Konten dari Pengguna

Dago dan Kisah Penantian

Bambang Prayitno

Bambang Prayitno

pembelajar

clock
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Bambang Prayitno tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Trotoar Dago tertata rapi (Foto: Istimewa)
zoom-in-whitePerbesar
Trotoar Dago tertata rapi (Foto: Istimewa)

Dago di pagi hari. Kabut tipis masih nampak. Orang-orang lalu lalang. Berlari kecil memeras lemak di tubuhnya. Dua orang petugas polisi lalu lintas sigap menyandarkan motornya. Angkot berkejaran menyanyikan suara-suara yang riuh. Rumah-rumah FO masih menguap. Ini pukul enam tapi kita dikejar-kejar kesibukan dan rasa cemas. Semua serba terburu-buru. Seperti esok tak ada lagi. 

Dago pada awalnya adalah kesunyian yang memisahkan. Seperti penghalang rasa rindu. Keheningan yang gelap nan membentang juga ada ketakutan. Dago pada purba adalah belantara yang melahirkan gurat cemas. Orang-orang dari puncak bukit yang beku datang dengan rasa dingin. Mereka ingin berjumpa saudaranya atau kekasihnya atau sekedar menjajakan hasil kebunnya.

Namun, hati mereka dijalari ketakutan. Enggan melewati serentang hutan yang penuh dengan lengkingan binatang dan ancaman perampok. Lalu dalam ketakutannya mereka saling menunggu. Berharap dengan bersama mereka bisa saling memupuk keberanian. Sedikit demi sedikit. Lalu berjalan pelan melewati bentang gelap. Tepi hutan tempat mereka saling menunggu itu mereka sebut "Silih Ngadogoan". Saling menunggu. 

Lalu, perlahan, orang-orang menyebutnya dengan singkat; Dago. Menunggu. 

Setiap kita adalah penunggu ketidakpastian yang setia. Bertahan berjam-jam, berhari-hari, berbulan-bulan. Menunggu datangnya seorang kekasih. Menunggu kapan kita akan mendapatkan durian runtuh untuk melamar kekasih, menikahinya atau membayar hutang dan membangun rumah atau menunggu kapan kita bisa jalan keliling dunia dan menghajikan orangtua. Menunggu kapan kita akan pergi dan tak kembali. 

Aku menjumpai sepasang kekasih yang renta. Berjalan dengan pakaian olahraga yang senada. Berwarna hijau muda. Nampak cerah; kontras dengan mata keduanya yang sayu yang entah. Apakah keduanya lelah hidup bersama? Aku tidak yakin. Mereka sudah melewati separuh usia dengan bersama. Tentu saja mereka sudah merasakan suka duka bersama. Mereka pasti bahagia. 

Ilustrasi pasangan tua (Foto: coombesy)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi pasangan tua (Foto: coombesy)

Ataukah mereka adalah sepasang kekasih dan baru ditakdirkan bersama setelah berpuluh tahun terpisah karena tak ada jodoh diantara mereka? Aku tak berani menebak. Tangan keduanya saling menggengam erat. Seperti tak ingin berpisah. Mereka saling mencinta. Melewati saat-saat senja. Melewati pagi-pagi yang senja. Dalam pelan mereka melewatiku setelah menitip senyuman. 

Tak berapa lama, Aku jumpai seorang gadis setengah tua. Mungkin di kisaran tiga puluhan. Berwajah biasa saja. Berjilbab ringkas dengan bedak tipis di pipi. Juga pulas lipstik berwarna merah yang samar. Seperti malu-malu. Bajunya yang nampak seragam dan celana hitamnya seperti menandai pekerjaaannya. Mungkin ia pramuniaga salah satu factory outlet di Dago ini. Atau pelayan toko lainnya. Atau pelayan restoran dan rumah makan. Mungkin ia belum menikah. 

Ia tergesa. Berjalan cepat dan menunduk. Diburu waktu. Aku bertanya-tanya tentang nasib penantian dalam hidupnya. Apakah ia sudah memiliki kekasih? Kalau belum, kapan seorang lelaki akan datang ke rumah dan menyatakan rasa suka?  Atau, kalau ia memiliki kekasih, apakah kekasihnya sudah melamarnya? Butuh berapa hari dan bulan dari hidupnya untuk mendapatkan kepastian dari kekasihnya? Apakah kekasihnya akan menepati janji? Apakah ia dan kelasihnya akan langgeng hingga ke pelaminan?

Aku tak tahu. Aku hanya bisa bertanya-tanya. Dan membayangkan masa depan yang akan dijalani. Sekadar mengkhayal, tapi sungguh, aku tak bisa membayangkan jika ada sepasang manusia yang saling mencinta tapi kemudian keduanya tak ditakdirkan bersama. Tentu saja nasibnya akan senelangsa Qais dan Layla. Dan kita berurai air mata membacanya, tapi bukankah begitu; justru tragedi adalah cerita yang abadi?

Menggenggam Tangan Pasangan (Foto: Thinkstock)
zoom-in-whitePerbesar
Menggenggam Tangan Pasangan (Foto: Thinkstock)

Aku yakin, setiap orang pasti bermimpi. Tentu saja mimpi bahagia; di persimpangan kita menunggu kekasih. Tak lama kekasih kita datang dan kita berjanji untuk hidup bersama. Membangun rumah tempat kita duduk di pagi hari, meminum teh dan sepotong roti dan mendengar tawa dan senandung nyanyian atau suara mengaji anak-anak yang renyah dan hangat. Lalu kita saling menguatkan hingga kita tua. 

Kita menunggu demi mengusir rasa dingin. Kita menunggu untuk mendapatkan kehangatan di ruang hati kita. Kita menunggu dalam ketidakpastian, tapi penuh percaya. 

Di tengah Dago, smartphoneku berbunyi. Seorang gadis beliau tertawa dengan barisan giginya yang rapi. 

"Ayah, Nailah kangen ayah". Aku tertawa. Tunggu ayah di rumah, ya nak. 

Jumat pagi di Simpang Dago, 6 Oktober 2017

(Bambang Prayitno)

PS: Kepada para jomblo; selamat menunggu cintamu. Tapi tak usah menunggu lama, segera temukan dan halalkan. Kau akan menemukan kebahagiaan.