Pencarian populer

Corak Budaya Tionghoa di Masjid Lautze 2 Bandung

Masjid Lautze 2 di Jalan Tamblong, Bandung. (Foto-foto: Ananda Gabriel)

BANDUNG, bandungkiwari - Masjid Lautze 2 menjadi salah satu masjid unik yang dimiliki Kota Bandung, Jawa Barat. Masjid yang terletak di jajaran ruko di Jalan Tamblong ini tak seperti rumah ibadah bagi kaum muslim umumnya.

Corak budaya Tionghoa dengan dominasi warna merah, hiasan lampu lampion, dan ornamen khas negeri China amat mendominasi dekorasi Masjid Lautze 2.

Masjid tersebut memang tak bisa dilepaskan dari pengaruh Tionghoa. Dibangun 22 tahun silam oleh mualaf Tionghoa bernama Oei Tjeng Hien atau dikenal Haji Karim Oei, Masjid Lautze 2 menjadi masjid berarsitektur China tertua di Kota Kembang.

Tampak dalam Masjid Lautze 2 di Bandung. (Foto-foto: Ananda Gabriel)

Sebelumnya, Haji Karim Oei mendirikan Masjid Lautze di daerah Pecinan Jakarta pada 1991. Selain tempat ibadah, Masjid Lautze sering digunakan untuk tempat untuk bersyahadat para mualaf, sekaligus menjadi tempat belajar agama, khususnya bagi warga Tionghoa. Sebab, di sana tersedianya tafsiran Alquran berbahasa Mandarin.

Di bulan Ramadan ini, kegiatan kerohanian di Masjid Lautze 2 lebih meningkat. Pada pagi hari, kegiatan difokuskan pada pengajian ibu-ibu, anak-anak, dan karang taruna.

Malam harinya, pihak Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) di Masjid Lautze 2 menggelar kegiatan salat tarawih berjemaah. Untuk pengisi kultumnya, DKM biasanya mendatangkan narasumber yang merupakan seorang mualaf yang akan bercerita tentang suka duka menjadi mualaf.

Masjid Lautze 2 juga menggelar kegiatan Takjil Off The Road. (Ananda Gabriel)

"Kita ingin mendengarkan kesan dan pesannya," kata Ketua DKM Lautze 2, Rahmat Nugraha, saat ditemui Senin (6/5).

Pemimpin salat tarawih di Masjid Lautze 2 merupakan binaan langsung dari Muzammil. "Dari 14 imam, 13 di antaranya Insyaallah akan mengisi tarawih kita dan membina mualaf kita," katanya.

Masjid Lautze 2 juga menggelar kegiatan Takjil Off The Road, yakni penyaluran makanan berbuka puasa kepada musafir yang berada di sekitaran masjid. Mereka menyiapkan 700 menu takjil dan makanan berat setiap harinya selama bulan puasa.

Persiapan kegiatan Takjil Off The Road. (Ananda Gabriel)

"Kita menyediakan 700 pax, isinya kurma sama satu air mineral, terus kita menyediakan makanan berat. Semuanya ini merupakan hasil simpatisan kepada Masjid Lautze (2)," kata Rahmat.

Menurutnya, donatur untuk takjil ini berdatangan dari berbagai kalangan. Bukan hanya kaum muslim, orang nonmuslim pun turut menyumbang.

"Dari Katolik Indonesia, Budha, dan yang lainnya ikut memberi donasi. Ini kan sifatnya sosial,” katanya.

Rahmat menegaskan, masjid tersebut ingin menunjukkan wajah Islam yang rahmatan lil alamin, toleran, dan terbuka untuk semua orang.

(Ananda Gabriel)

Tulisan ini adalah kiriman dari publisher, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.33