Green Sufisme dan Syahwat Tambang

Guru Besar UIN Jakarta
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Prof. Dr. Bambang Irawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kita menyaksikan banyak kampung tambang tak lagi diawali kicau burung. Debu halus di udara menjadi makanan harian. Debu menutup daun, meresap ke paru-paru. Tanah retak karena minimya hujan. Sungai yang dulu menjadi tempat anak-anak belajar berenang kini berwarna keruh. Airnya tidak lagi mengundang kehidupan. Pemandangan itu bukan metafora tapi nyata dan terus berulang, dari pesisir hingga pegunungan.
Di banyak wilayah tambang nikel, batubara, emas hamparan hijau berganti gersang. Bukit dipangkas, hutan dibelah, laut direklamasi dan dikeruhkan. Lubang-lubang menganga tertinggal sebagai “tanda kemajuan”. Janji kesejahteraan sering datang seperti spanduk. Janji itu jarang tinggal sebagai kenyataan. Yang dipertaruhkan bukan sekadar lanskap. Martabat hidup ikut digadaikan.
Krisis ini tidak berhenti pada teknologi atau regulasi. Akar krisis menembus ke ruang batin yang kotor. Syahwat rakus telah menjadi mesin. Keserakahan diberi nama investasi. Ketamakan dibungkus jargon transisi energi. Kerakusan diberi legitimasi izin. Dosa-dosa ekologis lalu berubah menjadi kebijakan yang tampak sah. Jiwa ikut retak ketika alam dibiarkan dilukai.
Sufisme memandang alam bukan benda mati. Alam hidup dan selalu bertasbih memuji Sang Pencipta. Setiap butir pasir, setiap daun, setiap aliran air membawa zikir yang tak putus. Alam bukan objek yang boleh diperas. Alam adalah ayat-ayat Tuhan yang dibaca dengan takzim. Tanah menyerupai kitab suci terbentang. Merusaknya serupa merobek halaman yang seharusnya dipeluk dan ditinggikan.
Ibn ʿArabi mengajarkan pandangan yang mengguncang kesombongan manusia. Seluruh wujud dipahami sebagai tajallī, pancaran kehadiran Ilahi dalam rupa yang beragam. Air menjadi rahmat yang bergerak. Tanah menjadi ibu yang sabar menanggung langkah. Pepohonan menjadi saksi yang meneduhkan. Kekuasaan manusia atas alam tidak pernah mutlak. Kekuasaan itu amanah. Amanah menuntut adab.
Rumi menyalakan pelajaran yang terasa dekat dengan hati. Air baginya bukan sekadar benda. Air adalah guru yang memberi tanpa meminta tepuk tangan. Air mengalir, mencari jalan, menyuburkan, menyejukkan. Air juga mengingatkan bahwa hidup bukan soal menimbun. Hidup adalah soal menghidupkan. Jiwa yang bersih tidak tega mengubah sungai menjadi saluran racun. Jiwa yang lembut tidak sanggup melihat mata air mati.
Pepohonan dalam etika para sufi bukan ornamen. Pepohonan adalah makhluk yang memuji. Daunnya berzikir dengan caranya. Rantingnya bersujud dalam sunyi. Satu pohon yang tumbang tanpa adab meninggalkan luka yang tidak terlihat pada neraca laba. Luka itu terasa pada banjir yang makin cepat. Luka itu terasa pada udara yang makin berat. Luka itu terasa pada panas yang makin panjang.
Zuhud sering disalahpahami sebagai benci dunia. Zuhud bukan itu. Ia adalah pembebasan dari kecanduan akumulasi. Zuhd adalah disiplin batin untuk berani berkata “cukup” ketika hasrat ingin terus menimbun. Zuhud melatih manusia agar tidak menukar masa depan dengan keuntungan sesaat. Pembangunan yang merusak kehidupan adalah kemunduran yang menyamar sebagai kemajuan.
Dampaknya sudah terpampang. Di kawasan tambang nikel, laut dangkal berubah cokelat. Terumbu karang memutih. Nelayan kehilangan ruang hidup. Di wilayah batubara, lubang bekas galian menjadi kubangan beracun. Sawah kehilangan air. Banjir datang lebih cepat. Di daerah emas, sungai tercemar. Kesehatan warga terganggu. Konflik sosial mengeras. Seluruh fragmen itu menyusun satu narasi besar. Nafsu yang tak terkendali selalu menuntut korban baru.
Sufisme menyebut sumber masalah itu dengan jujur. Syahwat yang dibiarkan memimpin akan memerintah tangan untuk merusak. Tazkiyat al-nafs bukan ritual privat semata. Ia etika publik. Ia memanggil keberanian moral untuk membatasi diri. Ia menuntut kemampuan mengoreksi arah. Ia mewajibkan kerja pemulihan. Kebijakan lingkungan akan tetap menjadi prosedur kosong ketika batin pelakunya tidak pernah belajar malu.
Izin bisa dibuat legal, laporan bisa direkayasa rapi. Angka pertumbuhan bisa disulap naik. Sufisme mengingatkan bahwa keadilan ekologis bagian dari keadilan spiritual. Menyakiti bumi sama dengan menyakiti sesama. Manusia dan alam terikat dalam satu jaringan kehidupan.
Green sufisme adalah kompas etika. Qanā‘ah membatasi akumulasi. Amanah menuntun pengelolaan. Rahmah mengarahkan kebijakan dan kesederhanaan. Kompas ini mengubah pertanyaan utama. Pertanyaan “berapa cepat kita menambang” kehilangan kemuliaan. Pertanyaan “berapa jauh kehidupan dipulihkan” menjadi ukuran yang lebih manusiawi.
Negeri ini kaya tapi juga rapuh. Kerusakan hutan, pencemaran sungai, krisis air bersih, konflik lahan, banjir kota, kebakaran lahan, dan polusi pesisir bukan sekadar isu teknis. Isu itu menyentuh martabat warga dan masa depan anak-anak. Mimbar perlu berani menyebut keserakahan sebagai dosa publik. Pesantren perlu mengajarkan ekologi sebagai adab dan akhlak. Majelis taklim perlu menyuarakan menjaga air dan tanah sebagai ibadah yang konkret. Komunitas sufi bisa menjadi pengawal kebijakan. Komunitas tarekat bisa menjadi pelindung warga yang rentan dan rumah pemulihan alam yang makin tandus dan gersang.
Pilihan ada di tangan kita. Generasi yang memuja lubang tambang akan mewariskan kegelapan. Generasi yang memulihkan tanah akan mewariskan harapan. Green sufisme mengajak melawan syahwat tambang dengan keberanian batin. Logika rakus dan tamak diganti etika cukup (qonaah). Dominasi kekuasaan diganti amanah. Kecepatan diganti kebijaksanaan. Tangan yang merusak tanah harus diganti cinta menanam. Hati yang dulu kebal bisa belajar menangis.
Alam terus bertasbih. Pendengaran batin manusia yang mulai tuli perlu disembuhkan. Kesunyian yang dulu mengandung zikir perlu dipulihkan. Air yang jernih perlu kembali menjadi rumah kehidupan. Tanah yang subur perlu kembali menjadi tempat sujud. Pepohonan yang rindang perlu kembali menjadi payung rahmah. Wajah baru tasawuf tampak di sini. Tasawuf yang tidak melarikan diri dari bumi tapi istiqamah menjaga bumi agar manusia tetap punya jalan hudhur (pulang) dan bertawajjuh dengan dengan damai pada Sang Pencipta.
