Konten dari Pengguna

Mengapa Indonesia Masih 'Tidur' di Tengah Badai Energi?

Bambang Riyadi

Bambang Riyadi

Praktisi ISO Manajemen Sistem dan Compliance.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Bambang Riyadi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pilihan Mendesak - Krisis atau Solusi | Chat Qwen.Ai
zoom-in-whitePerbesar
Pilihan Mendesak - Krisis atau Solusi | Chat Qwen.Ai

Mari jujur: krisis energi Asia bukan kejutan. Ia adalah konsekuensi dari kelalaian kolektif. Sementara negara lain bersiap, Indonesia masih asyik dengan debat politis, birokrasi berbelit, dan janji transisi energi yang tak kunjung nyata. Sudah saatnya kita berhenti menyalahkan keadaan dan mulai bertindak. Karena jika tidak, kita bukan hanya akan kehabisan energi—tapi juga kehabisan waktu.

Berani saya katakan: Indonesia sedang dalam denial.

Krisis energi Asia memanas. Harga BBM melonjak. Negara-negara tetangga berebut pasokan. Tapi di Jakarta, apa yang terjadi? Rapat koordinasi yang tidak menghasilkan aksi. Target energi terbarukan 23% pada 2025 yang diragukan pencapaiannya.

Dan yang paling menyedihkan: narasi "kita kaya sumber daya" yang terus diulang seolah-olah itu solusi.

Mari kita bedah realitas pahit ini.

Fakta 1: Potensi tidak sama dengan ketahanan.

Indonesia punya potensi energi terbarukan 417,8 GW. Luar biasa. Tapi potensi yang tidak dikembangkan hanyalah angka di atas kertas. Sementara itu, 60% kebutuhan energi masih dari batubara. Ketika harga global naik, kita yang paling terpukul.

Fakta 2: Impor adalah kerentanan strategis.

Stok minyak mentah hanya 3-4 hari. Bayangkan: jika terjadi gangguan pasokan—karena konflik, bencana, atau sabotase—Indonesia bisa lumpuh dalam hitungan hari. Ini bukan skenario film. Ini risiko nyata yang diabaikan.

Fakta 3: Birokrasi membunuh inovasi.

Proyek energi terbarukan sering terhambat bukan karena teknologi, tapi karena perizinan yang berbelit, ketidakpastian regulasi, dan ego sektoral. Sementara itu, krisis tidak menunggu birokrasi selesai rapat.

Lalu, siapa yang diuntungkan dari status quo?

Jawabannya tidak populer: mereka yang punya kepentingan pada model energi lama. Importir BBM. Pengusaha batubara. Birokrat yang nyaman dengan prosedur lama. Dan politisi yang lebih suka janji jangka pendek daripada investasi jangka panjang.

Tapi rakyat kecil? Mereka yang membayar harga tertinggi. Ketika subsidi BBM membebani APBN, yang dikorbankan adalah anggaran kesehatan, pendidikan, infrastruktur.

Ketika harga energi naik, inflasi merayap, daya beli masyarakat terkikis. Ini adalah pajak tersembunyi dari kegagalan kebijakan.

Sudah cukup dengan kritik. Saatnya solusi provokatif:

✅ Hentikan subsidi BBM fosil secara bertahap—alihkan ke insentif energi terbarukan.

✅ Buka keran investasi untuk energi bersih—permudah perizinan, berikan kepastian hukum.

✅ Bangun cadangan strategis nasional—minimal 30 hari untuk BBM kritis, didanai dari penghematan subsidi.

✅ Wajibkan audit ketahanan energi untuk BUMN dan perusahaan strategis—bukan sekadar kepatuhan, tapi kesiapan krisis.

✅ Libatkan masyarakat dalam transisi energi—dari tingkat desa hingga kota, beri mereka akses, pengetahuan, dan insentif.

Ini bukan resep instan. Tapi ini langkah konkret yang bisa dimulai hari ini.

Krisis energi Asia adalah cermin. Ia menunjukkan siapa kita: bangsa yang kaya sumber daya tapi miskin strategi, yang punya potensi besar tapi lamban beraksi.

Pertanyaannya: apakah kita akan terus menatap cermin sambil berdalih? Atau kita akan memecahkannya, lalu membangun sesuatu yang lebih baik dari pecahan-pecahan itu?

Waktu tidak menunggu. Energi tidak bisa diimprovisasi. Dan sejarah tidak akan memaafkan mereka yang diam saat badai datang.

Indonesia, bangun.