Konten dari Pengguna

Sawah yang Tak Pernah Kering

Bambang Riyadi

Bambang Riyadi

Praktisi ISO Manajemen Sistem dan Compliance.

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Bambang Riyadi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Pak Wignyo sedang mencangkul di hamparan sawah hijau pedesaan Jawa dekat sungai di bawah terik matahari | Gemini.ai
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Pak Wignyo sedang mencangkul di hamparan sawah hijau pedesaan Jawa dekat sungai di bawah terik matahari | Gemini.ai

Pak Wignyo sudah empat puluh tahun menggarap sawah warisan bapaknya, sepetak tanah setengah hektar di pinggir Kali Progo. Sawah itu tak pernah menjadikannya kaya, tapi juga tak pernah membiarkannya kelaparan. Setiap panen, hasilnya cukup untuk menyekolahkan tiga anaknya sampai lulus SMA, meski tak satu pun sampai kuliah.

Anak bungsunya, Danu, adalah satu-satunya yang menetap di desa, membantu Pak Wignyo di sawah. Yang dua lainnya merantau ke Jakarta, jadi buruh pabrik dan sopir online. Setiap kali pulang, mereka selalu bercerita tentang gaji yang menggiurkan, tentang tetangga yang jadi juragan gara-gara ikut proyek properti, tentang teman yang kaya mendadak lewat judi online yang katanya "gampang menang".

Danu sendiri, di usia dua puluh tujuh, mulai gelisah. Melihat teman-teman sebayanya punya motor baru, ponsel keluaran terbaru, sementara ia masih menyabit rumput dan mencangkul di bawah terik matahari dengan penghasilan yang naik-turun mengikuti harga gabah.

"Pak, aku pengin coba usaha lain. Si Karto tetangga kita, tiga bulan lalu jual sawahnya, sekarang mendadak punya mobil. Katanya ikut investasi gitu, untungnya cepet," kata Danu suatu malam, sambil membantu bapaknya membersihkan cangkul.

Pak Wignyo tidak langsung menjawab. Ia menaruh cangkulnya, duduk di ambin bambu, lalu menatap padi yang mulai menguning di kejauhan, tersapu angin malam.

"Le, kowe ngerti ora, kenapa wong Jawa kuwi diajari nrimo ing pandum?"

Kamu tahu tidak, kenapa orang Jawa diajarkan untuk menerima bagian yang sudah ditetapkan?

Danu menggeleng.

"Nrimo iku dudu pasrah tanpa usaha, Le. Nrimo iku ngerti wates lan proses. Sawah iki, saben taun paling ora aku macul, nyebar wiji, ngrumat, ngenteni. Ora ana dalan cepet. Tapi asile jelas, ora ngapusi."

Nrimo itu bukan pasrah tanpa usaha, Nak. Nrimo itu paham batas dan proses. Sawah ini, setiap tahun paling tidak aku mencangkul, menabur benih, merawat, menunggu. Tidak ada jalan pintas. Tapi hasilnya jelas, tidak menipu.

"Terus soal Karto piye, Pak? Ndilalah dheweke saiki sugih," Danu masih penasaran.

"Karto dodol sawahe, kuwi haké dheweke. Tapi kowe kudu takon, sugihe kuwi soko ngendi? Nek soko investasi sing durung genah, utawa gambling, kuwi dudu rejeki sing mili, kuwi utang wektu. Cepet utawa alon, kabeh mesti bali menyang panggonane. Alon-alon waton kelakon, Le. Timbang kesusu, tiba, malah kelangan kabeh."

Karto menjual sawahnya, itu haknya. Tapi kamu harus tanya, kayanya itu dari mana? Kalau dari investasi yang belum jelas, atau judi, itu bukan rezeki yang mengalir, itu utang waktu. Cepat atau lambat, semua pasti kembali ke tempatnya. Pelan-pelan asal sampai tujuan, Nak. Daripada terburu-buru, jatuh, malah kehilangan semua.

Danu terdiam lama. Ia teringat, dua bulan sebelumnya sempat tergoda ikut aplikasi investasi bodong yang ditawarkan temannya, untung ia belum sempat transfer uang karena keburu diajak bapaknya memanen padi.

Tiga bulan kemudian, kabar mengejutkan datang: Karto ditangkap polisi. Uang hasil jual sawah dan uang belasan tetangga lain yang ia ajak "investasi" raib dibawa kabur bandar judi online yang selama ini ia ikuti diam-diam. Rumah barunya disegel, mobilnya ditarik leasing karena kreditnya macet.

Malam itu, Danu duduk lagi di ambin bambu bersama bapaknya, menatap sawah yang sama, hijau membentang di bawah cahaya bulan.

"Pak, aku ngerti saiki. Sing penting dudu cepet sugih, tapi sugih sing tenang," kata Danu pelan.

Yang penting bukan cepat kaya, tapi kaya yang tenang.

Pak Wignyo tersenyum, menepuk pundak anaknya. "Sawah iki ora tau garing, Le. Amarga awake dhewe ora tau mekso. Urip kuwi koyo tandur — sing sabar bakal panen, sing kesusu mung bakal ngenteni asile ilang digawa banyu."

Sawah ini tak pernah kering, Nak. Karena kita tidak pernah memaksa. Hidup itu seperti bertanam — yang sabar akan panen, yang tergesa hanya akan menunggu hasilnya hilang terbawa air.

Ilustrasi pak Wignyo duduk berbincang serius dengan Danu | Gemini.ai

Angin malam berhembus pelan, membawa aroma tanah basah dan padi muda — pengingat bahwa di desa kecil itu, di antara deru zaman yang serba instan, masih ada satu keluarga yang memilih menanam dengan sabar, dan menuai dengan tenang.

Tamat.