Konten dari Pengguna

Punya 2.000 Follower, Tapi Nggak Ada yang Bisa Diajak Curhat

Bambang Riyadi

Bambang Riyadi

Praktisi ISO Manajemen Sistem dan Compliance.

Β·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Bambang Riyadi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi menunjukkan dualitas hidup online vs offline | Canva.com
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi menunjukkan dualitas hidup online vs offline | Canva.com

Beberapa waktu lalu, saya menerima DM dari seseorang yang tidak saya kenal baik. Isinya bukan promosi atau spam. Hanya satu kalimat:

"Aku sering nangis malem-malem, tapi feed-ku selalu aesthetic."

Saya diam. Tidak tahu harus jawab apa.

Tapi kalimat itu terngiang-ngiang β€” karena terlalu familiar.

Di era di mana jumlah follower bisa jadi ukuran "kesuksesan sosial", makin banyak anak muda yang hidup dalam paradoks:

Dunia maya penuh orang. Dunia nyata? Sepi.

🌐 Ironi Koneksi: Makin Terhubung, Makin Kesepian

Lihat saja timeline kita.

Ada yang lagi liburan ke Jepang. Ada yang dinner di rooftop Jakarta. Ada yang baru nikah, punya bayi, dapat promosi. Semua terlihat… sempurna.

Tapi coba tanya:

Siapa di antara mereka yang benar-benar kamu ajak bicara saat kamu hancur?

Siapa yang kamu telepon jam 2 pagi hanya untuk ditemani diam-diam lewat suara?

Banyak dari kita memiliki 2.000, 5.000, bahkan 10.000 follower β€” tapi saat butuh tempat curhat, jari berhenti di atas kontak. Karena takut jadi beban. Karena malu. Karena merasa, "Ah, hidup mereka kayaknya udah perfect, pasti nggak bakal ngerti aku."

Padahal, kemungkinan besar β€” mereka juga sedang sepi.

πŸ“‰ Data yang Mengejutkan: Kesepian Jadi Epidemi Generasi Muda

Kesepian bukan sekadar perasaan. Ia sudah menjadi epidemi kesehatan publik, terutama di kalangan urban.

Menurut survei LIPI (2023):

1 dari 3 remaja dan dewasa muda di kota besar Indonesia melaporkan gejala kesepian kronis β€” merasa tidak dimengerti, tidak punya tempat pulang secara emosional, meski aktif sosial.

Dan ironisnya, media sosial β€” yang seharusnya menyambungkan β€” justru memperparah rasa terasing.

Studi dari The Lancet Psychiatry (2022) menunjukkan bahwa semakin sering seseorang membandingkan hidupnya dengan konten media sosial, semakin tinggi risiko merasa tidak cukup baik, tidak dicintai, dan tidak penting.

Kita bukan hanya melihat highlight reel orang lain.

Kita juga dipaksa menjadi highlight reel diri sendiri.

🎭 Hidup Seperti Teater: Saat Feed Lebih Nyata daripada Diri Sendiri

Bayangkan:

  • Kamu stres karena uang, tapi posting foto makan di restoran hits.

  • Kamu habis putus, tapi unggah quote bijak dengan sunset.

  • Kamu ingin menangis, tapi story-mu penuh meme lucu.

Kenapa?

Karena kita belajar: yang dibagikan adalah yang "layak ditonton" β€” bukan yang "benar-benar dirasakan".

Sebuah penelitian dari Universitas Gadjah Mada (2024) menemukan bahwa 61% pengguna Instagram usia 18–30 tahun mengaku sengaja menyembunyikan kondisi mental buruk demi menjaga citra online.

Akibatnya?

Kita hidup dalam lingkaran setan:

Posting β†’ dapat like β†’ merasa valid β†’ butuh lebih banyak validasi β†’ sembunyikan rasa sakit β†’ makin kesepian β†’ butuh lebih banyak posting.

Dan siapa yang paling rentan?

Anak-anak kota. Anak Jaksel, Bandung, Surabaya β€” yang tumbuh di budaya "terlihat baik" lebih penting daripada "merasa baik".

🀝 Teman vs. Teman Online: Perbedaan yang Menyelamatkan

Teman sejati bukan yang like story-mu.

Teman sejati adalah yang:

Tahu kapan kamu pura-pura kuat.

Mau datang tengah malam bawa bubur saat kamu sakit.

Tidak langsung kasih solusi, tapi bilang: "Aku di sini."

Masalahnya?

Persahabatan dalam kedalaman mulai langka.

Kita punya banyak teman online, tapi sedikit tempat pulang emosional.

Dan ketika tidak ada ruang aman untuk berkata, "Aku capek," maka rasa sakit itu akan mencari jalan lain:

  • Gangguan tidur

  • Makan berlebihan atau tidak nafsu makan

  • Amarah yang tiba-tiba

  • Atau yang terburuk: ide untuk menyakiti diri sendiri

πŸ› οΈ Bagaimana Harusnya? Mulai dari Hal Kecil

Kita tidak bisa langsung mengubah sistem. Tapi kita bisa mulai dari diri sendiri:

  1. Stop memuji "tampang kuat": Jangan bilang "Wah, kamu hebat banget bisa survive kerja gila-gilaan!" β€” mungkin dia cuma belum kolaps.

  2. Ajak ngobrol yang jarang muncul: Kirim pesan ke teman yang akhir-akhir ini diam: "Hei, kamu baik-baik aja?" β€” tanpa ekspektasi respons cepat.

  3. Berani tunjukkan retakan: Bilang "Aku lagi down" itu bukan tanda lemah. Itu undangan bagi orang lain untuk jadi manusia juga.

  4. Cari komunitas mikro: Bukan yang banyak anggotanya, tapi yang saling peduli. Bisa grup kecil, support group, atau bahkan terapis.

✍️ Penutup: Kesepian Bukan Aib. Dan Kamu Tidak Sendiri

Kalau kamu membaca ini sambil menahan air mata,

dengar baik-baik:

Kamu tidak gagal karena merasa sepi.

Kamu tidak lemah karena butuh orang lain.

Kamu manusia β€” dan manusia memang butuh koneksi.

Followernya boleh sedikit.

Feed-nya boleh berantakan.

Yang penting:

Ada satu orang yang tahu versi aslimu.

Dan jika belum ada…

Mulailah dari memberi ruang pada dirimu sendiri untuk jujur.

Karena curhat bukan beban.

Curhat adalah cara kita bertahan hidup β€”

di tengah kota yang ramai, tapi terasa begitu sunyi.