titik hitam di ujungnya. Cantik dan menggoda. Anak-anak sering memungutnya untuk mainan atau perhiasan. Tapi di balik penampilan yang begitu memesona itu, tersimpan salah satu racun biologis paling mematikan yang pernah dikenal sains. Namanya biji saga racun abrin dan satu molekul tunggalnya sudah cukup untuk membunuh sebuah sel.

Abrus precatorius dikenal dengan banyak nama di seluruh dunia. Di Indonesia disebut saga, di India dikenal sebagai gurivinda atau kundumani, dan di dunia barat sering disebut rosary pea atau jequirity bean. Tanaman ini tumbuh liar di daerah tropis dan subtropis termasuk seluruh wilayah Indonesia, dan bijinya yang merah-hitam mencolok sering dijadikan manik-manik atau aksesori perhiasan secara tradisional.

Abrin adalah toksin kelas A yang diekstrak dari biji tanaman Abrus precatorius, serupa dengan ricin dari biji jarak dalam hal mekanisme kerjanya. Dengan estimasi dosis letal pada manusia hanya 0,1 hingga 1 mikrogram per kilogram berat badan, abrin telah menjadi penyebab kematian akibat konsumsi tidak disengaja maupun disengaja. Sebagai perbandingan, sianida membutuhkan dosis sekitar 1.000 kali lebih besar untuk membunuh dengan berat badan yang sama. Ini menjadikan abrin salah satu racun biologis paling potensial yang ada di alam.

Cara Abrin Membunuh Sel dari Dalam

Mekanisme kerja abrin sangat presisi dan mengerikan sekaligus. Abrin adalah dimer yang terdiri dari dua subunit protein yang disebut rantai A dan rantai B. Rantai B memfasilitasi masuknya abrin ke dalam sel dengan berikatan pada protein transpor tertentu di membran sel, yang kemudian mengangkut racun ke dalam sel. Begitu berada di dalam sel, rantai A mencegah sintesis protein dengan cara menonaktifkan 28S RNA ribosom. Satu molekul abrin mampu menonaktifkan hingga 1.500 ribosom per detik, menyebabkan penghambatan sintesis protein yang berujung pada kematian sel dan kematian individu.

Bayangkan seperti ini. Setiap sel tubuh kita adalah pabrik yang terus bekerja, menghasilkan protein yang dibutuhkan untuk bertahan hidup. Ribosom adalah mesin produksinya. Abrin masuk, menghancurkan mesin itu satu per satu dengan kecepatan 1.500 ribosom per detik, dan tidak ada yang bisa diperbaiki. Sel mati, jaringan mati, organ gagal, tubuh pun menyusul.

Tidak Ada Antidotumnya sampai Hari Ini

Inilah yang paling mengkhawatirkan dari perspektif medis. Hingga saat ini tidak ada antidotum atau vaksin yang tersedia untuk melawan racun ini. Satu-satunya antibodi monoklonal penawar yang diketahui terhadap abrin, yaitu D6F10, telah terbukti mampu menetralisir toksisitas abrin pada sel dan pada tikus.

Gejala klinis yang umum terjadi mencakup mual, muntah hebat, diare, nyeri perut, dan perdarahan saluran cerna. Diare bisa terjadi setelah 3 hingga 4 hari konsumsi dan bisa sangat masif sehingga menyebabkan kematian akibat kehilangan cairan yang parah.

Yang membuat penanganan kasus keracunan abrin semakin sulit adalah sifat gejalanya yang tertunda. Korban mungkin merasa baik-baik saja beberapa jam bahkan satu hari setelah terpapar, sebelum gejala tiba-tiba memburuk dengan cepat. Pada saat gejala berat muncul, kerusakan sel sudah terjadi secara luas dan tidak bisa dibalik.

Ancaman Bioterorisme yang Diakui Dunia

Abrin bukan hanya ancaman kesehatan individual. Karena toksisitas ekstrem dan kemudahan pemurnian serta penyebarannya, abrin dianggap sebagai agen bioterorisme yang mengerikan. Meski sudah banyak laporan keracunan abrin, hingga kini belum ada antidotum atau vaksin yang efektif tersedia untuk melawan racun mematikan ini.

Pemerintah Amerika Serikat mengklasifikasikan abrin sebagai agen bioteror Kategori B, satu tingkat di bawah antraks dan smallpox. Ini bukan pengklasifikasian yang berlebihan. Sejarah mencatat beberapa kasus di mana abrin digunakan atau direncanakan digunakan sebagai senjata oleh individu maupun kelompok terorganisasi.

Paradoks yang Menarik Racun yang Juga Diteliti sebagai Obat

Di sinilah kisah abrin memasuki wilayah yang paling menarik secara ilmiah. Sifatnya yang sangat presisi dalam membunuh sel justru menarik perhatian para peneliti onkologi.

Senyawa yang paling mematikan sekalipun bisa menjadi senjata melawan kanker jika bisa diarahkan secara tepat. Abrin, seperti ricin sebelumnya, sedang dieksplorasi dalam konsep yang disebut imunotoksin, yaitu menggabungkan rantai racun A dengan antibodi yang hanya mengenali sel kanker tertentu. Idenya adalah racun tersebut akan dibawa langsung ke sel kanker dan membunuhnya dari dalam, sementara sel sehat tidak tersentuh karena tidak memiliki penanda yang dikenali antibodi tersebut.

Penelitian menunjukkan bahwa tanaman Abrus precatorius menunjukkan aktivitas antioksidan dan antiproliferatif, membuka potensinya sebagai kandidat dalam pengembangan terapi antikanker yang ditargetkan.

Seberapa Berbahaya Biji Saga di Sekitar Kita?

Pertanyaan praktis yang paling relevan adalah apakah biji saga yang tumbuh liar di Indonesia berbahaya bagi masyarakat umum.

Jawabannya adalah tergantung pada kondisinya. Biji saga yang utuh dan tidak rusak sebenarnya relatif aman untuk dipegang karena kulit bijinya yang keras berfungsi sebagai penghalang alami yang mencegah abrin keluar. Bahaya terbesar muncul ketika biji dikunyah, dihancurkan, atau kulitnya rusak sehingga abrin bisa masuk ke dalam tubuh.

Inilah mengapa biji saga yang dijadikan perhiasan atau manik-manik bisa berbahaya jika permukaan bijinya terluka atau berlubang akibat proses pembuatan perhiasan. Beberapa kasus keracunan terdokumentasi terjadi pada pengrajin perhiasan yang tidak sengaja menusuk jarinya dengan jarum yang sebelumnya digunakan untuk menembus biji saga.