Konten dari Pengguna

Enam Pesan di Sepanjang Jalan

Bambang Prayitno

Bambang Prayitno

pembelajar

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Bambang Prayitno tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Enam Pesan di Sepanjang Jalan
zoom-in-whitePerbesar

Sepanjang perjalanan di Bandung, Kang Emil tak sempat menemui dan berbincang dengan saya. Ia sibuk sepertinya. Padahal saya sudah berusaha menjenguknya di Balaikota Bandung. Ia tak ada. Kata polisi pamong praja, Kang Emil sedang tak ada di kantor. Di Balaikota dan tamannya, saya hanya mendapati beberapa gadis yang sedang berolahraga, sepasang kekasih yang sedang welfie, dan anak-anak muda yang sedang duduk-duduk di bangku taman kota, entah dengan pikiran apa di kepalanya.

Saya duduk di taman Balikota beberapa lama. Patung burung merpati dan patung hewan yang lain nampak mengamati. Kata polisi pamong praja, besok Senin saja kalau mau jumpa Kang Emil. Kalau Minggu memang tak ada. Okelah kalau begitu. 

Tapi, sebenarnya, tak perlu menunggu berjumpa Kang Emil untuk mendapatkan sepatah dua patah nasehat. Susuri saja kota Bandung, dan kita akan dapati pesan bertebaran yang memang sengaja dipatri Kang Emil di jalan setapak jalur Pedestrian dan tempat-tempat lain. Hampir semua pesan Presiden dan tokoh bangsa, dibuatkan semacam prasasti yang ditanam. Ini ide Kang Emil. Terimakasih Kang Emil untuk ide ini. Saya terus terang jadi dibawa rasa penasaran yang meletup-letup. Setelah bertemu pesan yang pertama, saya seperti dipaksa untuk mencari-cari  pesan-pesan berikutnya. Seperti permainan teka-teki masa kecil. 

Pesan pertama, dari pendiri bangsa ini, Bung Karno. Pesannya ditanam di jalan Dago. Berbunyi; "Bermimpilah setinggi langit. Jika engkau jatuh, engkau akan jatuh diantara bintang-bintang". Inspiring ya. Iya. Bung Karno memang menginspirasi. Bahkan sejak muda ia selalu mampu merumuskan kata-kata penuh tenaga yang bisa menggerakkan banyak pemuda lain untuk berjalan bersamanya. Kita butuh pemimpin seperti itu. Yang kata-katanya seperti bara yang menyalakan dan membangkitkan sebuah bangsa. Bangsa dengan impian raksasalah yang mampu berdiri menjadi imperium yang dikenang dunia. 

Pesan kedua, dari salah satu Presiden kita di era Reformasi, Burhanuddin Jusuf Habibie. Pesannya berbunyi "Belajarlah mengucap syukur dari hal-hal baik di hidupmu. Belajarlah menjadi kuat dari hal-hal buruk di hidupmu". Ini iyes banget ya. Pesan yang update dengan situasi kehidupan kita. Siapapun diri kita. Menjadi orang yang hidup dengan rasa syukur dan terus bersabar dan menguat ketika berjalan diatas cobaan adalah kunci agar kita senantiasa bahagia. Apapun situasinya, woles aja. Katakan pada pikiran kita; it's gonna be okay. Semua akan baik-baik saja. Segala sesuatu akan berputar. 

Nah, kita lanjut ke pesan yang ketiga, yuk. Masih pesan dari Opa Habibie nih. Entah kenapa saya menemukannya dua kali. Yang jelas ini takdir. Nah, pesannya berbunyi; "Hanya anak bangsa sendirilah yang bisa diandalkan untuk membangun Indonesia. Tidak mungkin kita mengharapkan bangsa lain". Heeh banget ya. Pesan ini seperti tamparan yang menyadarkan tidur panjang bangsa ini. Bahwa kita harus yakin dengan kemampuan bangsa ini. Kita harus percaya dengan seluruh apa yang kita miliki. Dan kita berjuang dengan segenap keyakinan dan cita-cita kita sendiri. Sebab, memang begitu; jatuh bangun sebuah bangsa, kita yang tentukan, guys.

Pesan yang keempat berasal dari Hadratussyaikh pendiri Nahdlatul Ulama. Ini pesan orang shalih di negeri ini. Tapi pesannya menarik. Yuk kita simak; "Agama dan Nasionalisme adalah dua kutub yang tidak berseberangan. Nasionalisme adalah bagian dari agama dan keduanya saling menguatkan". Keren ya. So, salah besar kalau nasionalisme dan agama saling berbenturan dan bertolak belakang ya. Karena mencintai bangsa kita adalah bagian dari ibadah yang merupakan intisari agama-agama. Mencintai Indonesia adalah bagian dari rasa syukur kita kepada Allah karena kita telah dilahirkan di bagian bumi yang indahnya melahirkan decak kagum seluruh manusia. Jadi mbrebes mili nih. Hehe.

Nah, pesan kelima dari Walikota Bandung sendiri. Kang Emil menulis begini; "Bekerja bukan untuk mencari penghargaan. Namun penghargaan adalah ukuran bahwa telah terjadi perubahan". Iya, bekerja mah ikhlas aja, ya ngga sih. Bekerja harus berorientasi pada capaian dan hasil. Pemimpin harusnya begitu. Apalagi pemimpin wilayah dan kota. Juga pemimpin nasional. Mesti punya target yang jelas dalam periodesasi kepemimpinannya. Mesti punya tahapan dan langkah-langkah yang pasti dan terukur. Mesti melibatkan semua orang yang ada di sekelilingnya. Termasuk rakyat biasa seperti kita. Jadi semuanya punya tanggungjawab. Semua merasa memiliki. Semua bangga kalau ada prestasi. 

Kelima pesan tersebut bisa kita jumpai di jalur pedestrian Jalan Dago. Saya tambah bonusnya jadi enam ya. Pesan terakhir ini bisa kita jumpai di  Teras Cihampelas; tempat jalan-jalan diatas jalan raya yang baru dibangun. Di photo booth di teras paling ujung kita jumpai sebaris pesan yang juga berasal dari Kang Emil. Pesannya tertulis; "Biarlah cinta tak berbalas, biarlah cicilan makin memeras, yang penting happy di Teras Cihampelas". Idih. Kang Emil bisa aja. Hahaha. Tapi bener juga ya. Apapun masalah kita, dibuat happy saja. Bahagia terus. Yang terakhir ini bonus ya. Karena photo booth kadang tidak bertahan lama.

Jadi, bermimpi setinggi langit, terus bersyukur dan terus kuat, berjuang bersama mewujudkan bangsa yang mandiri dan berdikari, mencintai bangsa kita sebagai bagian dari ibadah, terus bekerja dan berkarya sesuai dengan pilihan profesi kita dan bahagia sepanjang hidup adalah pesan-pesan yang luar biasa. Kalau kita jalankan bersama-sama pesan ini, tentu akan ada perubahan yang dahsyat dari bangsa ini.

Tentu saja masih banyak pesan-pesan yang tertulis yang tersebar di banyak tempat di Kota Bandung. So, bagi kalian yang sedang berjalan di kota lain, sambil jalan kaki ke berbagai tempat, cobalah cari pesan-pesan tersembunyi. Lalu tuliskan dan bagikan. Semoga menginspirasi kita semua. Sampai jumpa.

Jakarta, 8 Oktober 2017