Konten dari Pengguna

"Hanya" Tarif Listrik Yang Tidak Naik

Bambang Dwiyanto

Bambang Dwiyanto

Freelancer, alumni PLN

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Bambang Dwiyanto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

foto ilustrasi, sumber : themandalikagp.com
zoom-in-whitePerbesar
foto ilustrasi, sumber : themandalikagp.com

Seorang kawan yang baru saja kembali dari Mataram NTB beberapa hari lalu menceritakan bahwa selama gelaran MotoGP kemarin semua harga di Mataram naik drastis. Mulai dari tiket pesawat, hotel dan penginapan, makanan, barang-barang semua naik. Kegiatan yang dihadiri kawan ini bahkan sampai ditunda tiga hari - semula tanggal 6 Oktober 2025 ditunda menjadi tanggal 9 Oktober 2025 - untuk mengurangi dampak kesulitan mencari hotel dan ketidakwajaran tarif.

Sambil berseloroh, dia mengatakan “Hanya tarif listrik yang tidak naik di Mataram selama ajang MotoGP kemarin”. Seloroh yang ada benarnya. Seloroh yang mengandung keprihatinan mendalam.

Beginikah cara kita menyambut suatu event ? Beginikah cara kita memajukan suatu daerah dengan menggelar event? Dengan pakai jurus aji mumpung ?

Setelah mendengar cerita itu saya langsung browsing internet. Benar saja. Dijumpai banyak berita tentang kenaikan tak wajar harga-harga di Mataram tersebut. Beberapa diantaranya berjudul “Jelang MotoGP, Harga Kamar Hotel di Mataram Diperkirakan Naik Mulai 3 Oktober”. Ada lagi, "Penonton MotoGP Keluhkan Harga Makanan di Lapak UMKM Sirkuit Mandalika Mahal". Lanjut, “Penonton MotoGP Mandalika Keluhkan Ribetnya Pesan Kamar Hotel dan Harga Melambung Tinggi”. Ada yang sampai tiga kali lipat, “Masuk Zona 3, tapi Harga Hotel di Senggigi Naik Tiga Kali Lipat Jelang MotoGP”. “Curhat Bos MGPA: Harga Sewa Hotel-Penginapan Saat MotoGP Mandalika Naik 3-4 Kali Lipat”.

Ada lagi yang lebih ngeri. “Harga Tiket dan Hotel Mahal Diduga Penyebab Utama MotoGP Mandalika 2024 Belum Banyak Diminati”

Dan masih banyak yang lainnya.

Seorang pengunjung yang diwawancara media mengatakan "Boleh dinaikkan, tetapi jangan terlalu tinggi. Jangan mentang-mentang ada event internasional, semua dinaikkan, sama seperti harga hotel yang kemarin juga naik drastis” katanya.

Konon karena faktor harga tersebut banyak pengunjung yang memilih bermalam di Denpasar untuk mengikuri event MotoGP di Mandalika Mataram Selatan. Ironis.

Otoritas setempat bukannya diam. Mereka sudah bergerak juga. Ada beberapa infonya di online. “Jelang MotoGP Mandalika, Hotel-Hotel Diimbau Tak Getok Harga ke Turis”. Hotel dan Kuliner Diingatkan Tak Getok Harga Saat MotoGP Mandalika”.

"Kami imbau kepada teman-teman perhotelan, untuk tidak menaikkan harga kamar melebihi kewajaran," ujar Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) Kota Mataram Cahya Samudra seperti dikutip media.

Namun sepertinya masih banyak yang lolos atau tidak mengindahkan himbauan tersebut. Jadi ke depan yang diperlukan bukan sekedar himbauan yang tidak mengikat tapi peraturan yang mengikat dan diikuti sanksi bagi yang melanggar.

Sejatinya sirkuit Mandalika dibangun dengan tujuan utama untuk meningkatkan pariwisata dan perekonomian Indonesia, khususnya di Lombok. Pembangunan sirkuit juga bertujuan untuk pemerataan pembangunan di luar Pulau Jawa dan menciptakan kawasan terintegrasi antara olahraga balap dan wisata.

Namun jika sikap warganya justru kontraproduktif seperti itu bisa menghancurkan segalanya. Tapi beginilah potret umum tempat wisata kita. Beginilah potret masyarakatnya. Untuk membangun daerah wisata atau kota wisata peran masyarakat sangatlah vital. Mereka adalah subyek. Mereka pelaku utama, sehingga harus disiapkan. Baik mentalnya, sensenya, kompetensinya, sikapnya dan segalanya. Mental bukan aji mumpung yang akan merugikan. Perlu berfikir jangka panjang.

Praktek aji mumpung juga sering terjadi di lainnya. Parkiran menaikkan tarif parkir seenaknya, rumah makan mengenakan harga semaunya, petugas wahana mengenakan charge di luar nalar dan sebagainya. Hal ini mutlak harus dihindari karena akan menjadi boomerang.

PR besar bagi para pihak pemegang otoritas, baik pusat dan daerah terkait. Apa yang terjadi di Lombok adalah refleksi. Saya yakin fenomena serupa juga terjadi di daerah-daerah lainnya, meski tidak semua.

Siapkan warga masyarakat Anda untuk menyambut para turis kalau ingin wisata maju dan menghidupi warga.

Dinas Pariwisata bersama otoritas terkait di berbagai level harus kerja lebih keras. Bagus juka melibatkan unsur masyarakat seperti komunitas, LSM, ormas terkait.

Warga di daerah wisata membutuhkan mental yang kuat, positif dan tentu berorientasi pada pelanggan atau turis yang datang. Mental positif diantaranya ramah dan terbuka, penuh kesabaran dan fleksibel dalam menghadapi turis. Mental kuat diantaranya percaya diri, komunikasi efektif mampu mengatasi masalah yang timbul dalam interaksi dengan turis. Selain itu warga juga harus memiliki mental orientasi pada pelayanan pelanggan, memahami dengan baik obyek wisata daerahnya dan mampu memberikan informasi promosi.

Perlu langkah-langkah strategis untuk membangun dan memelihara mental sadar wisata tersebut. Peran mereka sebagai tuan rumah yang baik harus betul-betul ditanamkan ke warga.

Pelatihan dan sosialisasi kepariwisataan, promosi wisata, pembentukan komunitas dan kelompok masyarakat sadar wisata, pemberdayaan masyarakat dengan bertumpu pada pontensi lokal perlu terus dikembangkan.

Dan yang tidak kalah penting, pengelolaan wisata masa kini harus ramah lingkungan, seperti mengurangi limbah, menghemat energi, dan mempromosikan praktik berkelanjutan. Apalagi ditambah dengan adanya praktek konservasi, seperti perlindungan terhadap sumber daya alam dan keanekaragaman hayati di kawasan wisata. Akan menambah nilai signifikan bagi sebuah destinasi wisata

Pasti bisa !!!