Konten dari Pengguna

Soekarno dan Gagasan Arabnesia

Bambang Prayitno

Bambang Prayitno

pembelajar

clock
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Bambang Prayitno tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Soekarno dan Gagasan Arabnesia
zoom-in-whitePerbesar

Soekarno dan Gagasan Arabnesia

Oleh: Bambang Prayitno 

Sore kemarin (2/3), dalam pertemuan di Istana negara, Puan Maharani dan Ibunya Megawati Soekarnoputri melakukan welfie bersama Raja Salman. Sehari sebelumnya (1/3), di Istana Bogor, ketika pertamakali sampai, Raja Salman sempat mencari-cari Puan Maharani. Rupanya, informasi bahwa ada cucu Soekarno yang menjadi Menteri Kabinet Kerja telah sampai ke telinga Raja Salman. 

Jika kita menyaksikan bagaimana wajah bahagia Raja Salman ketika bertemu Puan di Istana Bogor dan bagaimana ia mengekspresikan kegembiraan ketika berjumpa Puan Maharani dan Megawati yang notabene cucu dan anak Soekarno, maka bisa kita pastikan bahwa ada kerat besar di hati Raja Salman bernama kenangan istimewa tentang Soekarno yang sulit dilupakan. 

Tahun 1955, waktu itu Raja Salman masih berumur 19 tahun. Ia masih berada dalam proses transisi dari seorang Wakil Gubernur kemudian dilantik menjadi Gubernur Riyadh. Tahun yang sama ketika Soekarno melaksanakan Haji Akbar dan dijamu serta diajak berkeliling ke berbagai tempat di sekitar Mekkah oleh kakaknya, Raja Saud. Saat itu, Raja Saud juga baru dalam dan belum memiliki pengalaman yang panjang sebagai pemimpin negara. 

Maka kedatangan Soekarno di Arab Saudi itu seperti oase pengetahuan tersendiri bagi Raja Saud dan Salman muda. Terutama Salman. Ia terkenal cakap sejak muda. Ia sedang dalam masa pencarian yang dalam tentang negara dan rakyat. Sementara Salman sendiri adalah seorang pemimpin. Ia rajin membaca perubahan dunia yang saat itu sedang berada di gelombang besar. Dan adalah Soekarno yang menjadi titik episentrum besar diantara 'the emerging forces'. Maka, pantas saja Salman terkenang.

Soekarno Dalam Ingatan Zaman

Lantas, apa yang diingat Salman dan sejarah dari seorang Soekarno ?. Ini hal yang menarik untuk ditelaah. Selain soal ide-ide teknis perihal perbaikan jalur antara bukit Shafa dan Marwah dan penanaman pohon mindi yang terkenal mampu memberikan hawa sejuk di sekitar 1200 hektar dari bentang Padang Arafah hingga kini, tentu saja ada yang menarik dari Soekarno yang membekas di hati orang-orang besar yang hidup di tahun 1955. 

Setidaknya, ada 3 (tiga) hal yang diingat tentang Soekarno pada saat itu. Pertama, tentang nasionalisme. Soekarno adalah pemimpin Indonesia yang mengobarkan nasionalisme. Sejak umur dua puluhan, sejak tahun 1920an hingga 1930an, Soekarno rajin menulis di suratkabar lokal dan memperkenalkan gagasan tentang narasi baru nasionalisme yang berbeda dengan pikiran banyak pemikir bangsa di dunia. 

Nasionalisme dalam pandangan Soekarno adalah nasionalisme yang berdasarkan kemanusiaan dan menciptakan kesejahteraan. Gagasan nasionalisme kemanusiaan itu menjadi gagasan yang menyebar diantara banyak bangsa yang baru merdeka saat itu. Gagasan Soekarno yang ia sebut Sosio-Nasionalisme pada tahun 1930an itu, makin matang narasinya duapuluh tahun kemudian; tepat ketika sejarah menyaksikan Indonesia merdeka; Soekarno menjadi tokoh dunia; dan Salman sedang berada di puncak penasarannya. 

Kedua, antikolonialisme. Sikap antipenjajahan ini seperti tinta yang mewarnai buku hidupnya. Soekarno sangat antipenjajahan, dan perjuangan untuk melawan penjajahan itu ia praktikkan sejak remaja hingga Indonesia merdeka. Konsistensinya itu ia tunjukkan kepada seluruh bangsa di dunia. Tidak hanya berjuang bagi kemerdekaan Indonesia, tapi juga kepada bangsa di Asia dan Afrika yang memang sedang berjuang merebut kemerdekaannya.

Tahun 1955 adalah tahun yang diingat oleh bangsa di Semenanjung Arab, seluruh kawasan Asia dan Afrika. Pada tahun itu, Soekarno menggagas Konferensi Asia-Afrika yang menelurkan Dasa Sila Bandung yang diikuti oleh negara-negara dunia yang akumulasi penduduknya melebihi jumlah penduduk dunia saat itu. 

Dari 10 (sepuluh) isi Dasa Sila Bandung, 8 diantaranya secara eksplisit berisi desakan kepada dunia untuk menghormati hak setiap bangsa dalam memperjuangkan kemerdekaannya. Termasuk didalamnya, mengecam agresi dan aneksasi kolonial pada negara-negara di dunia. Kecaman ini menyejarah. Dari 29 negara peserta, Arab Saudi bersama sekitar 10 negara di kawasan Arab, ikut hadir dan mendukung. Inilah salah satu gelombang puncak dalam sejarah dunia. Dan Salman muda menyaksikannya.  

Ketiga, solidaritas internasional atau internasionalisme atau persaudaraan bangsa-bangsa. Sejak Indonesia merdeka, Soekarno selalu rutin melakukan lawatan luar negeri dan berpidato tentang solidaritas internasional. 

Tidak hanya di momen penting kenegaraan seperti Pidato Kemerdekaan RI di tiap tahun. Tapi juga dalam lawatan ke negeri sahabat, ia selalu menunjukkan komitmen Indonesia pada kemerdekaan Tunisia, Aljazair, Maroko dan yang lainnya. Dalam setiap kunjungannya ke negara lain dan diminta berpidato, Soekarno selalu mengucapkan kata "saudara-saudara". Ucapan yang menjelaskan isi hati Soekarno tentang solidaritas, cinta dan persaudaraan. Ucapan "saudara-saudara" inilah yang diingat oleh Salman saat tahun 1955 itu.

Soekarno Itu Religius

Tapi ada satu yang nampak hilang dari Soekarno yang juga menjadi evaluasi kita. Kita hari ini seperti menyaksikan, bahwa seolah-olah, Soekarno nampak nasionalis saja. Dan ia tak bersemat dengan karakter, pikiran dan narasi lain selain soal nasionalisme itu. Ajaran dan gagasan nasionalisme Soekarno seolah-olah berdiri sendiri dan tak bergandeng rentang dengan gagasan lain. 

Padahal, Soekarno selalu mengaku sebagai orang muslim yang religius, selain pengakuannya sebagai orang yang nasionalis. Kita tak usah masuk ke perdebatan Pancasila dan urutan sila-silanya seperti yang beberapa waktu lalu sedang ramai. Telisik saja kepribadian Soekarno dan banyak pidatonya yang dalam luar biasa dan mencerminkan sisi religiusitasnya itu.  

Dalam setiap pidato di Peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan RI sejak 1945 hingga akhir kepemimpinannya, Soekarno selalu menyadarkan kita akan kebersandaran kita pada Tuhan. Misalnya, dalam Pidato Kemerdekaan RI tahun 1955 yang berjudul "Tetap Terbanglah Rajawali", Soekarno mengatakan; "Kita sekalian adalah makhluk Allah. Dalam menginjak waktu yang akan datang, kita ini seolah-olah adalah buta. Ya, benar kita merencanakan, kita bekerja, kita mengarahkan angan-angan kepada suatu hal di waktu yang akan datang. Tetapi pada akhirnya, Tuhan pula yang menentukan. Justru karena itulah, maka bagi kita sekarang adalah satu kewajiban untuk senantiasa memohon pemimpin kepada Tuhan". 

Dan banyak lagi statemen dan pendapat serta gagasan Soekarno yang menghadirkan kesadaran akan campur tangan Tuhan dalam setiap peristiwa.  Ada satu peristiwa yang menarik pada tahun 1955 saat Soekarno berhaji. Dalam perjalanan pulang dari ibadah haji, Soekarno berucap kepada seluruh rombongan; "kamu hendaknya jangan mempergunakan predikat haji, sebelum kamu betul-betul dapat mendirikan, tidak sekadar menjalankan, shalat secara tertib sebagaimana yang diperintahkan (oleh Allah)”. 

Ini sekaligus kritik untuk PDI-Perjuangan. Menurut pendapat saya, menarik PDI-P ke titik sekuler ekstrim atau nasionalisme yang menghilangkan sisi religiusitas adalah seperti mengingkari gagasan dan kepribadian Soekarno. Karena Soekarno yang kita ingat adalah Soekarno yang nasionalis sekaligus melekat sekali sentuhan religinya. 

Mengembalikan Mimpi Soekarno

Gagasan Arabnesia adalah gagasan yang mengembalikan mimpi Soekarno. Poros Asia-Afrika yang dulu pernah digagas Soekarno adalah gagasan yang layak kita hadirkan lagi. Gagasan Arabnesia bukan hanya tentang hubungan dua negara saja, tapi hubungan yang menjelaskan makna dari banyak hal.

Pertama, bahwa, dulu di tahun 1955, Indonesia menggalang aliansi nonblok bersama 10 negara di jazirah Arab, adalah dalam rangka membebaskan diri dari penjajahan dan imperialisme. Kini, di tahun 2017, Indonesia menggalang kerjasama persaudaraan dengan Arab Saudi dan sekitarnya (Arabnesia), adalah dalam rangka semangat yang sama; membebaskan kita dari ekspansi ekonomi yang tak mengenal keadilan sosial dan hanya mengenal keserakahan.

Kedua, gagasan kita untuk bersahabat dan bekerjasama dengan Arab Saudi serta membuat poros Arabnesia adalah bentuk penjelasan kita kepada dunia bahwa Indonesia adalah bangsa yang mampu menerima Arab Saudi beserta seluruh pandangannya. Dulu, di tahun 1955, Soekarno telah menginspirasi Raja Salman muda. Dan sedikit atau banyak, inspirasi itu telah mempengaruhi pandangan Raja Salman kepada bangsa kita. Maka, inilah momentum kita untuk menginspirasi Arab Saudi kembali dengan keterbukaan kita.

Ketiga, dari banyak peristiwa di sepanjang hidupnya, kita bisa menyimpulkan, bahwa Soekarno tidaklah menjauh dari religiusitas. Justru mengalirkan semangat keagamaan dalam setiap gagasannya. Nasionalisme religius adalah nasionalisme yang pantas kita hadirkan kembali. Itulah pikiran dan narasi Soekarno yang sebenarnya. 

Mari kita berdo'a kepada Allah SWT. Semoga Megawati Soekarnoputri dan Puan Maharani  tak hanya berhenti di welfie bersama Raja Salman saja. 

Jakarta, 3 Maret 2017