Konten Media Partner

26 Seniman Dalam dan Luar Negeri Pamerkan Karangan Bunga Khas Jepang di Lawang Wangi

BandungKiwari

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
26 Seniman Dalam dan Luar Negeri Pamerkan Karangan Bunga Khas Jepang di Lawang Wangi
zoom-in-whitePerbesar

Rangkaian bunga seni ikebana khas Jepang dipamerkan di Lawangwangi Creative Space, Jalan Dago Giri No. 99 Bandung. (Foto-foto: Iman Herdiana)

BANDUNG, bandungkiwari – Ikebana, sebuah seni merangkai bunga yang lahir dari kultur Jepang, hadir di Bandung. Sebanyak 26 seniman menyajikan karya ikebana mereka, tanaman lokal yang hidup di Indonesia menjadi media-media utama.

Pameran seni rupa bertajuk “[not]ARTofficial[?]: Out of Track” digelar di Lawangwangi Creative Space, Jalan Dago Giri No. 99 Bandung, Jawa Barat, 5 Oktober-5 November 2018. Pameran ini diikuti seniman ikebana dari dalam dan luar negeri. Semuanya 26 seniman dengan kurator Nia Gautama dan Andajani Trahaju.

Media-media yang mereka gunakan beberapa di antaranya dekat dengan kehidupan warga Bandung, khususnya orang Sunda, yakni pete. Media tersebut dipakai Evi Moeljo dalam ikebana berjudul “Life”. Pete-pete kecil yang biasa jadi lalapan atau dirujak, di tangan Evi ikebana berbentuk kipas angin. Selain pete, Evi melengkapi ikebananya dengan bunga, daun, dan rerumputan.

26 Seniman Dalam dan Luar Negeri Pamerkan Karangan Bunga Khas Jepang di Lawang Wangi (1)
zoom-in-whitePerbesar

Seniman Chiemi Nakajiwa memadukan karya ikebananya dengan seni keramik sebagai wadah bunga anggrek, bawang Bombay, cengek kering, dan kembang-kembang. Chiemi memberi judul ikebananya “Four Seasen”.

Lalu seniman Wiwiek Tonny Surono memamerkan karya berjudul “Simplicity”, yakni ikebana dari batang kayu yang bagian tengahnya bolong seperti tabung. Tabung kayu ini disangga dua botol bekas sirup, di bagian yang bolong “tumbuh” bunga anggrek.

Kemudian Richard Streitmatter-Tran, salah satu seniman dari Vietnam, menyajikan sebuah karya still-life berjudul “Nature Mortis” dari bahan tanah lempung yang diproduksi secara khusus di Lawangwangi Creative Space, Bandung, selama beberapa hari sebelum pamerna dibuka.

26 Seniman Dalam dan Luar Negeri Pamerkan Karangan Bunga Khas Jepang di Lawang Wangi (2)
zoom-in-whitePerbesar

Tamaki Morii, salah satu master ikebana dari Jepang, untuk kali pertamanya ke Bandung, Indonesia, menyajikan karya seni ikebana hasil kolaborasi artistik dengan Ryota Shioya yang juga seniman Jepang, karya mereka antara lain berjudul “Hazumi” dan “Monogoshi”.

Masih banyak lagi ikebana yang dipamerkan di Lawangwangi Creative Space, yaitu karya Andajani Trahaju, Caitlin Nishikawa, Deni Ramdani, Edwin Credo Makarim, Eldwin Pradipta, Erwin Windu Pranata, Hanako, Henryette Louise, Hollywinarni Jamihardja, Juliana Joe, Lestari Mulyanto, Maradita Sutantio, Milla Hardi, Mimi Safira Permana, Natas Setiabudi, Patriot Mukmin, Satako Yamane, Syaiful Aulia Garibaldi, Swasti Kania The, Toshiko Mizumoto.

Mereka menghadirkan ikebana dalam tafsir bebas dengan berbagai media dan Teknik seni rupa. Selain itu, pameran juga berusaha menggali ikebana dalam seni rupa kontemporer.

26 Seniman Dalam dan Luar Negeri Pamerkan Karangan Bunga Khas Jepang di Lawang Wangi (3)
zoom-in-whitePerbesar

Dalam catatan kurator Nia Gautama dan Andajani Trahaju, seni tradisional yang sakral dalam wacana seni rupa kontemporer sudah menjadi bagian dari sejarah berkembangnya praktik seni rupa kontemporer di Barat sebelum Perang Dunia Kedua hingga wacana seni rupa global saat ini. Proses elaborasi estetik dan kolaborasi lintas-disiplin seni memungkinkan pengetahuan dan pengalaman artistik yang baru dilahirkan.

“Demikian juga dengan karya seni rupa kontemporer tematik yang digelar dalam proses penciptaan dalam pameran ‘[not]ARTofficial[?]: Out of Track’ ini,” kata mereka.

Dalam pameran tersebut, seniman ikebana dan seniman kontemporer sama-sama menggarap karya dengan tema “nature as subject”, sebagai pokok soal utama. Diharapkan seniman kontemporer dan seniman ikebana saling merespons persoalan dan menyajikan karya masing-masing dengan rasa yang diolah secara personal oleh masing-masing seniman.

26 Seniman Dalam dan Luar Negeri Pamerkan Karangan Bunga Khas Jepang di Lawang Wangi (4)
zoom-in-whitePerbesar

“Seniman kontemporer membaca dan memaknai Ikebana dengan karakter karya masing-masing seniman. Di dalam pameran ini juga seniman kontemporer diberi kebebasan untuk tidak membuat karya Ikebana sesuai dengan konvensinya, termasuk penggunaan material non-vegetasi,” kata Nia Gautama.

Ia mengatakan, pameran “[not]ARTofficial[?]: Out of Track” menyajikan keberagaman bahasa artistik dari masing-masing senimannya. Publik dapat menyaksikan bagaimana budaya lokal sebagai sumber budaya menjadi struktur estetika di dalam karya seni rupa kontemporer ini.

Dalam mengikuti pameran, setiap seniman diberi ruang bebas untuk mengolah gagasan personal dalam tema besar ikebana. Mereka dapat memeriksa term Ikebana atau merespons persoalan ikebana dalam konteks hari ini di dalam wacana seni rupa kontemporer.

“Tentu saja, banyak hal yang menarik dari proses penciptaan masing-masing seniman ketika membaca ikebana hari ini. Dan, masing-masing seniman menyajikan karakter karyanya masing-masing untuk berbagi pengalaman artistik dengan publik di dalam pameran ini, termasuk mediumnya yang beragam,” ungkapnya. (Iman Herdiana)