kumparan
6 Nov 2018 13:18 WIB

Alasan Mengapa Film Horor Jadi Raja Perfilman Nasional

Talkshow “Culture In Visual Perspective” yang merupakan rangkaian International Photography and Short Movie Festival (IPSMF) Telkom University, di Gedung Damar Telkom University (Gedung K). (Iman Herdiana)
ADVERTISEMENT
BANDUNG, bandungkiwari – Film horor atau mistik ke depan diprediksi masih akan merajai perfilman nasional, baik di film layar lebar maupun di televisi. Karena itu, akan banyak produser film yang menganakemaskan film horor.
Mengapa fenomena itu bisa terjadi? Jawabannya sederhana. Menurut Benny Kadarhariarto, CEO DSLR Cinematography Indonesia (DCI), biaya produksi film horor lebih murah dibandingkan film genre lainnya.
Selain biaya, jumlah SDM dan lokasi pembuatan film horor juga tidak serumit pembuatan film lainnya.
“Film horor lebih murah, lokasinya 1 rumah, masukin 1 sampai 3 orang, teriak-teriak, selesai. Kalau masih mahal juga, masukin1 orang ke dalam rumah, kunci, teriak-teriak, selasai,” terang Benny dalam talkshow “Culture In Visual Perspective” yang merupakan rangkaian International Photography and Short Movie Festival (IPSMF) Telkom University, di Gedung Damar Telkom University (Gedung K), Senin (5/11/2018).
ADVERTISEMENT
Selain faktor biaya murah, respons penonton pada film horor juga positif. Menurutnya, orang Indonesia menggemari cerita-cerita mistis. Hal ini bisa dilihat dari banyaknya tayangan televisi yang memuat program cerita mistis.
“Maka produksi film horor akan dianakemaskan, karena murah dan laku,” sebutnya. Ia menyebut, film horor minimal ditontot 100 ribu penonton. Beda dengan film serius seperti film sejarah atau tentang pahlawan yang ditoton 30 ribu pun sudah alhamdulillah.
“Banyak film pahlawan yang tak laku di Indonesia. Ke depan horor akan jadi genre paling banyak dinikmati,” ujarnya.
Selain Benny, talkshow tersebut menghadirkan narasumber Direktur IFI Bandung Melanie Martini yang mengulas fotografi; Adrian Lee, dosen dari Malaysia yang juga sutradara film, dan Aep Wahyudin dari KPID Jabar. Talkshow ini ditengahi dosen Telkom University, Dini Aalmiyah Fithrah.
ADVERTISEMENT
Sementara Adrian Lee berbagi tentang menajamkan suatu ide pembuatan film. Menurutnya, sebuah ide film harus kritis dan memiliki cerita berlapis sehingga akan bikin penonton terkesan. Memang sebuah ide harus keluar dari kotak (out of the box), namun sebelum mengeluarkan ide tersebut sineas harus tahu dulu isi-isi di dalam kotak.
“Kalau tak tahu dalam kotak bagaimana mau berpikir di luar kotak,” tukasnya.
Ia mencontohkan, sebuah ide yang kritis dan berpalis misalnya film horor tentang kuntilanak. “Contoh kuntilanak ingin bercinta dengan manusia karena ingin jadi manusia. Dan kuntilanak itu inginkan harta pusaka (warisan),” katanya.
Benny sepakat bahwa sebelum berpikir keluar dari kotak memang harus mengetahui dalam isi kotak, artinya memahami semua rule dan pengetahuan tentang film. Menurutnya, ide akan keluar bersama pengalaman dan pengetahuan.
ADVERTISEMENT
“Artinya kita harus beri otak kita dengan vitamin-vitamin yang baik. Tiap hari kita nonton film atau melihat foto yang bagus-bagus. Ide yang keluar nantinya akan bagus-bagus juga,” katanya.
Benny menegaskan, membuat ide itu murah dan mudah. Yang susah dan mahal ialah melakukan dan mewujudkannya. “Kalau sekadar ide semua orang bisa,” tandasnya. (Iman Herdiana)
Tulisan ini adalah kiriman dari publisher, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan