Nyala dari Warung Bu Sriyati

Praktisi ISO Manajemen Sistem dan Compliance.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Bambang Riyadi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Setiap subuh, sebelum azan dari musala kampung berkumandang, Bu Sriyati sudah menyalakan tungku arangnya. Asap tipis mengepul dari warung kecil di pojok gang, tempat ia berjualan nasi pecel selama tiga puluh dua tahun. Suaminya sudah lama tiada. Anak-anaknya merantau ke kota, jarang pulang. Yang tersisa hanya tungku, wajan, dan ingatan tentang almarhum bapaknya yang dulu sering berkata, "Urip iku urup, Nduk. Nek isa migunani, migunanana. Ora usah golek jeneng, cukup golek manfaat."
Hidup itu nyala. Kalau bisa bermanfaat, jadilah bermanfaat. Tak perlu mengejar nama, cukup mengejar makna.
Kalimat itu terngiang terus di benak Sriyati sejak ia masih remaja, saat bapaknya — seorang guru ngaji sekaligus tukang becak — mengajarinya bahwa hidup manusia ibarat lampu teplok. Ada yang menyala terang lalu padam cepat karena minyaknya boros dipakai buat diri sendiri. Ada yang nyalanya kecil tapi awet, karena dijaga untuk menerangi orang lain juga.
Pagi itu, seorang pemuda datang. Wajahnya kuyu, bajunya lusuh, matanya menunduk tak berani menatap orang. Ia duduk di bangku kayu paling ujung, memesan segelas teh saja — tanpa nasi.
"Cuma teh, Bu. Saya... belum ada uang lebih," katanya pelan.
Sriyati menaruh gelas teh, lalu tanpa banyak tanya, ia menyodorkan sepiring nasi pecel lengkap dengan telur ceplok di atasnya.
"Ini gratis. Nanti kalau sudah rezeki, bayar. Kalau nggak sempat bayar ya nggak apa-apa. Yang penting perutmu isi dulu."
Pemuda itu, namanya Tomo, awalnya menolak. Tapi Sriyati bersikeras. "Aku iki mung wong cilik, Le. Tapi selagi isih isa urup, tak enehi cahya sak isane."
Aku ini cuma orang kecil, Nak. Tapi selama masih bisa menyala, aku beri cahaya semampuku.
Tomo makan dengan mata berkaca-kaca. Ia bercerita, ia baru saja dipecat dari pabrik tempat kerjanya, sudah tiga hari tidak makan layak, dan malu pulang ke kos karena menunggak sewa. Sriyati mendengarkan sambil terus mengipasi bara di tungkunya.
Sejak hari itu, Tomo jadi pelanggan tetap. Awalnya makan gratis, lalu perlahan ia mulai membantu Sriyati mencuci piring dan mengangkat dagangan sebagai ganti. Tiga bulan kemudian, Tomo diterima kerja di sebuah bengkel, berkat rekomendasi salah satu pelanggan warung yang kebetulan pemilik bengkel itu.
Tahun-tahun berlalu. Warung Bu Sriyati tak pernah jadi besar, tak pernah viral, tak pernah masuk daftar kuliner hits. Tapi setiap pagi, selalu ada satu-dua orang yang duduk di bangku ujung, orang-orang yang sedang di titik terendah hidupnya, dan selalu pulang dengan perut kenyang serta harapan yang sedikit lebih terang.
Bertahun kemudian, saat usia Sriyati sudah renta dan tangannya mulai gemetar memegang sotil, Tomo — kini pemilik bengkel sendiri — datang membawa amplop tebal.
"Bu Sri, warung ini biar saya yang bangunkan ulang. Lebih besar, lebih layak."
Sriyati menggeleng pelan, tersenyum. "Ora usah, Le. Warung iki wis cukup. Sing penting, gantian kowe sing urup kanggo wong liya."
Tak usah, Nak. Warung ini sudah cukup. Yang penting, gantian kamu yang menyala untuk orang lain.
Tomo terdiam. Ia paham, warisan yang diberikan Bu Sriyati bukan resep pecel atau bumbu rahasia, melainkan satu falsafah yang kini menyala dalam dirinya sendiri: bahwa hidup yang bermakna bukan diukur dari seberapa besar nyalanya, melainkan seberapa banyak gelap yang berhasil ia terangi.
Dan di kampung itu, warung kecil beratap seng tetap berdiri — bukan sebagai tempat makan biasa, tapi sebagai pengingat bahwa cahaya sekecil apa pun, jika terus dijaga, cukup untuk membuat seseorang menemukan jalan pulang.
Tamat.
