Pencarian populer
PUBLISHER STORY
Awalnya Jual Lukisan di Pinggir Jalan, Karyanya Kini Mendunia
6 Desember 2018 18:31 WIB
0
0
Geleri Ropih di Jalan Braga, Bandung. (Foto-foto: Nadiya Riskyani, Mahasiswa Ilmu Komunikasi Telkom University)
BANDUNG, bandungkiwari - Pernahkah terpikir sebuah lukisan di tepian trotoar bisa mendunia? Ropih, seorang pelukis yang memulai kariernya di trotoar jalan, menjawabnya. Karyanya sudah terjual di dalam dan luar negeri seperti Malaysia, Singapura sampai negara-negara Timur Tengah dan Eropa.
Namun kesuksesan pria bernama lengkap Ropih Amantubillah atau akrab disapa Abah ini tidak dituai secara instan. Seniman kelahiran Bandung, 12 Februari 1959 itu mulai menekuni dunia seni lukis sejak usia 7 tahun. Ayahnya, Mumu Mitra, adalah seorang pelukis yang memiliki Sanggar Jiva Mukti. Dari lingkungan keluarga inilah yang membuatnya bersentuhan dengan seni lukis sejak dini.
Ropih memulai peruntungan kariernya saat duduk dibangku SMA, ia mulai menjadi penjual lukisan asongan di beberapa hotel di Bandung. Tak segan ia menawarkan lukisannya pada tamu hotel yang turun dari bus. Ia juga pernah melukis dan memajang lukisannya di pinggir jalan seperti yang dilakukan seniman lukis pinggir Jalan Braga.
Selain melukis dan berdagang lukisan, sepenggal hidup Ropih pernah dihabiskan menjadi guru. Ia menempuh pendidikan di Sekolah Pendidikan Guru (SPG), lulus pada tahun 1979 dan tahun itu pula ia mulai mengajar SD mengikuti sang ayah yang juga menjadi guru SD.
“Ada suatu kebahagiaan yang tidak ternilai, anak yang tadinya tidak bisa membaca jadi bisa membaca, yang tadinya tidak bisa menulis jadi bisa menulis. Betapa bahagianya saya sebagai seorang guru bisa mendidik murid saya menjadi orang yang bermanfaat”, ujarnya.
Kini hasil kerja kerasnya berbuah manis. Pelukis yang tadinya menjual lukisan di emperan jalan, kini memiliki Galeri Rumah Ropih di salah satu Kawasan elit di Bandung, yaitu Jalan Braga Nomor 43.
Ratusan lukisan dengan beragam gaya lukis, mulai dari realisme, naturalisme, ekspresionisme, abstrak hingga kaligrafi ada di galeri yang diresmikan 22 Mei 2011 itu. Harga lukisannya beragam, mulai dari Rp5 juta sampai lebih dari Rp50 juta.
Lukisan yang dijual tidak hanya lukisan karya Ropih saja, akan tetapi banyak hasil karya pelukis lain yang tidak kalah mengagumkan. Galeri ini semakin menarik karena terdapat ruang bawah tanah yang biasa digunakan seniman dan komunitas seni untuk mengadakan workshop, pameran, atau sekadar berkumpul. Harapan Ropih tak hanya pelukis berserta lukisannya yang bisa memanfaatkan galeri ini, tetapi bisa menjabarkan seni dalam bentuk yang lebih luas.
Baginya, melukis itu bebas, imajinatif, ungkapan jiwa dan rasa dari dalam diri. Berbeda dengan menggambar yang setiap sisi nya bisa dihitung karena menggambar itu ilmu eksak. “Melukis itu dorongan dari dalam jiwa dan saya selalu berpikir positif, bagaimana cara membangkitkan motivasi bagi saya maupun orang lain melalui karya,” tutur Ropih.
Ropih banyak membuat karya dengan media barang temuan seperti kulit pohon palem, serat atau pun kain karung. "Awalnya saya sangat tertarik dengan teksturnya," jelasnya. Dengan material itu ia merangkai bentuk-bentuk bebas berdasarkan figur-figur tertentu, tapi kebanyakan karyanya menggambarkan bentuk-bentuk pohon.
Ropih Amantubillah
Ropih banyak menggunakan simbolisasi dalam berkarya. Baginya, simbolisasi salah satu unsur penting dalam suatu lukisan. Ia menuturkan, Raden Saleh mampu membuat orang-orang Belanda ketakutan ketika melihat lukisan dua ekor singa yang mati oleh seekor banteng. “Singa sendiri melambangkan Eropa, Inggris dan Belanda, sedangkan banteng melambangkan Indonesia,” terangnya.
Lukisan-lukisan karya Ropih cenderung bercorak ekspresionisme, namun tetap memiliki kekhasan dalam penggunaan garis warna emas. Menurutnya, warna emas adalah simbol dari potensi positif yang ada pada diri manusia. Potensi ini harus digali dengan kerja keras. “Setiap orang memiliki tambang emas yang harus digali,” tandasnya.
Perjalanan hidup Ropih yang sejak kecil berada di lingkungan seni dan menjalani kehidupan yang tidak selalu mulus membuatnya begitu pandai memaknai kehidupan. Melalui karya ia tuangkan segala hal yang ada dalam jiwanya yang diharapkan dapat menjadi motivasi bagi orang banyak.
Hal yang terpenting baginya hidup harus memiliki makna dan manfaat, karena sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain. Para pahlawan terdahulu yang namanya harum sepanjang masa atas jasanya kepada negeri ini. Ia ingin namanya harum seperti bunga, minimal di hadapan keluarga dan anak-anaknya.
Penulis: Nadiya Riskyani, Mahasiswa Ilmu Komunikasi Telkom University


Tulisan ini adalah kiriman dari publiser, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember · ·
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2018 © PT Dynamo Media Network
Version: web: