kumparan
5 April 2018 17:14

Berbohong untuk Bercanda: Hoaks-kah Ini?

Hoax (Ilustrasi)
Hoax (Ilustrasi) (Foto: Shutter Stock)
Tindakan menyebarkan berita atau cerita bohong tercatat sudah ada pada tahun 1661. Cara penyebarannya dari mulut ke mulut atau tertulis dalam kertas. Dengan ditemukannya mesin cetak pada abad ke-15, menjadi mudahnya penyebaran informasi dalam skala besar.
ADVERTISEMENT
Makin meningkatnya perkembangan teknologi cetak pada abad ke-19 membuat makin murah dan mudah meluasnya peluang penyebaran informasi. Menginjak abad ke-20 informasi makin mudah meluas merambah ke mana-mana – pasar informasi.
Pada abad ke-21 arus informasi makin tak terbendung. Menjamurnya situs-situs di dunia maya, diiringi dengan lajunya surat elektronik memicu rentetan surat berantai. Kecanduan manusia abad ini pada gawai (gadget) semakin memudahkan nformasi merata ke segala penjuru dan pelosok dunia dalam sekekip mata saja.
Di Indonesia – menurut catatan Kumparan – hoaks pada tahun 2016 bertebaran menjadi viral melalui media sosial. Sampai-sampai banyak penyedia layanan informasi kewalahan bahkan kedodoran dalam menyaring dan meneliti kebenaran informasi dalam upaya mencegah ketersebaran hoaks.
ADVERTISEMENT
Berikut ini dua di antara berita bohong, menurut catatan Kumparan, yang sempat meresahkan orang banyak. Yang pertama, banyak orang terhasut dan terpanikkan memindahkan uang dalam jumlah besar dari bank satu ke bank lain. Gerakan “gegas pindah uang” (rush money) 25 November 2016 ini terjadi pascademo besar 4 November, yang menuntut Basuki Tjahaja Purnama, Gubernur DKI Jakarta, diadili atas dugaan penistaan agama. Namun, akhirnya ini terhentikan oleh informasi tepercaya dari Menteri Keuangan Sri Mulyani.
Menyusul sebaran berikutnya: sepuluh juta tenaga kerja China masuk ke Indonesia. Ini pun sempat meresahkan banyak orang, tetapi dapat segera ditepis oleh Presiden Joko Widodo dengan data yang akurat.
Pertanyaannya, apakah setiap tindakan mengemukakan cerita, baik secara lisan maupun secara tulis, baik berupa rentetan kata maupun gambar (foto), yang ternyata “bohong” adalah hoaks? Apakah yang dilakukan seorang gadis saat mengatakan dirinya hamil sebagai senjata pamungkas menghentikan desakan lelaki yang tidak dicintainya untuk menikahinya termasuk hoaks? Apakah setiap tindakan menyampaikan informasi yang tidak benar disebut hoaks? Bagaimana dengan penyampaian informasi yang tidak benar kepada sesama teman pada tanggal 1 April (april mop), dengan maksud sekadar bercanda, termasuk hoaks juga kah?
ADVERTISEMENT
Jika kita tengok bagaimana kamus bahasa Inggris mendefinisikan hoaks, terdapat dua versi. Yang pertama, hoaks adalah tindakan “to deceive a large group of people” atau “to tell people a lie”. Yang kedua mendefinisikan hoaks sebagai tindakan yang dimaksudkan sebagai “a humorous or malicious deception”.
Dari penjelasan kamus yang pendek itu dapat ditangkap tiga butir makna yang terkait dengan tindakan melakukan hoaks: (a) apa yang disampaikan, (b) kepada siapa itu disampaikan, dan (c) untuk maksud atau tujuan apa itu disampaikan. Yang (a) adalah penyampaian sesuatu yang tidak benar, hasil dari tindakan berbohong. Yang (b) adalah penyampaian kepada satu orang, sekelompok orang, atau ke khalayak umum. Yang (c) adalah penyampaian dengan maksud melucu atau merugikan orang lain.
ADVERTISEMENT
Semua kamus bahasa Inggris menyatakan butir (a), dengan verba to deceive, to trick, to tell a lie, atau nomina deception. Mengenai butir (b), ada kamus yang menyebutkan, meskipun sebatas hanya pada people atau a large group of people; tidak pada individu atau perorangan. Mengenai butir (c), tidak semua kamus menyebutkannya. Kamus yang menyebutkan butir (c) memakai kata or (atau) untuk menggabungkan dua hal yang berbeda. Perbuatan bohong dalam hoaks itu bertujuan untuk mengundang tawa (humorous) atau untuk berbuat jahat (malicious): hoax is a humorous or malicious deception.
Pertanyaannya, mengapa kamus bahasa Inggris memakai kata atau untuk menyambung dua hal yang dapat dikatakan bertentangan itu, yaitu bohong dengan tujuan positif (mengundang tawa) dan tujuan negatif (melakukan kejahatan)? Apakah dengan demikian, hoaks dapat dimaknai dengan tujuan yang berbeda? Lalu, terpulang pada penutur bahasa untuk memilih yang mana di antara (1) dan (2) ini pada waktu “berhoaks”: dengan tujuan (1) melucu, bercanda, membuat orang tertawa atau (2) berbuat jahat, merugikan sampai menyengsarakan orang?
ADVERTISEMENT
Ihwal “berbohong untuk keperluan bercanda” ini perlu dicermati secara khusus, karena terdapat dua konteks yang berbeda. Berbohong untuk bercanda sudah merupakan semacam “tradisi” yang dilakukan pada tanggal 1 April di antara teman dekat, di lingkungan terbatas. Ini berbeda dengan berbohong untuk bercanda di bandara, di tempat umum: penumpang lapor bahwa kopernya berisi bom; padahal, sesungguhnya tidak. Ia hanya ingin bercanda dengan petugas keamanan bandara.
Apakah kedua contoh berbohong untuk bercanda itu kedua-duanya atau hanya yang kedua saja yang termasuk hoaks? Yang jelas, hanya bercanda dalam konteks di bandara yang dapat dijerat dengan Ps. 437 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2009. Uraian tentang dua jenis berbohong untuk bercanda ini dapat dibaca di http://www.liputan6.com/tag/kolom-bahasa.
ADVERTISEMENT
Pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) versi cetak yang mutakhir belum tercantum lema hoaks, tetapi mulai ada pada KBBI V daring https://kbbi.kemendikbud.go.id. Tantangan bagi KBBI untuk menguraikan makna hoaks bagi penutur bahasa Indonesia secara lebih jelas dan lebih mengena daripada kamus bahasa Inggris.
Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan