Konten dari Pengguna

Dua Percakapan di Sebuah Kafe

Bambang Prayitno

Bambang Prayitno

pembelajar

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Bambang Prayitno tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dua Percakapan di Sebuah Kafe

Setiap orang punya alasan untuk berada di sebuah kafe. Mungkin karena ia sedang kelaparan berat. Atau juga ingin mencicipi menu baru. Mungkin ia terpikat pada gambar makanan yang dipromosikan di instagram atau facebook akun kafe tersebut. Mungkin juga demi berjumpa kekasih dan merayakan ulang tahun dan kelulusan. Atau memang ke kafe adalah ritus pekanan yang sudah terjadwal. Atau sedang merencanakan projek tentang sesuatu, barangkali.

Tapi ada juga, seseorang datang ke kafe, duduk dan menikmati kopi sambil membaca koran. Dan ia betah berjam-jam. Mendengarkan musik yang mengalun pelan. Dan ia pulang hanya ketika jam di sudut atas dinding sudah menunjukkan pukul duabelas. Saya pernah berjumpa dengan orang seperti ini. Hampir 5 tahun ketika saya datang di kafe tersebut, orang berperawakan kurus dan berkacamata itu duduk di kursi yang sama. Memesan secangkir kopi. Dan tenggelam dalam barisan tulisan koran. Ia hening di tengah keramaian. Seperti batu besar ditengah arus sungai.

Tapi memang, kafe pada awalnya adalah tempat yang syahdu. Di tempat kelahirannya di Perancis, orang datang ke kafe untuk menikmati kopi yang masih menjadi minuman asing lagi nikmat. 350 tahun yang lalu, kafe adalah sebuah kios kecil tempat orang menyesap kenikmatan kopi dengan pelan. Lalu pikiran orang menjadi tenang dan hening. Jaman berkembang, kafe menjadi tempat orang bertemu dan berkenalan lalu tertawa bersama. Kafe juga menjadi tempat yang romantis dimana seluruh percakapan dari hati jutaan manusia lahir. 

Malam ini, aku datang di sebuah kafe yang riuh di Bandung Timur yang tenang, seperti lelaki batu itu. Tapi tak benar-benar batu. Aku masih mendengar suara-suara. Aku masih mendengar percakapan. Dan aku senang karena kepalaku dipenuhi banyak khayalan. Tentang percakapan-percakapan. Aku hanya memesan sebotol kecil air putih. Sudah dua bulan ini aku tak minum kopi. Mungkin aku melanggar pakem kafe, karena kafe artinya meminum kopi. Tapi biar saja-lah.

Seorang lelaki berumur lima puluhan duduk di sampingku. Duduk serta dengannya seorang perempuan yang juga berumur limapuluhan. Disampingnya ada seorang gadis yang berambut sebahu. Memakai baju kaos yang keren dan sepatu kets. Gadis mungil itu mungkin baru berumur mendekati delapan belas atau sembilan belas tahun. Mungkin saja ia anak bungsu yang lahir ketika ibunya sudah mendekati tigapuluhan lebih. Mungkin ia anak bungsu. Anak perempuan satu-satunya.

Perbincangan antar ayah, ibu dan anak itu nampak terasa canggung. Si gadis belia itu mungkin sudah merasa dewasa dan harusnya boleh datang ke kafe seperti teman-temannya yang lain. Ayahnya yang perhatian berpikir lain. Ia ingin melihat anak gadisnya ketika keluar malam untuk sekedar menikmati makanan di kafe tersebut. Ibunya lebih perhatian. Menanyakan kabar kuliahnya. Di gurat wajah ayahnya nampak rasa sayang, tanggungjawab dan cinta. Diselubungi cemas yang samar.

Seperti halnya lelaki berumur limapuluhan itu, aku atau orang tua lain juga pasti akan menaruh perhatian yang berlebih pada anak perempuan. Perkembangannya, sholatnya, pergaulannya, sekolahnya. Bahkan curhat-curhatnya. Juga anak laki-laki. Tapi entah ya, apa hanya perasaanku saja. Kepada anak laki-laki kita kadang merasa tenang. Tidak sewas-was perasaan kita kepada anak perempuan. Tapi itu mungkin perasaanku saja. 

Tapi, orangtua mana sih yang tak hirau dengan anak-anaknya. Kecil atau besar; perhatian itu pasti ada. Betapa kita gusar dan marah ketika melihat anak-anak kita teledor sholatnya. Betapa sedihnya kita kalau mendengar anak kita tak selesai Iqro'nya. Juga betapa riangnya hati kita ketika anak kita bisa menulis dan membacakan puisi. Itu saja sudah seperti mengobati seluruh masalah hidup.

Anak gadis itu berjalan dengan canggung melewati gadis yang lebih tua beberapa tahun darinya yang sedang minum segelas cokelat dingin bersama kekasihnya. Ia seperti memupuk percaya diri diantara gerombolan anak-anak muda yang sedang tertawa membicarakan sesuatu. Entah apa yang dipikirkannya. Aku harap dia tetap bahagia dan bertambah bangga diantar makan di kafe oleh orangtuanya. Aku percaya ia, beberapa bulan atau setahun lagi, diperbolehkan datang ke kafe ini oleh orangtuanya.

Seorang gadis muda peminum cokelat dingin itu nampak murung. Rupanya, lelaki yang di depannya itu adalah suaminya. Mereka mungkin pasangan muda. Wajah gadis muda itu nampak lesu dan tubuhnya sangat kurus. Jaket jeans yang aku duga milik suaminya itu tak bisa menutupi kurus badannya. Justru makin nampak. Ia berbincang pelan. Tentang kontrakan tempat mereka tinggal. Mungkin mereka pasangan muda yang lebih memilih berpisah rumah dengan orangtuanya. Supaya lebih matang, alasannya.

Laki-laki itu sendiri menggunakan jaket ojek online. Wajahnya yang gagah seperti dimakan debu dan panas. Ia nampak lusuh. Tapi gagah. Sepatu kulitnya nampak kusam. Mungkin sudah bertahun-tahun menemani perjalanan lelaki muda itu. Mungkin sepatu itu juga sudah bosan mendengar sumpah serapah. Seperti makanan sehari-hari. Mungkin ia sudah kenyang menelan ludah yang terlontar dari mulut lelaki muda. Ia seperti jadi tempat seluruhnya; lelah, marah, gelisah.

Lelaki itu menunduk. Kontrakan bulan ini dan uang bulanan untuk istri tercinta, kelihatannya akan terlambat. Ia harus lebih bekerja keras mengejar setoran. Tapi persaingan diantara ojek online semakin ketat. Apalagi penolakan kelompok ojek pengkolan di kotanya yang beberapa kali memakan korban. Ia seperti tak tenang. Ijazah SMA nya seperti tak berguna. Pekerjaan makin susah saja. Dan ia jadi mengenang masa-masa SMA.

Kadang memang begitu, saat kita menghadapi masalah yang berat, kita selalu berimajinasi ketika kita berada dalam situasi ketika kita hampir tak memiliki masalah sama sekali. Padahal, kita harus berjalan terus. 

Waktu berjalan. Dua jam berikutnya, aku berbincang dengan beberapa orang kenalan baru. Berbincang tentang banyak hal. Tepat pukul dua belas lewat delapan aku dan kawan-kawan baruku memutuskan berpisah jalan. Kafe sebentar lagi tutup. Esok masih ada hari yang harus dihadapi. Malam ini tak mungkin kembali.

Kafe The Panasdalam, 6 Oktober 2017

(BP)

PS: hadapi setiap hari dengan penuh rasa syukur. Itu jadi sebab kita agar selalu bahagia.