Generasi Selingkuh: Apa yang Sebenarnya Lapar dalam Hubungan Urban Kita?

Praktisi ISO Manajemen Sistem dan Compliance.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Bambang Riyadi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Belum lama ini, seorang teman curhat di warung kopi sore hari. Bukan tentang pekerjaan atau uang, tapi soal hubungannya yang baru kandas karena pasangannya ketahuan chat mesra dengan mantan. Ia tak marah karena ciuman atau sentuhan fisik — yang membuatnya hancur justru adalah: "Dia lebih terbuka sama dia daripada sama aku."
Kasus seperti ini mungkin sudah biasa. Tapi yang tidak biasa adalah bagaimana "selingkuh" kini tak lagi hanya soal tubuh, tapi soal emosi, perhatian, dan ruang batin. Dan makin sering kita dengar: generasi muda sekarang mudah selingkuh. Tapi benarkah mereka lebih genit, atau justru lebih lapar?
Bukan Soal Moral, Tapi Soal Kelaparan Emosional
Istilah "generasi selingkuh" sering dilemparkan sebagai sindiran — seolah-olah anak muda sekarang tidak punya komitmen, hedonis, atau mati rasa. Tapi kalau kita gali lebih dalam, mungkin pertanyaannya bukan "Mengapa mereka selingkuh?", tapi "Apa yang tidak terpenuhi di dalam hubungan mereka?"
Di tengah hiruk-pikuk kota, kesibukan kerja dari rumah, dan rutinitas yang menggerus waktu berkualitas, banyak pasangan yang hidup berdampingan tapi terasing secara emosional. Mereka saling tahu jadwal WFH, tapi tidak tahu kapan terakhir kali pasangannya menangis diam-diam di kamar mandi.
Dalam kondisi seperti itu, datanglah seseorang — bisa rekan kerja, teman lama, atau bahkan stranger di aplikasi kencan — yang mendengarkan dengan penuh perhatian. Yang memberi space untuk bercerita tanpa langsung memberi solusi. Yang membuatmu merasa dilihat, bukan sekadar dikenal.
Dan di situlah batas mulai kabur. Bukan karena nafsu, tapi karena kelaparan akan keintiman yang autentik.
Kota yang Sibuk, Hati yang Kesepian
Jakarta, Bandung, Surabaya — kota-kota besar Indonesia memang penuh orang. Tapi ironisnya, kesepian di kota justru sedang jadi epidemi. Studi dari The Lancet menyebutkan bahwa generasi muda (18–35 tahun) adalah kelompok yang paling rentan mengalami isolasi sosial, meski aktif di media sosial.
Hubungan romantis pun tak luput dari tekanan ini. Banyak pasangan menjalani relasi yang functionally okay — baik-baik saja, tidak ada konflik besar, tapi hambar. Seperti kopi tanpa gula: bisa diminum, tapi tidak memberi rasa puas.
Lalu muncul godaan: "Apakah aku masih dicintai? Apakah aku masih penting?" Dan ketika pertanyaan itu dijawab oleh orang lain — walau hanya lewat DM yang hangat — itu sudah cukup untuk memicu apa yang kita sebut "perselingkuhan emosional".
Selingkuh Juga Bentuk Komunikasi yang Gagal
Ironi terbesar? Sering kali, perselingkuhan adalah cara tidak langsung untuk bilang, “Aku butuh kamu.”
Alih-alih bicara blak-blakan tentang rasa terabaikan, banyak orang memilih jalan gelap: mencari validasi di luar. Ini bukan pembenaran, tapi diagnosis. Kita perlu mengakui bahwa budaya kita masih sulit membicarakan kerentanan. Laki-laki dibilang "kurang jantan" kalau ngomongin rasa sepi. Perempuan dikira "cengeng" kalau minta perhatian lebih.
Padahal, hubungan yang sehat bukan yang tanpa masalah, tapi yang bisa bicara soal masalah itu.
Bagaimana Harusnya?
Mungkin kita perlu mengubah cara pandang. Daripada terus menyalahkan individu sebagai "tidak setia", kita harus bertanya:
Apakah sistem hubungan kita mendukung keintiman?
Apakah kita meluangkan waktu sungguhan, bukan sekadar duduk bareng sambil main HP?
Apakah kita belajar mendengar, bukan cuma merespons?
Kota memang keras. Tapi justru di tengah hiruk-pikuk inilah kita butuh tempat pulang — bukan hanya ke rumah, tapi ke seseorang yang benar-benar hadir.
Penutup: Cinta Butuh Nutrisi, Bukan Cuma Komitmen
"Generasi selingkuh" mungkin istilah yang provokatif. Tapi di baliknya, ada gejala yang lebih dalam: kita semua sedang kelaparan akan kedekatan yang tulus.
Daripada terus menghakimi, mari introspeksi: apakah kita cukup memberi? Apakah kita cukup hadir? Karena cinta bukan cuma janji setia. Cinta adalah pilihan harian untuk melihat, mendengar, dan merawat satu sama lain — meski badan lelah dan kota tak pernah tidur.
Kalau tidak, bukan tidak mungkin, kita semua bisa jadi "korban" sekaligus "pelaku" dalam cerita yang sama.
